Showing posts with label perempuan. Show all posts
Showing posts with label perempuan. Show all posts

Monday, November 11, 2013

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (4)

Ini komentar Dina Sulaeman terhadap catatan saya beberapa waktu yang lalu, cek di sini,  Dina menuduh saya memfitnahnya tanpa mau bertabayun kepada saya, bahkan malah saya diblok dari friendlistnya di facebook.

Tapi, usut punya usut, ini ternyata memang kebiasaannya, ia tak segan akan memblokir seseorang dalam friendlistnya di FB jika tak sepaham dengannya (menyatakan ketidaksepahamannya). Sebab ini pun pernah terjadi pada beberapa teman saya lainnya. Seorang di antaranya adalah bu Erma. Saya masih ingat, ketika itu, sebelum saya berteman dengan Dina Y. Sulaeman di facebook (apa setelah berteman sebentar ya? saya lupa, pokoknya gitu deh) Bu Erma pernah mengeluhkan dirinya diblock Dina dari friendlistnya hanya karena tak sepaham pandang soal konflik Suriah. Jika Bu Erma ‘secara kebetulan’ sepandang dengan media mainstream barat (begitu juga media-media Islam Indonesia lainnya), Dina ‘tetap konsisten’ menunjukkan ketakberpihakannya pada Israel, dan tentu sejurus dengan itu Dina mengambil sikap ‘anti barat’ dan ‘anti media barat’. Dina dalam berbagai tulisannya mengampanyekan bahwa (apa yang disebutnya sebagai) konflik antarmadzhab (antarmadzhab yee :P) sengaja secara kompak diblow-up oleh media mainstream Barat ‘didukung’ oleh media mainstream Islam Indonesia itu untuk mengalihkan perhatian dari konflik sebenarnya, yaitu konflik Israel-Palestina. ooyeeaaaahh!!!

____________
Ohya, Dina memang seharusnya tak terusik tak bergeming ketika ada tulisan yang mencoba menyerangnya, Ia seorang publik figur kontroversial, tentu hal biasa baginya. Merasa terusik seperti itu hanya akan menunjukkan kelemahannya. Tapi sepertinya Dina menuruti saran saya itu, sebab ia tak pernah lagi membahasnya. :P

Tapi, btw, untuk apa pula saya masih saja membahas Dina Y. Sulaeman?
Cukupi saja lah, apa anda tak takut dengan ancaman konsekuensi ‘mengghibah’ dan ‘memfitnah’ sebagaimana hadits yang oleh Dina kutip dalam komentarnya terhadap tulisan anda tempo lalu??
Oh no, this is not a part of ‘me’. Saya hanya sekadar merenung tentang beberapa hal yang bertubrukkan dalam otak saya lalu saya curhatkan di sini. Semoga dengan begitu keterpusingan saya bisa terobati. Bukan begitu, saya hanya merasa bersedih karena kecewa didepak olehnya dari friendlistnya, padahal saya ngefans. Tapi, tidak tidak, bukan begitu, saya hanya kecewa karena Dina yang baik hati ternyata bersekongkol dengan mereka untuk mengecewakan saya.

Ya, Dina menelanjangi media Islam mainstream untuk menunjukkan seolah ia seorang jurnalis yang adil. Namun ia adil hanya tatkala menyerang sunni. Di kemanakan fakta-fakta kekejian Bashar al-Asad yang banyak itu? tak pernah ia sebut. Begitukah jurnalis yang adil?

Ssttt…. Sudah lah, jangan bersedih…. Coba simak dulu di bawah ini, lalu kamu bisa melanjutkan kesedihanmu. Hiks hiks..

Di jumlah total pembaca ke-2000an tulisan sederhana saya soal siapa Dina Y. Sulaeman, Ada beberapa perkembangan informasi terkaitnya yang perlu saya catat di sini. Pertama, Otong Sulaeman, suami dari Dina Sulaeman yang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Filologi FIB Unpad yang prodi tersebut diketuai oleh dosen pembimbing skirpsi saya Prof. syarif Hidayat (panjang juga keterangannya, maaf ya kalau gak bisa nafas dulu bacanya) kini sedang melakukan penelitian filologi penting di Iran. Dina ikut dalam penelitian tersebut bersama suaminya ke Iran.

