Showing posts with label 'Aqidah Crisis. Show all posts
Showing posts with label 'Aqidah Crisis. Show all posts

Thursday, February 13, 2014

Wednesday, December 4, 2013

Memahami Diinul Islam: al-Attas's Concept of Religion of Islam[1]

Oleh: Risna Inayah[2]

Agama dan teologi menjadi problem yang begitu rumit sekarang ini. Tuhan kini bisa dipahami dengan beragam macam cara dan pandangan, yang dapat menyebabkan pandangan yang beragam pula terhadap memahami agama. Jika pemahaman akan Tuhan keliru maka keliru pula pemahaman terhadap agama. Problem ini terjadi seiring dengan intensitas interaksi manusia yang semakin masif. Informasi dengan mudah dapat diakses sehingga berbagai kekeliruan akan semakin takterelakkan. Begitu kira-kira Dr. Wendi Zarman –direktur PIMPIN—membuka kuliahnya dalam pertemuan ke-3 Kuliah Pandangan Alam Islam III yang diselenggarakan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) pada sabtu, 19 Muharram 1435 (23/11/13) di ruang Lab Fisika lantai 2 Kampus Unikom Jl. Dipatiukur 112-114 Bandung.

Sebagai pengantar kepada inti materi, kepada lebih dari 30 mahasiswa perwakilan berbagai institusi itu Wendi menerangkan akan pentingnya memberi perhatian terhadap “bahasa” dan penggunaannya. “Sangat banyak persoalan kekacauan disebabkan oleh kekeliruan dalam penggunaan bahasa.” tuturnya. Bahasa adalah identitas. Ia merefleksikan pikiran manusia terhadap suatu objek. Mengutip ide Prof. Al-Attas,[3] Wendi menjelaskan bahwa bahasa mencerminkan bagaimana kita memahami realitas atau objek pengetahuan. Jika suatu nama disalahpahami maka akan terjadi kesalahan pula dalam memahami realitas, sehingga sesuatu akan dipahami tidak sebagaimana mestinya.

"Materi ini kuliah ini penting agar kita memahami apa dan bagaimana sesungguhnya Islam. Jangan sampai ia dipahami dengan konsep yang dikelirukan oleh pandangan dari luar Islam yang sering membawa efek merusak terhadap konsep yang sudah mapan." Tutur Wendi.

Memperjelas pendapatnya Wendi mencoba memberikan beberapa contoh kekeliruan penggunaan bahasa (baca: terminologi) yang banyak terjadi yang menyebabkan timbulnya beragam masalah pelik lainnya.

Kata "Allah" adalah salah satu yang belakangan hangat mencuat di alam Melayu. Konsep "Allah" yang selama ini kita ketahui sebagai milik Islam menjadi persoalan ketika digunakan penganut Kristen untuk menyebut Tuhan mereka. Bagaimana tidak, konsep Tuhan yang dimiliki keduanya jelas sangat lain. Jika hal ini dibiarkan maka kerancuan dan kekeliruan berpikir akan terjadi dalam masyarakat.

“Pluralisme” adalah contoh lainnya. Pluralisme diketahui luas sebagai pengakuan terhadap keberagaman, bahwa tak hanya agama tertentu yang eksis namun juga agama yang lain. Ia disamakan dengan toleransi, padahal tak sesederhana itu. Ia merupakan istilah filosofis yang mewakili keyakinan bahwa agama-agama memiliki kebenaran yang sama. Tidak ada yang lebih benar. Maka tak ada yang boleh dicela. Istilah ini tidak menghendaki adanya truth claim. Ia pun takkan pernah mengizinkan pernyataan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Padahal, lanjut Wendi, tidak ada gunanya beragama tanpa truth claim. "Jangankan dalam agama, dalam berorganisasi atau berpartai pun truth claim selalu ada," tegasnya.

Selanjutnya, suara-suara yang ramai bergema saat ini adalah “humanisme”. Ia umumnya hanya dipahami sebagai kepedulian terhadap nasib-nasib orang yang tertidas. Padahal lebih dari itu, secara konseptual “humanisme” menyimpan paham bahwa standar kebenaran ada pada manusia. Tentu sangat bertolak belakang dengan Islam yang menjadikan wahyu tanzil sebagai standar. Maka kemudian istilah “Islam humanis” menjadi istilah yang takbisa diterima karena rancu. Keduanya memliki konsep tersendiri. Muslim adalah muslim, dan humanis adalah humanis, tegas Wendi.

Setelah memaparkan beberapa contoh kekeliruan penggunaan bahasa (baca: istilah) Wendi lalu menerangkan bahwa kekeliruan ini pun terjadi pada istilah “Islam”. Islam yang kita pahami sebagai agama yang Allah turunkan melalui Muhammad saw. kini coba direduksi maknanya menjadi “penyerahan diri” semata. Padahal tak setiap yang menyerahkan diri itu Islam.

