Showing posts with label ceritaku. Show all posts
Showing posts with label ceritaku. Show all posts

Monday, November 11, 2013

Menuju Bogor

Lamanya belasan tahun. Waktu itu karcis KRD-ekonomi masih seribuan, dari stasiun Haurpugur ke stasiun Kircon, atau dr st. Kircon k st. Haurpugur. Bapa slalu nekat loncat sambil menggendong kami di sebelah kiri & kanannya saat kreta masih melaju kencang, agar mndapat akses yg lbh mudah menuju sekolah kami, memburu waktu agar kami tdk kesiangan. St. Haurpugur memang stasiun kecil & tua, tp sana tempat kami menuju, sana kami menunggu, sana kami berharap cemas, sana jg kami tersenyum ketika senja yang bermega mengizinkan jutaan capung bermain2 brsma kami, atau ktika memasuki gelap kami trtawa2 brsama jutaan 'siraru' yg mengerubungi neon2 di atas kepala kami yg sdg menunggu kreta, sayap2nya lepas, kami hentakkannya dgn sepatu kami hingga beterbangan ke sana kemari. Kreta pun tak terasa datang. kami segera tersenyum lebih lebar krna hendak brtemu Mbu & adik2 kami d kota sana.

d kreta, kami brdesakan. wlau bgt kami slalu trharu ktika Ibu2 d sana mnawarkan lututnya spya kmi tak kelelahan brdiri. Smbil duduk d ats lutut ibu baik hati itu kami memerhatikan Bapa yg menggantungkan tangannya di temali atap kreta smbil trkntuk2.

Ad yg brjualan pulpen duaribu lima, ad jg yg brjualan boneka2 mini dr kain2 perca seribulimaratusan, pnjualnya menggeser2 karung besarnya dr satu calon pmbeli k clon pmbeli lain sampai berlalu brkali2 d hdpan kami spnjng prjlnan, ohya yg paling brkesan adlh penjual "enoog parinang enooog..." bgtu jargonY ktika mnjajakan jualannya.

tak kalah berkesan adlah terowongan. ia yg paling kami tnggu, wlau paling kami takuti. KRD-ekonomi memang gelap, ktika memasuki trwongan kami serasa menghilang, wlau msh bisa mrasakan tnggorokan sndri brgetar krna menjerit. jeritan yg bersahutan antara kami & anak2 lainnya d gerbong itu.
sampailah d kircon. tak lengkap rasanya klau tak mmbwa buah tngan utk Mbu & adik2. Waktu itu 'sagebleg' martabak spesial yg 'lunyu' & leker masih limaribuan. Kita naik becak dr situ mnju sekelimus. Sesampainya, sisa tenaga kami gunakan utk mkan martabak itu keroyokan..

^^"

kereta ini berbeda. Ada asenya. Tempat duduknya jg empuk. D depan belakang ada elsidi. Sy pun bisa ngecas hape sambil ngetaip & sesekali melirik k jndela d sblah kiri.
takada sensasi yg trlalu berarti ktika mmasuki terowongan, krna chaya d kreta ini maksimal, sy pun mnempelkan wajah k kaca jndela, menutupi celah2nya dgn tangan agar dpt menemukan gelap itu lg,
sy jd ingat waktu itu.

Terowongan yang cukup panjang. Tp akhirnya berakhir juga. Tatapan diminta brpaling k arah timur, di sana ad cahaya yg lembut hangat mengintip di sebalik tebing. Subhaanallah___

Thursday, September 19, 2013

Jurig

Jurig itu kenangan masa muda dulu (masa bocah). Sekarang rasanya nonton horor tu... apa siih --.--"
Atau mungkin keseraman film horor zaman dulu benar-benar seram alias agak berkualitas ketimbang film-film horor sekarang?

Ah, tak penting itu.

Menemani keponakan berusia 3 tahun yang hobi nonton horor ala trans7, ada beberapa hal klise terkait horor Trans7 yang ingin saya statusisasi.

Trend horor Trans7 berkutat pada menanamkan keyakinan di benak pemirsa bahwa jurig adalah arwah gentayangan yang dulunya mati penasaran. Arwah tersebut masih akan terus gentayangan selama urusan dunianya belum terselesaikan. Namun yang menjadi urusan dunianya itu khas -melulu persoalan kematian tragis dan kasusnya belum terselesaikan, bukan hutang yang belum dibayar, misalnya.

Yang difilmkan itu (melulu lagi) episode yang melibatkan sekawanan remaja cewek cowok berpakaian casual, yang cewek ada yang berrok mini, juga celana denim yg dari bawah smpe atas ketatnya minta ampyun. Yang cowok berkaos distrow dan kadang berrompi atau berkupluk.

Sekawanan muda-mudi itu melakukan perjalanan jauh atau dekat yang tiba-tiba menjebak mereka pada situasi horor. Mereka terpaksa harus berada di situ untuk mengungkap misteri dan menyelesaikannya.

Salah seorang di antara mereka punya indigo -mampu melihat penampakan-penampakan yang tak nampak oleh kawan-kawannya yang lain. Dari penampakan yang dialami seorang indigo itulah cerita dimulai.

Singkat cerita, Si indigo bertugas menjadi jendela misteri karena mampu melihat penampakkan termasuk melihat kasus masa lalu si jurig, kawan-kawannya yang lain yang mengeksekusi cara-cara yang ditunjukkan si indigo secara runut. Sedikit demi sedikit misteri horor yang melibatkan mereka pun terungkap.

Akhirnya tugas membantu urusan dunia si jurig selesai. Si jurig pun mendadahi kawanan muda-mudi itu seraya mengucap terimakasih dan salam perpisahan sambil tersenyum semanis-manisnya, tak menampakkan raut muka horor lagi.