Dari situ saya tahu, Dina, mahasiswi teladan pertama se-fakultas sastra & teladan kedua se-Universitas pada masanya ini memang sangat berprestasi. Ini saya ketahui dari tulisannya yang berjudul Pentingnya Sejarah yang menceritakan sekelumit pengalamannya dan suaminya saat melakukan penelitian itu di Iran beberapa waktu yang lalu. Dina dan suaminya selain pandai berbahasa Inggris dan Arab, juga bahasa Persia, lisan maupun tulisan.

Dina dalam berbagai tulisannya memang kerap membuat terjemahan dari bahasa Inggris maupun Arab. Terjemahan itu selalu mengikutkan link tulisan aslinya, meski tak yakin juga apa para pembacanya suka mengakses link tersebut atau tidak. Terjemahannya sangat baik, mengalir, enak dibaca, dan mudah dicerna, seolah bukan terjemahan.

Soal bahasa Persia, sejak pertama menerima beasiswa studi di Iran, Dina barang tentu sudah mempelajarinya. Sebab tak mungkin sekolah di luar negeri tanpa menguasai bahasa setempat. Ini juga ditonjolkan Dina dalam beberapa tulisan terakhirnya ketika menceritakan soal penelitian filologi suaminya. Otong berdiskusi dengan seorang Rektor Univ. Ferdowsi terkait naskah-naskah kuno ketika berusaha menjelaskan apa itu arti filologi dalam bahasa Persia. Katanya, orang Iran tak mengerti apa itu filologi karena memang akademisi Iran tak menemukan kesulitan yang berarti ketika membaca naskah-naskah kuno tersebut, jadi tak perlu memelajari ilmu-ilmu khusus seperti itu. Hal ini lain dengan di Indonesia, yang bahkan menurut filolog Titin Nurhayati Makmun pun penelitian terhadap naskah-naskah kuno yang penting ini masih teramat minim, hanya dapat dihitung jari. Huh, apatah lagi kalau semua orang Indonesia bisa mengakses (baca: memahaminya), malahan ia dikeramatkan oleh sebagian orang karena dianggap suci.

Kedua, Dina Suleman yang beberapa bulan yang lalu masih mengurusi administrasi untuk melanjutkan studi doktoralnya di HI Unpad, kini sudah pede memajang namanya dengan embel-embel “Mahasiswa Program Doktor Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Peneliti Global Future Institute” di setiap tulisannya. Nampaknya memang, ia serius, bahkan sangat serius dengan studinya, sangat kompak dengan suaminya.

Saya jadi tambah galau (walau skripsi saya belum kunjung selesai), studi apa ya yang selanjutnya mau saya ambil? Budaya, Linguistik, atau filologi?

Alternatif terakhir ini baru saya tertariki setelah membaca beragam buku terkait hermeneutika dan usaha pengaplikasiannya dalam studi al-Quran, juga buku-buku terkait sejarah melayu-Indonesia, terutama buku Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu Prof al-Attas, juga makalah Titin Nurhayati Makmun terkait studi naskah keagaamaan di nusantara yang ternyata di nusantara (baca: Melayu) ini khazanah budaya dan intelektual keIslaman teramat melimpah, sementara studi terhadapnya sangat minim. Ditambah keseriusan Otong Sulaeman yang bikin saya mendidih, pasalnya, koq saya nggak serius sejak awal????!!!!! Saya baru sadar kalau ternyata kuliah di jurusan sastra Arab itu beeeeerrrrraattt sekali. Maka saya pernah mempertanyakan, mengapa Unpad tak membuka fakultas khusus soal Oriental dan Islamic Studies?? Bahan kajiannya itu luas banget broo!! Nggak kuat!!

Alaa kulli haal, ini barangkali patut kita jadikan renungan dan pelajaran, bahwa dalam kompetisi antara haqq dan bathil ini kita tak semestinya membuang-buang waktu untuk hal-hal tak berfaidah. Dina dan keluarganya ini tentunya cukup untuk dijadikan inspirasi, bahwa kita harus semakin keras berusaha. Peluh harus semakin banyak tercucur, mata harus semakin sedikit terlelap,
semoga Allah memberkahi siapapun yang berjuang di jalanNya.. aamiin..