Spiritualisme dan Pengalaman Traumatik Barat[4]
Pemikiran keagamaan Barat masa kini oleh Wendi dibagi menjadi dua. Pertama, keyakinan bahwa suatu saat akan terjadi di mana akibat intensitas interaksi antar manusia yang begitu masif akan membuat pemahaman manusia akan keagamaan sama. Inilah yang disebut dengan Kesatuan Transendens Agama-agama (Global Theology) yang diusung salah satunya oleh John Hick.[5] Sementara yang ke-dua, intensitas interaksi manusia yang semakin masif justru akan membuat manusia berkesimpulan bahwa agama tidak lagi diperlukan sebab semua rahasia sains sudah terungkap. Hal ini diungkapkan oleh Auguste Comte. Meski lain, kedua pemikiran ini lahir dari rahim yang sama, yaitu perjalanan sejarah Kristen yang traumatik.

Doktrin Kristen pada masa lalu sangat membatasi peranan akal. Dalam teologi kristen hidup adalah hukuman. Adam telah bersalah, dan diturunkannya ia ke bumi adalah hukuman. Bagi mereka dunia adalah kelam. Tidak ada gunanya bagi mereka mengetahui apa itu dunia. Maka Kristen pernah melarikan diri dari kehidupan dunia. Maka pada masa yang disebut sebagai "the dark age" itu pengetahuan tentang alam samasekali tidak berkembang di Barat.

Wendi lalu menggambarkan bagaimana tindakan mahkamah inquisi Spanyol sebagai tangan Tuhan mengebiri kerja akal manusia dengan memberi penyiksaan yang luar biasa terhadap apapun yang berpotensi menggugat otoritas Gereja. Penyiksaan yang Wendi sebut ‘kreatif’ ini pun tejadi pada para beberapa ilmuwan yang mencoba mengungkap teori hasil penelitiannya namun bertentangan dengan otoritas gereja. Hal ini juga tak lepas dari persoalan teologi dalam Kristen memang tidak jelas (problematik). Maka pengalaman traumatik ini membuat Barat menyingkirkan agamanya dari kehidupan.

Sementara di Barat demikian, di belahan dunia bagian Timur pengetahuan tentang alam sedang berkembang begitu pesatnya. Hal yang tiada lain berangkat dari konsepsi Islam dalam memandang alam (kawn). Ayat-ayat al-Quran sendiri banyak memerintahkan untuk mencari tahu apa itu alam.

Ada sebuah ungkapan bahwa ilmu pengetahuan Islam maju karena agama, sementara ilmu pengetahuan Kristen maju karena menjauhi agama. Ini memang benar, kata Wendi. Kemajuan sains Barat berlatar belakang pengalaman traumatik tersebut kemudian membuat revolusi pada alam pikir Barat yang mengalihkan perhatiannya dari akhirat menuju dunia. Agama adalah perhatian kepada akhirat . Agama adalah dongengan dan takhayul. Maka ia pada akhirnya tersingkir atau disingkirkan dari kehidupan karena dianggap sebagai problem yang menghalangi kemajuan. Inilah yang dikenal dengan sekularisme.

Namun demikian keterpisahan Barat dari agama menimbulkan kekeringan spiritual yang mendalam. Mereka kemudian mencoba meraih kembali agama namun didekatkan dengan sains untuk menghilangkan takhayulnya, dicari-cari kejelasan rasionalnya untuk menjadi masuk akal.

Ia bernama spiritualisme. Spiritualisme adalah cara beragama yang tak menghiraukan Tuhan. Spiritualisme dan agama tentu berbeda. Malas dengan "Organized Religion" karena dianggap sebagai terlalu banyak mengatur, maka ia diganti dengan spiritualisme. Para penganutnya meyakini bahwa secara fisik dalam otak manusia terdapat yang disebut sebagai "godspot". Inilah perangkat tempat di mana keyakinan akan ketuhanan bekerja. Titik ini yang membuat manusia merasa relijius. Dengan inilah mereka mengklaim sebagai sudah berserah diri (Islam).

Padahal, menyinggung pertemuan sebelumnya terkait Konsep Tuhan yang disampaikan oleh Irfan Habibi Martanegara, kata Wendi, kita tak bisa berbicara agama tanpa berbicara tentang tuhan. Mengutip al-Attas seorang filsuf sekaligus mujaddid masa kini Wendi menjelaskan "Bagaimana mungkin kita berbicara agama tapi tidak berbicara tentang Tuhan?" Ini sama halnya dengan pernyataan "Bagaimana mungkin seseorang mengelusnya rambutnya sementara ia botak?" lanjutnya.

Intensitas interaksi manusia yang semakin masif yang meniscayakan pemikiran tertentu berlalulalang secara bebas ini pada akhirnya singgah dan mengendap juga dalam pemikiran sebagian muslim. Mereka umumnya adalah yang kecewa dengan pengalaman keagamaannya. Mereka pun menjadi penentang paling keras terhadap Islam walau secara formal mengaku beragama Islam.