Dadahan si jurig dibalas sekawan muda-mudi yang telah menuntaskan misinya itu dengan dadahan lagi. Sampai si jurig menghilang. Karena arwahnya sudah tenang, karena kasus mati tragisnya sudah terselesaikan. Hiduplah si jurig dengan tenang di alam barzakh.

"Akhirnya..." kata mereka setelah si jurig ngaleungit -sambil senyum dan membuang napas setelah menghirupnya dalam-dalam.

Tapi,

salah seorang di antara mereka malah berlaku ceroboh dan memulai urusan dengan jurig lain.

-TAMAT-

mulailah drama baru misi penyelamatan jurig dari kerangkeng kasus kematian tragisnya di Urban Legend yang ke-2
rame pisan --.--"

Wednesday, September 18, 2013

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (3)

Terkait kisruh Suriah yang mencuat ke permukaan beberapa bulan lalu –termasuk di antaranya rilis berita beberapa media mainstream Islam Indonesia soal tokoh-tokoh Syi’ah di Indonesia yang mesti diwaspadai--, saya membuat catatan tentang kronologi bagaimana akhirnya saya mengenal salah seorang di antaranya, yaitu Dina Y. Sulaeman, mesti tak secara langsung. Catatan tersebut bisa dibaca di sini.

Visitor blog saya kontan meningkat tajam hanya karena tulisan tersebut --tulisan tersebut hingga bisa menempati halaman pertama di search engine ketika dicari--, maka lantas beberapa waktu lalu saya membuat sebuah tulisan kecil untuk saya bagi di grup komunitas menulis saya di Facebook terkait bagaimana akhirnya blog saya itu dapat memeroleh kunjungan yang fantastis dari para pengguna internet.

Saya pun lalu posting tulisan tersebut di grup komunitas menulis dan kemudian memostingnya kembali di blog pribadi saya ini dengan beberapa perubahan dan tambahan (tulisan tersbut bisa dibaca di sini) Dalam tulisan tersebut saya membuat link ke tulisan soal kronologi mengenal Dina, juga menulis salah satu paragrafnya di antaranya berbunyi sebagai berikut:

Saturday, July 6, 2013

Tebar Intelektual Muslim ke Pelosok

Intelektual muslim terlalu banyak menumpuk di kota-kota besar, pelosok jadi sasaran empuk para misionaris.

Desa Tegalrejo Kecamatan Belitang adalah sebuah desa berjarak sekitar 180 km dari kota Palembang, Sumatra selatan yang jika menggunakan kendaraan pribadi dapat ditempuh dengan 5 jam perjalanan (minimal). Desa tersebut hanya dapat diakses melalui satu jalur yaitu jalur yang melalui bnyak desa, hutan, perkebunan karet, dan lain-lain. Karenanya, menyusuri jalan ke desa tersebut seakan melaui jalan takberujung.

Penduduk desa Tegalrejo umumnya orang-orang perantauan dari jawa tengah & jawa timur. Namanya saja Tegalrejo. Ketika saya mengunjungi desa ini untuk sebuah tugas, saya takmerasa seperti berada di pulau sumatera, tetapi pulau jawa, sebab hampir seluruh penduduknya berbicara khas 'jowo', medok.

Wednesday, May 1, 2013

Perjuangan Jilbab Kami


Baca artikel tetang sejarah hijab nusantara yang ditulis Kak Sarah Mantovani (http://thisisgender.com/hijab-indonesia-sejarah-yang-terlupakan/), jadi ingat barang 16 tahunan yang lalu, saat Ibu mulai memakaikan kerudung di atas kepala saya di hari pertama masuk sekolah dasar.

Oya, zamannya Ibu-Ibu kita kuliah, barangkali zamannya revolusi jilbab yang Kak Sarah bilang di paragraf-paragraf terakhir artikelnya itu. Dulu, katanya Ibu pernah ikutan Usrah (Usrah itu satu akronim yang entah apa singkatannya saya lupa), yang jelas itu satu kelompok kajian Islam yang dari penuturan beliau saya kira masih mirip-mirip sama gerakan tarbiyyah yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin. Kalau ia, saya terka mungkin ini gerakan awal-awal mereka memasuki ranah akademisi (baca: mahasiswa) meski perkembangannya pada saat itu belum sesignifikan sekarang secara kuantitas.

Sunday, April 14, 2013

Pelajaran Hari Ini


Kasihan sekali adik saya,

hari ini kebetulan hari ahad, dia diajakin temennya ikut car free day di Dago (bayangin, anak kelas 4 SD, pake sepeda dari komp. GBA, kabupaten Bandung, sampe ke Dago, kota Bandung, weeewW nekat sekali kamuuh..!! pake motor aja udah jauh banget). Saya dan Ibu pagi tadi memang sengaja mengunjungi nenek di Ciwastra dan agak lama disana. Jadi kami tidak mengetahui kepergiannya. Katanya mendadak dia diajakin temennya dan nggak enak nolak. Mungkin dia pikir ini akan sangat menyenangkan, sebab teman sebayanya banyak yang ikut, dia pun akhirnya ikut.

Sepulang dari Ciwastra, kami pun sejanak melepas lelah, karena tumben pagi menjelang siang tadi tu panas banget, kalo kata Nin (sebutan kami ke Nenek) tadi "meni ngelekeb ngelekeb teuing ieu teh, rek hujan gede kitu nya?" (bahasa khas Sunda-Bantennya keluar). Jadi perjalanan pulang pun terasa melelahkan.

Di kursi sebelah saya duduk, di ruang tamu, koq tumben saya liat adik bungsu saya itu tergolek lemah, biasanya jam segituan kalo hari libur gini dia lagi maen, dan baru pulang ntar sore.

biarkan terbang

Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,