Selain itu, ketiga, hal lain yang ingin saya ungkapkan di sini. Pasca dua seri memoir saya tentang Dina saya terbitkan (memang kedua tulisan tersebut belum agak cukup untuk menunjukkan siapa Dina), seorang aktivis Muslimah Hizbut tahrir Indonesia yang juga ngefrend di FB tiba-tiba mengirim message/chat ke saya
"hei
Risna saya baca postingan blog kamu tentang bu Dina
Masalah kamu sepertinya kerangka berfikir
Kamu harus melepaskan label, gerenalisasi, dan menilai orang dari fakta yang zhahir saja.
kenapa kamu gak nanya langsung ke bu Dina saja tentang beliau.
Bu dina itu orangnya terbuka. Beliau pernah main ke DPP Muslimah HT untuk penelitian
dia ngoblol banyak dan secara pandangan politik banyak kesamaan walaupun dalam banyak hal lain dia gak setuju.
Syi'ah di Indonesia lebih banyak prasangkanya daripada faktanya.
Ada banyak aliran syi'ah dan kita gak bisa generalisasi."
Barangkali si Teteh itu tak membaca tuntas tulisan saya, apatah lagi membaca tulisan-tulisan Dina di blognya (???). Bahwa Dina tak pernah sedikitpun menaruh simpati pada Hizbut Tahrir. Untuk membuktikannya, silakan saja baca tulisan-tulisannya, tak pernah ada pujian untuk HT, apalagi untuk usaha-usahanya ideologisnya, bahkan justru secara tidak langsung mencacinya, membongkar aib-aibnya, lihat saja pada tulisannya yg memuat gambar MHT sedang berdemonstrasi di ….. soal gambar yang MHT muat di situsnya. Atau baca tulisan Ainur Rofiq yang secara sukarela dimuat Dina dalam Blognya yang menunjukkan bahwa Dina mendukung benar-benar gagasan Ainur Rofiq itu, bahwa HT bagi Dina termasuk dalam kategori takfiri (selain salafi wahabi) yang kekuatannya jika tidak dibendung akan mengancam keutuhan NKRI, tidakkah itu saja sudah jelas?

Then,

Allaahu a’lam bi sh-shawaab_

Friday, June 14, 2013

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (2)

Belakangan ini ada seseorang yang selalu mengganggu pikiran saya, siapa? bukan lawan jenis, tapi teman sejenis. beliau itu Bu Dina Y. Sulaeman.

Dina??? Siapa? ( baca juga: Siapa Dina Y. Sulaeman (1))
Saya kenal beliau (meskipun tidak secara langsung) sejak dumay ramai berbicara soal konflik Suriah. Diam-diam, meskipun saya bukan seorang pengamat politik terlebih pendidikan saya bukan dari politik, tapi di dumay (facebook) saya banyak berkawan dengan orang-orang politik (PKS<= Ikhwanul Muslimin Indonesia, Hizbut Tahrir, dll), 2 kelompok pertama ini karena memang sejak pertama kali masuk Unpad saya menyadari ada 2 kekuatan politik yang memang cukup kuat peranannya di kampus ini. Mereka punya tempat tersendiri dalam pikiran saya dengan segala bentuk persoalannya.

Diam-diam, meski saya bukan seorang pengamat politik (diulang) tapi newsfeed facebook saya dipenuhi postingan terkait, sebab saya memang punya banyak kawan penyuka/pengkaji politik, saya pun jadi tak bisa menghindar untuk ikut berpikir, berbicara, dan berkomentar soal politik (suggested).

Saya bukan sama sekali antipati terhadap persoalan politik, dan memang pernyataan saya di atas tidak berarti demikian.

Nah, Bu Dina ini (secara latar belakang pendidikan formal) memang bukan dari politik, tapi lebih dari itu beliau berbicara politik sebab beliau seorang pengamat politik internasional. Beliau lulusan magister Hubungan Internasional Unpad setelah sebelumnya meraih gelar sarjana dari Jurusan Sastra Arab Unpad. Jadi pas sekali, beliau ini seorang pengamat dan pengkaji persolan timur tengah, bukan hanya persoalan politik tapi juga aspek-aspek lainnya. Dan kebetulan saat ini politik timur tengah memang sedang ramai-ramainya disoroti karena sedang bergolak.

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (1)

Dina Y. Sulaeman?? Siapa?
Tulisan ini bukan untuk menjawab siapa itu Dina Y. Sulaeman, namun semacam 'curhatan' pencarian. Begitulah.