Maka sejalan dengan yang terjadi di Barat, di Indonesia pun paham spiritualisme ini mengemuka. Ia disajikan dalam berbagai seminar bertema kecerdasan spiritual. Spiritualisme menjadi dagangan yang laku sebab mampu menarik simpati berbagai kalangan dengan berbagai latarbelakang agama dan keyakinan. Maka tak heran seminar ESQ bisa menjadi begitu laku dan Quantum Ikhlas Erbe Sentanu bisa menjadi sebuah buku bestseller. Mencampuradukkan berbagai keyakinan keagamaan sebagai materinya, spiritualisme juga menjadi akar dari penyamaan semua agama (pluralisme), sebuah persoalan akidah masa kini.

Agama dalam Pandangan Islam

Kekeliruan pemaknaan Islam yang sedemikian genting tentu perlu diakomodasi, tutur Wendi. Tradisi keilmuan Islam yang mengagumkan –atas dasar agama ini—menghendaki perkembangan pengetahuan yang juga begitu mengagumkan dalam hal bahasa, selain sains dan teknologi. Para Ulama ilmuwan muslim sejak dulu telah mengodifikasi konsep-konsep kunci Islam dalam berjilid-jilid kitab untuk menjaga keutuhan maknanya. Maka dalam hal ini sangat perlu merujuk kepada literatur otoritatif tersebut untuk mengembalikan kemurnian makna-makna pada tempatnya, termasuk dalam memaknai Islam.

Konsep diin Islam yang akan coba menjawab persoalan ini merujuk kepada konsep yang diterangkan Prof. Al-Attas dalam bukunya Islam dan Sekularisme –sebuah karya yang Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud sebut sebagai bersifat kulli. Ia merupakan konsep yang dinilai baru sebab pemaparan konsep yang seperti ini memang ‘lain’–walau sesungguhnya jika dilihat pada literatur ulama muktabar lainnya akan dapat ditemukan benang merah konsep tersebut. Konsep diin yang tegas akan mampu menghalau kekeliruan yang coba mencampuri konsepsi Islam yang sesungguhnya, bahwa tidaklah benar Islam berarti berserah diri dan berserah diri adalah Islam sehingga siapapun yang berserah diri menjadi layak dikatakan Muslim.

Saking pentingnya materi tentang konsep Diin ini, kata Wendi, "The Religion of Islam" menjadi mata kuliah tersendiri di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization)[6] yang wajib diikuti mahasiswa dari berbagai konsentrasi studi.

Prof. Al-Attas dalam menuangkan konsepnya ini merujuk pada definisi yang diberikan Ibnul Manzhur dalam Lisaanu l-'Arab –sebuah kamus leksikon bahasa Arab klasik yang disusun sekitar abad ke 7-8 H.[7] Lebih lanjut Wendi memaparkan bahwa Diin secara etimologis berasal dari kata daana (dyn).[8] Daana ini memiliki berbagai makna. Salah satu di antara maknanya adalah keberhutangan. Hutang ini sebagai modal perniagaan yang dipinjamkan Allah swt. kepada manusia. إن الإنسان لفي خسر (Q.S. al-‘Ashr [103]: 2). Modal yang dipinjamkan itu adalah kehidupan manusia sendiri. Maka segala yang dimiliki manusia bukanlah miliknya.

Modal ini semakin lama akan semakin menyusut nilainya dan tentu semuaya akan berujung pada kemusnahan. Maka, agar manusia tidak merugi keberhutangan ini harus disadari sebagai tidak mungkin terbayar kecuali dengan kewujudannya sendiri di bumi, yakni dengan beribadah dan beramal shaleh. Pengembalian (pembayaran hutang) ini lanjut Wendi ibarat hujan yang dikembalikan ke langit. Hal ini merujuk pada firman Allah: و السماء ذات الرجع (ar-raj') (Q.S. ath-Thariq [86]: 11). Ar-raj' dimaknai para ulama sebagai hujan, sebab air hujan itu senantiasa akan kembali naik ke atas. Air hujan yang naik kemudian akan turun sebagai berkah. Siklus yang sama terjadi pada manusia jika mereka mengembalikan hutangnya. Ia pun akan mendapat berkah.

Dalam setiap pengembalian hutang atau modal pinjaman biasanya seseorang akan mendapat laba. Maka diin adalah perniagaan dengan Allah. Laba dalam perniagaan dengan Allah berarti pahala/balasan sebagaimana firmanNya dalam Q.S. as-Shaf [61]: 10: "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?" dan Q.S. Fathir [35]: 29: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,"

Diin yang kedua bermakna kekuasaan Hukum. "Permberi hutang akan dapat menguasai orang lain dengan memberinya hutang." kata Wendi. Maka ketika seseroang dihutangi, ia akan melakukan apapun untuk yang memberinya hutang. Artinya karunia Allah swt. terhadap manusia memberiNya kekuasaan hukum atas manusia sehingga manusia menghamba kepadaNya. Di sini ada pengakuan manusia atas otoritas Allah. Otoritas yang menyebabkan kekuasaan, penghakiman, dan pengadilan oleh Allah swt. atas manusia sebagaimana bunyi Q.S. al-A’raf [7]: 172 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",”

Makna lain Diin yang ketiga adalah penyerahan diri. Ini dari sisi manusia. Manusia telah dibebani/memiliki kewajiban (dayn) karena diberi kehidupan sebagai hutang, maka ia berserah diri dan taat terhadap pemberi hutang (Allah). Namun penyerahan diri ini dilakukan secara sadar bukan terpaksa (bukan takluk/pemaksaan diri), ia melibatkan komponen hati, lisan, dan perbuatan. Hal ini sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. an-Nisa [4]: 125 bahwa berislam yang terbaik adalah berserah diri secara sukarela, "Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya."

Terakhir, Diin berarti kecenderungan alamiah (fitrah). Ketaatan manusia pada Allah swt. adalah suatu kecenderungan alamiah, sebab memang itulah tujuan penciptaannya (eksistensinya). “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” terang Allah swt. dalam Q.S. adz-Dzariyat [51]: 56. Maka kezhaliman/kekacauan berarti sesuatu yang telah bergeser dari tempat yang semestinya. Ini keadaan yang melenceng dari fitrah. Maka jika fitrah/kecenderungan ini ditaati sebaliknya akan timbul keadilan, keharmonisan, keselarasan, kesejahteraan, dan keselamatan dalam kehidupan manusia.

Keempat makna ini (Keberhutangan => kekuasaan hukum => penyerahan diri => kecenderungan alamiah) berada dalam satu medan semantik yang membentuk konsep yang ajeg dalam "Diinul Islam". Dengan demikan makna ini tak lagi dapat diubah dan dimaknai dengan pelbagai makna yang sembarang. Begitulah kesimpulan Wendi menutup kuliahnya.


Bandung, 27 November 2013_


=========================
[1] Tulisan ini berdasarkan catatan kuliah Pandangan Alam Islam #3 pertemuan ke-3 PIMPIN pada sabtu, 19 Muharram 1435 H (23/11/13) di ruang Lab Fisika lantai 2 Kampus Unikom Jl. Dipatiukur 112-114 Bandung. 

[2] Mahasiswi Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, aktif di Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Islam (PIMPIN) Bandung.

[3] Gagasan Prof. Al-Attas terkait bahasa salah satunya dapat dibaca dalam karya beliau berjudul “The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education” atau terjemahan dalam Bahasa Indonesia berjudul: “Konsep Pendidikan dalam Islam: Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam” oleh Haidar Bagir, diterbitkan Mizan pada Sya’ban 1407 H/April 1987 EB.

[4] Lebih lanjut tentang pengalaman traumatik keagamaan di Barat ini dapat ditemukan dalam karya Prof. Al-Attas berjudul “Islam and Secularism” atau terjemahan dalam bahasa Indonesia berjudul “Islam dan Sekularisme” yang diterjemah dan diterbitkan PIMPIN Bandung pada tahun 2010 M. Atau juga dapat dibaca dalam “Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal” karya Dr. Adian Husaini, (Jakarta: Gema Insani, 2005 EB).

[5] Kajian terhadap konsep ini dapat juga dibaca dalam buku yang baru saja diterbitkan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) berjudul “Pluralisme Agama: Telaah Kritis Cendekiawan Muslim”.

[6] Sebuah fakultas pemikiran dan peradaban Islam di International Islamic University of Malaysia (IIUM) yang direkabangun oleh Al-Attas sendiri untuk mewujudkan gagasan Islamisasi-nya.

[7] Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1407 H/1987 EB), hlm. 18.

[8] Konsep Diin ini secara khusus dan komprehensif dapat dibaca pada sub judul III "Islam: Faham Agama dan Asas Akhlaq" dalam Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, (Bandung: PIMPIN, 2010 EB), hlm. 65-120.

Monday, October 14, 2013

Ada Bedah Buku "Pluralisme Agama, Telaah Kritis Cendekiawan Muslim" di Unpad

Di tengah makin maraknya konflik antarumat beragama dan juga pertanyaan mengenai nasib umat agama lain di akhirat sana, muncul pemikiran baru memberikan alternatif pandangan bagi sebagian orang. Pemikiran ini bernama pluralisme agama.

Paham ini mengangankan robohnya sekat-sekat antar agama dimana semua agama dapat berdamai dan berjalan bersama menuju keselamatan dan kebenaran yg diinginkan semua manusia. Paham ini juga mewartakan pandangan baru tentang kebenaran, bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah dan sama pula benarnya menuju Tuhan yg sama.

Monday, September 30, 2013

Buku Baru Insists "Pluralisme Agama, Telaah Kritis Cendekiawan Muslim"


Di tengah makin maraknya konflik antarumat beragama dan juga pertanyaan mengenai nasib umat agama lain di akhirat sana, muncul pemikiran baru memberikan alternatif pandangan bagi sebagian orang. Pemikiran ini bernama pluralisme agama.