Mungkin ada di antara pembaca yang tidak mengenal beliau. Tapi beliau ini cukup terkenal di kalangan orang-orang yang concern dengan media, jurnalisme, dan pemikiran. (saya pun sebetulnya belum lama mengenal beliau, he)
_____
Beberapa bulan yang lalu (entah beberapa pekan yang lalu, lupa kapan tepatnya), saya menemukan sebuah status yang beliau tulis dari news feed facebook yang saya lupa itu hasil like atau share-an salah seorang teman saya yang mana.

Saya bisa bedakan mana tulisan yang baik dan tidak walau saya akui saya belum termasuk ke dalam kategori 'lihai'. Singkat kata, Karena saya tertarik dengan tulisan dalam status tersebut, saya add saja empunya status. Syukur,  friendlist beliau saat itu belum full (sebab sekarang sudah full). Tak lama, saat membuka kembali akun facebook beberapa jam setelahnya saya lihat notification ternyata beliau sudah confirm friend request saya, alhamdulillaah. Ini termasuk cepat, sebab umumnya "orang penting" jarang menghiraukan friend request orang yang biasa-biasa saja alias nggak terlalu/ enggak penting.

Selanjutnya, saat saya  scroll mouse sedikit ke bawah, saya temukan status-status 'renyah' beliau. Saya masih ingat saat itu salah satu status beliau soal peluncuran buku terbarunya berjudul "Prahara Suriah" yang diterbitkan oleh Pustaka IIMaN yang di covernya terpampang beberapa wajah yang terlibat termasuk Bashar alAsad yang tepat berada di tengah-tengah covernya.

Saya like status tersebut (karena saya kagum sama orang-orang yang punya karya, hhe). Kemudian saya langsung komentari status tersebut, "Buku ini apa masuk juga ke toko buku Tisera Bu?", seketika beliau langsung balas komentar saya berikut mention nama saya, "Oh, di Tisera Jatos ya, insyaAllah ada.. :)" katanya. Sudah balasnya cepat (banyak juga yang berkomentar dan memang dibalas dengan balasan serupa), mention nama saya, pake emoticon, lhaa tau pula yang saya maksud itu Tisera Jatos… Bu Dina ini ramah sekali, memangnya siapa saya.. :P. kali aja beliau stalking2 saya dan liat kalau "kita itu satu almamater", kalii aja, :D

Finally, karena penasaran saya stalking balik akun facebook beliau. Ternyata beliau ini seorang alumni sastra Arab Unpad juga. Ya, 'kita' memang satu almamater. Beliau juga menyantumkan studi magister di jurusan Hubungan Internasional (HI) Unpad di information-about-nya. Setahu saya juga melaui status-status facebook lainnya, beliau kini juga sedang sibuk mengurusi administrasi mempersiapkan kelanjutan kuliah doktoralnya di jurusan yang sama di Unpad setelah mendapat restu dari suami beliau, katanya.

Saya semakin senang saja, karena jarang-jarang saya menemukan seorang lulusan sastra Arab, perempuan, kritis, intelektual, produktif menulis, dan sudah menerbitkan cukup banyak buku.

Wednesday, May 1, 2013

Perjuangan Jilbab Kami


Baca artikel tetang sejarah hijab nusantara yang ditulis Kak Sarah Mantovani (http://thisisgender.com/hijab-indonesia-sejarah-yang-terlupakan/), jadi ingat barang 16 tahunan yang lalu, saat Ibu mulai memakaikan kerudung di atas kepala saya di hari pertama masuk sekolah dasar.

Oya, zamannya Ibu-Ibu kita kuliah, barangkali zamannya revolusi jilbab yang Kak Sarah bilang di paragraf-paragraf terakhir artikelnya itu. Dulu, katanya Ibu pernah ikutan Usrah (Usrah itu satu akronim yang entah apa singkatannya saya lupa), yang jelas itu satu kelompok kajian Islam yang dari penuturan beliau saya kira masih mirip-mirip sama gerakan tarbiyyah yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin. Kalau ia, saya terka mungkin ini gerakan awal-awal mereka memasuki ranah akademisi (baca: mahasiswa) meski perkembangannya pada saat itu belum sesignifikan sekarang secara kuantitas.