Paham ini mengangankan robohnya sekat-sekat antar agama dimana semua agama dapat berdamai dan berjalan bersama menuju keselamatan dan kebenaran yg diinginkan semua manusia. Paham ini juga mewartakan pandangan baru ttg kebenaran, bahwa semua agama adalah jalan yang sama sama sah dan sama pula benarnya menuju Tuhan yg sama.

Akibatnya kebenaran dan keselamatan menjadi begitu lumer. Setiap agama apapun nama dan bagaimana pun bentuk ritusnya, ialah sama-sama jalan yg sah menuju keselamatan dan kebenaran yg diangankan sebagai abadi. Buku ini mencoba memberikan jawaban bagi kerancuan paham pluralisme agama tersebut. Bahwa tidaklah benar kebenaran dan keselamatan ada di semua agama.

Buku ini diikhtiarkan untuk menjawab pandangan-pandangan rancu yg membahayakan akidah ini.

Tertarik dengan buku ini?
Silahkan hubungi Pimpin Bandung di :
ITB (085659030344)
Unpad (08891031933 / 087822856032)
UPI (08990220222)
Unikom (08891031933)
Atau ke
085720238886 (Bandung)
087725750239 (Ciamis dan sekitarnya)

Friday, September 20, 2013

Dakwah Persis di Pelosok Sumatera (Sumsel, 4/7/13-29/7/13)*

Dakwah adalah entitas takterpisahkan dari Islam, sebab eksistensi risalah Allah di muka bumi amat bergantung padanya. Dakwah Islamiyah yang berlangsung sejak lebih dari 14 abad yang lalu –untuk mengingatkan manusia akan siapa dirinya, penciptanya, apa tujuan hidupnya, serta berbagai konsekuensinya-- itu masih akan terus berlangsung meski Islam sudah menjadi salah satu agama terbesar di dunia, sebab konfrontasi antara haqq dan bathil akan terus terjadi selama pancang bumi masih kokoh.

Di sisi lain, dakwah juga menjadi tanggungjawab sosial setiap muslim yang dapat berimplikasi pada terciptanya sebuah tatanan masyarakat yang ideal, yaitu masyarakat madani, yang manusianya ta’at menjalankan kehendak Penciptanya. Bahkan menurut M. Natsir dakwah merupakan unsur terpenting dalam membangun sebuah peradaban. Kata Beliau dalam sambutannya terhadap buku terjemahan “Ilmu Da’wah” karya Dr. Abdul Karim Zaidan:
“Adalah suatu fakta sekarang ini, bahwa da’wah merupakan lapangan yang sangat penting dan utama sekali, baik dilihat dari pandangan agama maupun dari segi pertumbuhan bangsa yang sedang membangun. Makin banyak masyarakat membicarakan pembangunan makin terasa bagaimana ketergantungannya pada manusia, faktor insan yang amat menentukan, apakah akan berhasil ataukah tidak?, sekian baik rencana dan cukup matang pengolahannya namun bergantung pula pada manusia yang akan melaksanakannya, sedang manusia itu adalah untuk muthlak yang tidak dapat dinilai sekedar dari segi ratio dan tenaga saja, tetapi juga dari segi dlamir dan rohaninya. Dalam hal ini Agama Islam memberikan sumbangan yang amat berharga karena dia mengandung ajaran-ajaran yang diperlukan benar oleh bangsa yang sedang membangun. Islam cukup mempunyai manhaj, suatu cara membangun manusia yang akan melaksanakan pembangunan itu. Itulah tujuan da’wah!”[1]

Thursday, September 19, 2013

Jurig

Jurig itu kenangan masa muda dulu (masa bocah). Sekarang rasanya nonton horor tu... apa siih --.--"
Atau mungkin keseraman film horor zaman dulu benar-benar seram alias agak berkualitas ketimbang film-film horor sekarang?

Ah, tak penting itu.

Menemani keponakan berusia 3 tahun yang hobi nonton horor ala trans7, ada beberapa hal klise terkait horor Trans7 yang ingin saya statusisasi.

Trend horor Trans7 berkutat pada menanamkan keyakinan di benak pemirsa bahwa jurig adalah arwah gentayangan yang dulunya mati penasaran. Arwah tersebut masih akan terus gentayangan selama urusan dunianya belum terselesaikan. Namun yang menjadi urusan dunianya itu khas -melulu persoalan kematian tragis dan kasusnya belum terselesaikan, bukan hutang yang belum dibayar, misalnya.

Yang difilmkan itu (melulu lagi) episode yang melibatkan sekawanan remaja cewek cowok berpakaian casual, yang cewek ada yang berrok mini, juga celana denim yg dari bawah smpe atas ketatnya minta ampyun. Yang cowok berkaos distrow dan kadang berrompi atau berkupluk.

Sekawanan muda-mudi itu melakukan perjalanan jauh atau dekat yang tiba-tiba menjebak mereka pada situasi horor. Mereka terpaksa harus berada di situ untuk mengungkap misteri dan menyelesaikannya.

Salah seorang di antara mereka punya indigo -mampu melihat penampakan-penampakan yang tak nampak oleh kawan-kawannya yang lain. Dari penampakan yang dialami seorang indigo itulah cerita dimulai.

Singkat cerita, Si indigo bertugas menjadi jendela misteri karena mampu melihat penampakkan termasuk melihat kasus masa lalu si jurig, kawan-kawannya yang lain yang mengeksekusi cara-cara yang ditunjukkan si indigo secara runut. Sedikit demi sedikit misteri horor yang melibatkan mereka pun terungkap.

Akhirnya tugas membantu urusan dunia si jurig selesai. Si jurig pun mendadahi kawanan muda-mudi itu seraya mengucap terimakasih dan salam perpisahan sambil tersenyum semanis-manisnya, tak menampakkan raut muka horor lagi.

Dadahan si jurig dibalas sekawan muda-mudi yang telah menuntaskan misinya itu dengan dadahan lagi. Sampai si jurig menghilang. Karena arwahnya sudah tenang, karena kasus mati tragisnya sudah terselesaikan. Hiduplah si jurig dengan tenang di alam barzakh.

"Akhirnya..." kata mereka setelah si jurig ngaleungit -sambil senyum dan membuang napas setelah menghirupnya dalam-dalam.

Tapi,

salah seorang di antara mereka malah berlaku ceroboh dan memulai urusan dengan jurig lain.

-TAMAT-

mulailah drama baru misi penyelamatan jurig dari kerangkeng kasus kematian tragisnya di Urban Legend yang ke-2
rame pisan --.--"

JIL < Transformasi Akhir Penggalau | Tangani Penggalau Mula dengan Persuasi

Ada orang menderita kegalauan berat saat berada pada fase remaja akhir memasuki usia dewasa. Kegalauan yang dialami oleh sebagian banyak orang ini biasanya ditandai oleh sikap apatis terhadap hidup, yang tak jarang membuatnya berperilaku aneh. Manakala orang lain seusianya giat dalam berbagai aktivitas, ia cendrung murung atau justru sebaliknya melakukan apa yg hanya ingin dilakukannya.

Pada saat itu mereka bisa mudah terpengaruh oleh apa yang datang dari luar atau malah justru sebaliknya sulit menerima apa yang dari luar dirinya, lebih suka melakukan apa yang ia mau.

Mereka sedang mempertanyakan berbagai hal mendasar dalam hidup.

Mereka yang tidak mendapatkan penanaman identitas diri yang cukup sejak dini dari orang tuanya sebagai lingkungan pertamanya akan mengakumulasikan pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian meledakkannya manakala lingkungan tak mampu memberikannya jawaban yang memuaskan.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup inilah hal utama yang sesungguhnya perlu dijawab para penyeru aqidah haniif.

Terhadap mereka ini baiknya dilakukan persuasi. Lebih banyak mendengar untuk membantu memecahkan problem mereka, termasuk di antaranya menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar soal agama. Mengapa begini, mengapa begitu.

Setelah melewati masa-masa kritis itu mereka yang tak mendapatkan jawaban memuaskan ada yang teralihkan perhatiannya oleh aktivitas-aktivitas kebanyakan muda-mudi lainnya, menguapkan pertanyaan-pertanyaan tersebut begitu saja, namun ada juga yang malah balik mnyerang apa yang semula tidak mampu memberinya jawaban memuaskan. Yang terakhir ini akan menjadi ancaman yang berarti terhadap Islam karena bisa merusak dari dalam. Maka tak jarang kita temukan banyak pemuda muslim yang sudah pandai mencaci agamanya sendiri, yang jika terus dibiarkan akan mengkristal hingga dewasa. Hasilnya? lihat produk-produk galau itu pada organisasi yang menamakan diri mereka Jaringan Islam Liberal.

Tapi sayangnya cara persuasi ini sering diabaikan orang yang menamakan dirinya sebagai ummatan yaduuna ilal khayr wa ya`muruuna bi l-ma'ruuf wa yanhauna 'ani l-munkar. Akibatnya mereka ini masih dan akan selalu sendirian di lingkungannya, tak mampu memberikan perubahan berarti, karena jualan mereka tak disukai konsumen. Ia melulu hanya berteman dengan sesamanya, tapi lingkungannya tak pernah berubah. Wujuduhu ka'adamihi kalau kata pepatah Arab. Atau bahkan mereka yang menjadi seperti bangkai ikan di lautan yang rasanya berubah asin?

Wallaahu A'lam bi sh-Shawaab_

#refleksi

Tuesday, September 3, 2013

Benih Nasionalisme, Sebuah Sintesis Sayah :D

Saya tiba-tiba berpikir...

Mungkin, dulunya benih-benih 'nasionalisme' (atau apalah namanya) itu muncul dari sebuah tuntutan untuk act locally (you surely know this phrase "Think Globally Act Locally" which means "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal.")