Saturday, April 27, 2013

Against Feminism, Against Masculinity means Against Egoism


bagaimana menghilangkan perasaan ketertindasan dari kaum perempuan oleh rezim yang bernama laki-laki???? (Oops!!)

sikap kaum laki-laki yang merasa diri "lebih" dari pada perempuan memang menjadi awalmula penyebab dari berjamurnya gerakan feminisme di dunia, terlebih saat mendapat legitimasi dari teks suci (baca: Bibel). Jika begitu, yang mesti dilakukan kaum laki-laki adalah menghilangkan egonya. ego yang menyebabkan kebanggaan diri atas kelebihan beberapa potensi kodrati yang dimilikinya, bahwa ia bukanlah alat untuk menghendaki kemunculan superioritasnya serta menganggap kaum perempuan inferior, namun menjadikannya sebagai anugerah untuk melengkapi yang tidak lengkap pada perempuan dalam kaitannya dengan kelanjutan hidup di dunia.

Pergerakan-pergerakan yang mengatasnamakan pembelaan terhadap perempuan ini signifikasi penyebarannya bisa karena kesamaan nasib perempuan di berbagai tempat atas perlakuan diskriminatif oleh kaum laki-laki, atau bisa juga hanya karena mengikuti tren, karena imperialisme pada saat itu menjadi super power yang menghendaki objek jajahan melihat mereka sebagai sesuatu yang "indah menakjubkan" dan mesti diikuti. sisi baik sekaligus sisi buruknya. Ibarat mawar, harum baunya,indah susunan kelopak dan warnanya sekaligus tajam durinya.

Thursday, February 14, 2013

“Ibu” Profesi Paling Prestisius dan Penuh Gengsi

‘tek...kretek. . . kretek. . . . . kretek . . . .’ sebuah benda bulat lonjong semakin berurat retakannya. Tiba-tiba menyembul dari dalamnya sesosok wajah yang lugu, matanya yang kuyu memandangi sekelilingnya sambil berusaha keluar dari telur yang telah berapa lama membungkus tubuh lemahnya. Kemudian…
“mama… mama…” katanya pada sosok yang pertama kali ia lihat…

Di atas itu merupakan salah satu adegan mengharukan yang barangkali sering kita saksikan dalam film-film animasi.

ya,
ibarat makhluk yang keluar dari telur tersebut dan “mama” yang pertama kali ia lihat, “mama” yang senantiasa menjaga telur tersebut dan membawanya ke manapun pergi hingga suatu saat telur itu pun harus menetas, kedekatan anak dan ibunya yang istimewa akan membekas dan menentukan bangunan karakter anak, menjadi pola perilaku yang menentukan nasib dunia di masa depan dan ‘nilai’ manusia di hadapan Sang Pencipta.

Dalam Islam, wanita menempati tempat yang sangat mulia. Dalam sebuah hadits yang sangat populer, Ibu adalah sosok yang sangat dielu-elukan melebihi siapapun termasuk ayah, Ibu disebut sebanyak 3 kali sementara ayah hanya satu kali. Memunculkan sebuah asumsi (bahwa) Ibu-lah yang berperan paling penting dalam menopang tegaknya sebuah peradaban.

Sementara Ibu dalam pandangan non-Islami:
di belahan dunia timur, sebelum datangnya risalah Allah melalui para rasul, wanita ditempatkan pada posisi yang sangat rendah. pada waktu itu kehadiran anak perempuan bagi suatu kabilah bahkan dianggap fenomena paling memalukan, hingga al-Quran menggambarkan terlahirnya mereka ke dunia membuat wajah ayahnya menjadi merah padam karena akan memarjinalkannya dari kabilahnya saking malunya (koq banyak nyanya?).

di belahan dunia barat, tak jauh berbeda, bahkan di sana perempuan diperlakukan lebih buruk. perempuan mereka sebut sebagai ‘female’/'feminus’ yang berarti ‘faith-minus’ (makhluk yang kurang imannya), bahkan disebut sebagai setan. Ia dimarjinalkan dari kehidupan masyarakat, dianggap kotor, makhluk pengganggu dan budak yang layak mendapat perlakuan sebagaimana hewan, pemuas hasrat seksual yang menghambat peran laki-laki dalam memajukan suatu peradaban. Sehingga oleh sebab perlakuan-perlakuan tidak manusiawi tersebut kemudian muncul gerakan-gerakan mengatasnamakan "feminisme" yang mencoba berontak dari keadaan dan mencoba mengubahnya dengan cara menuntut kemunculan peran mereka di ranah publik. Namun gerakan-gerakan ini pun pada hakikatnya sekaligus mencoba ‘memerkosa’ naluri perempuan, yang tak menempatkan perempuan pada tempat yang semestinya.