(Tuntutan untuk act locally ini pun sebenarnya sejalan dengan prinsip mu'amalah yang diajarkan dalam Islam. Prinsip mu'amalah dalam Islam mengutamakan kerabat ketimbang orang jauh. Dalil tentang ini pun sangat banyak kita temui)

Yang membuatnya menjadi sebuah isme (ideologi) --yang oleh sebagian orang ditempatkan dalam posisi sebuah 'keyakinan' yang harus mengorbankan diri karenanya; yang karenanya juga sebagian lainnya menentangnya karena berani-berani berusaha mencoba menyejajari otoritas tuhan dengan ideologi buatan manusia yang mesti dikuduskan-- adalah kecintaan yang 'berlebihan', takberalasan, dan konyol.

Bagaimana tidak disebut takberalasan dan konyol? Adalah na'if bila seseorang dituntut untuk mengorbankan diri demi bangsa, takjelas apa atau siapa yang harus dibela --nama bangsanya kah; pemerintahnya kah; atau rakyatnya --yang tentu dalam memilih mana yang kudu dibela menurut Islam pun harus pilih-pilih.

Karena ketakjelasan itu maka tak jelas pula apa manfaatnya; apa yang bisa kita terima dari pengorbanan itu --apakah kecintaan dan pengorbanan itu dapat menyelamatkan kita di kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang atau tidak? Betapa tidak dikatakan konyol berkorban mati-matian untuk sebuah ketakjelasan. Malah justru berusaha menyejajari otoritas Tuhan dengan sesuatu yang tidak memiliki otoritas adalah kebodohan dan kekonyolan terbesar yang dalam Islam menjadi kesalahan besar dan mampu mengategorikan pelakunya sebagai pelaku dosa teratas.

Kita pun tahu dari sirah bahwa betapa kaum muhajirin (termasuk Rasulullah Saw.) dulu begitu merindukan Makkah alMukarramah tanah kelahiran mereka, dan menangis terharu kegirangan ketika futuh Makkah mengantarkan mereka kembali ke sana.

Namun cinta ini tentu bukan cinta yang mengarahkan para pecintanya untuk memberhalakannya sehingga menomorsatukannya di atas segalanya.

Tentu rasa mencintai sesuatu karena telah lama membersamai kita itu sebuah kodrat. Terlebih Makkah bagi Muhajiriin adalah kenangan paling berkesan yang ditinggalkan para punggawa risalah Allah sejak dulu, sejak Allah mengutus NabiNya Ibrahim As.


'alaa kulli haal, itulah mengapa sifat ghuluw/ishraf (berlebihan) itu dicela dalam Islam. Karena ia dapat seketika mendekatkan para pelakunya kepada dosa teratas yang dapat membuat Empunya otoritas tertinggi -Allah Swt. murka.

wallaahu a'lamu bish-shawaab_

Saturday, July 6, 2013

Tebar Intelektual Muslim ke Pelosok

Intelektual muslim terlalu banyak menumpuk di kota-kota besar, pelosok jadi sasaran empuk para misionaris.

Desa Tegalrejo Kecamatan Belitang adalah sebuah desa berjarak sekitar 180 km dari kota Palembang, Sumatra selatan yang jika menggunakan kendaraan pribadi dapat ditempuh dengan 5 jam perjalanan (minimal). Desa tersebut hanya dapat diakses melalui satu jalur yaitu jalur yang melalui bnyak desa, hutan, perkebunan karet, dan lain-lain. Karenanya, menyusuri jalan ke desa tersebut seakan melaui jalan takberujung.

Penduduk desa Tegalrejo umumnya orang-orang perantauan dari jawa tengah & jawa timur. Namanya saja Tegalrejo. Ketika saya mengunjungi desa ini untuk sebuah tugas, saya takmerasa seperti berada di pulau sumatera, tetapi pulau jawa, sebab hampir seluruh penduduknya berbicara khas 'jowo', medok.

Saturday, June 15, 2013

Jeneralisasi Ainur Rofiq

Jeneralisasi merupakan salah satu yang menjadi serabut akar konflik. Begitu mudahnya orang menjustifikasi kesalahan individu sebagai kesalahan kelompok. Nila setitik rusak susu sebelanga.

Ini pula akar sering terjadi di Indonesia. Apalagi, selain kaya sumber daya, Indonesia juga kaya kelompok sosial (Agama, ras, suku, budaya, organisasi, dan lain-lain) yang rentan eksploitasi yang mengarah kepada konflik sektarian untuk memenangkan satu ide tertentu pihak-pihak yang "berkepentingan".

Dalam makalah berjudul "Gerakan Transnasional Suriah; Refleksi untuk Indonesia" yang dimuat Dina Y. Sulaeman (seorang pengamat politik timur tengah) dalam blognya http://dinasulaeman.wordpress.com/ , Dr. Ainur Rofiq Al-Amin seorang dosen politik Islam IAIN Surabaya mengungkapkan sebuah analisis yang saya nilai tak berimbang.

Saturday, April 27, 2013

Against Feminism, Against Masculinity means Against Egoism


bagaimana menghilangkan perasaan ketertindasan dari kaum perempuan oleh rezim yang bernama laki-laki???? (Oops!!)

sikap kaum laki-laki yang merasa diri "lebih" dari pada perempuan memang menjadi awalmula penyebab dari berjamurnya gerakan feminisme di dunia, terlebih saat mendapat legitimasi dari teks suci (baca: Bibel). Jika begitu, yang mesti dilakukan kaum laki-laki adalah menghilangkan egonya. ego yang menyebabkan kebanggaan diri atas kelebihan beberapa potensi kodrati yang dimilikinya, bahwa ia bukanlah alat untuk menghendaki kemunculan superioritasnya serta menganggap kaum perempuan inferior, namun menjadikannya sebagai anugerah untuk melengkapi yang tidak lengkap pada perempuan dalam kaitannya dengan kelanjutan hidup di dunia.

Pergerakan-pergerakan yang mengatasnamakan pembelaan terhadap perempuan ini signifikasi penyebarannya bisa karena kesamaan nasib perempuan di berbagai tempat atas perlakuan diskriminatif oleh kaum laki-laki, atau bisa juga hanya karena mengikuti tren, karena imperialisme pada saat itu menjadi super power yang menghendaki objek jajahan melihat mereka sebagai sesuatu yang "indah menakjubkan" dan mesti diikuti. sisi baik sekaligus sisi buruknya. Ibarat mawar, harum baunya,indah susunan kelopak dan warnanya sekaligus tajam durinya.

Friday, December 28, 2012

ku ajak kamu (setidaknya memiliki kemungkinan) untuk memasuki Surga

Ya, memang, Tuhan kita mungkin sama, seperti apa yang diwacanakan oleh para pluralis: berjalan menuju titik yang sama.

Tapi tidakkah kamu ingin ta'at terhadapNya? Dia berwasiat terhadapmu melalui Nabi dan kitab suci mu* untuk mengikuti petunjuk terakhir yang Allah titipkan kepada Muhammad (alQuran, yang keasliannya dijamin langsung olehNya), Dia telah mengalihkan titahNya dari beriman kepada Nabi-Nabi kaum kalian kepada nabi terakhir nabi seluruh ummat, ini berlaku sejak Allah mengutus Muhammad, Nabi dan Rasul terakhir.

Apa yang menghalangimu untuk berserah diri untuk menerima petunjuk baru itu? kebodohanmu terhadap sejarahkah? atau egomu? Bukankah ego adalah kebodohan yang paling bodoh? yang mampu menutupi hatimu pekat? Ego adalah berhasilnya syetan menutup hatimu dari masuknya cahaya, dari taat kepada nabi dan juga kitabnya.

Jika bergitu, berarti sebetulnya kamu bukan taat kepada nabi dan kitabnya, juga bukan kepada Tuhanmu yang telah berwasiat melalui keduanya. kamu, juga bukan berjuang atas nama agamamu namun atas nama syetan yang membisikimu, sebab agamamu mewasiatkan untuk taat kepada nabimu.
itu berarti: berserah diri (memeluk Islam)

________________
*the original hollybook

Thursday, December 27, 2012

Novel Muhammad-nya Tasaro GK, mengaburkan pandangan

menarik!! melaui dwilogi novelnya "Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan & Para Pengeja Hujan", Tasaro mengajak pembaca menjelajah alam imperium megah Persia belasan abad silam (di belahan dunia lain saat Allah mengutus seorang Rasul terakhir 'Muhammad' di tanah tandus Arab: tandus atmosfernya, tandus moralitasnya` pada waktu yang sama), menyusuri tiap sudutnya melalui berbagai detil yang sangat menakjubkan: Karya-karya megah nan modern (pada zamannya) rancangan seorang arsitektur perempuan muda Atusa; gadis-gadis cantik bermata hijau Madain yang dibalut dalam busana mewah berwarna mencolok namun anggun; Fesenjun kampung kaya rempah penggugah selera yang dimasak penuh perasaan oleh Putri Turandokht (Putri mantan penguasa Persia Khosrou II); detil ritus Zarathustra dan keimanan terhadap Ahuramazda yang ditampilkan sebagian orang Persia yang ingin mengembalikan kemurnian ajarannya; tak lupa seorang sarjana pilihan istana Sang Pemindai Surga: Kashva yang memiliki misi yang sama, melakukan pencarian yang melelahkan dan berdarah-darah demi menemukan sosok nabi terakhir yang diramalkan oleh semua kitab suci, yang akan menerangi alam dunia dengan cahayanya sehingga enyah semua kegelapan...
Muhammad, Maitreya, Astvat-Ereta, Himada, Sang Penggenggam Hujan..

andai imajinasi saya saat membaca novel ini difilmkan, akan menjadi film berkelas dengan biaya produksi yang mahal... :)

novel ini cukup menunjukkan keluasan wawasan penulisnya walau saya tak yakin dengan beberapa bagiannya, yang sadar atau tidak (terutama pada korespondensi antara Kashva dan Elyas, sebuah surat balasan Elyas kepada Kashva pada buku pertama) terdapat kampanye pluralisme yang mengaburkan kebenaran mutlak yang dimiliki agama.

biarkan terbang

Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,