Sementara dalam Islam, Ibu adalah ‘lingkungan utama’ yang berkewajiban menanamkan nilai-nilai dasar Islam pada anak-anaknya sejak dini. –Islam, sebagai arus utama dalam hidup–. Ibu yang menyusun sendiri batu-batu kali dan merekatkan setiap bagiannya sehingga menjadi fondasi yang kokoh yang mampu menopang peri kehidupan yang bernilai yang dari padanya dan oleh karenanya terlahir manusia-manusia yang beradab yang mampu membangun sebuah peradaban yang gemilang, yang menginspirasi banyak penjuru negeri.

Kira-kira beginilah Ibu ideal yang saya rumuskan. menjadi “Ibu” adalah profesi paling prestisius dan penuh gengsi yakni sebagai PEMBANGUN PONDASI PERADABAN…

tahu mengapa?
Islam pernah berhasil membuat peradaban termegah di dunia yang mampu bertahan paling lama. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam kehidupan sangat sesuai dengan fitrah manusia, ia merupakan implementasi "tangan" Allah yang paling mampu memanusiakan manusia. Bahkan ‘Human rights’ yang dideklarasikan di Inggris untuk membatasi kekuasaan mutlak seorang raja adalah wacana yang ketinggalan zaman. Islam sudah memulai ini sejak berabad-abad sebelumnya. bahkan seorang penasihat politik terkemuka Amerika dalam bukunya “The Clash of Civilization”, Samuel P Huntington mengungkapkan:

“Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and has done at least twice”

karenanya Ibulah yang mesti membangun kembali kapal peradaban Islam yang sempat karam itu. Secara eksplisit barangkali begini nanti tugas seorang Ibu yang ideal:

Ibu, akan lebih dahulu memperdengarkan lantunan ayat suci al-Quran kepada anak dalam kandungannya daripada musik-musik klasik, sehingga baginya al-Quran menjadi sarana entertain utama dalam hidup yang paling menentramkan hati - memanjakan jiwa. karena musik kini menjadi instrumen paling canggih untuk melumat semangat pemuda, musik itu efeknya seperti candu.

Ibu, adalah seorang chef andal yang paling tahu bagaimana cara menjaga gizi anak-anaknya dengan masakan yang halal, thayyib, menghindarkan keluarganya dari makanan yang “membuat kotor” perut namun memanjakan lidah, sehingga tak ada restoran2 dan rumah makan terbaik selain ruang makan di rumah.

Ibu, membacakan kisah-kisah heroik para pahlawan muslim (mujahid) yang berjuang atas nama Islam, juga capaian-capaian diin Islam sebagai pondasi untuk membangun peradaban termegah di dunia sebelum cerita2 tentang snow white, tarzan, batman, superman, spiderman, dan nilai2 tentang peradaban semu dunia barat mampir di memori anak-anaknya dan menjadi pola sikapnya.

Ibu, mampu berbicara bahasa Arab sebagai salah satu bahasa pengantar pendidikan di rumah, memperdengarkannya saat anak mulai mampu memahami konsep berbahasa, agar memori anak menyimpan cukup banyak kosakata bahasa Arab, untuk memahami al-Quran dan as-Sunnah sejak dini, untuk shalat yang khusyu’ sejak dini karena shalat adalah tiang agama.

Ibu, akan berusaha menjadi childist pada anaknya saat masih kecil untuk mendengarkan apa kata anak-anaknya, untuk mencoba menjadi sahabatnya yang paling setia, penyimpan segala rahasianya, hal ini akan membuat anak senantiasa terpantau perilakunya, mudah diarahkan Ibunya kepada nilai-nilai kebenaran, dan senantiasa terikat silaturahim dengan ibunya hingga ia dewasa.

lihat, Ibu itu seorang produser handal..!!!

#untuk ummahaat (para Ibu) dan ummahaatu l-ghad (calon Ibu).
tak ada lagi celah untuk bermain2 dan bersantai



let’s prepare ourselves to build the world by the Hand of Allah…

biarkan terbang

Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,