Showing posts with label on my mind. Show all posts
Showing posts with label on my mind. Show all posts

Thursday, September 19, 2013

JIL < Transformasi Akhir Penggalau | Tangani Penggalau Mula dengan Persuasi

Ada orang menderita kegalauan berat saat berada pada fase remaja akhir memasuki usia dewasa. Kegalauan yang dialami oleh sebagian banyak orang ini biasanya ditandai oleh sikap apatis terhadap hidup, yang tak jarang membuatnya berperilaku aneh. Manakala orang lain seusianya giat dalam berbagai aktivitas, ia cendrung murung atau justru sebaliknya melakukan apa yg hanya ingin dilakukannya.

Pada saat itu mereka bisa mudah terpengaruh oleh apa yang datang dari luar atau malah justru sebaliknya sulit menerima apa yang dari luar dirinya, lebih suka melakukan apa yang ia mau.

Mereka sedang mempertanyakan berbagai hal mendasar dalam hidup.

Mereka yang tidak mendapatkan penanaman identitas diri yang cukup sejak dini dari orang tuanya sebagai lingkungan pertamanya akan mengakumulasikan pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian meledakkannya manakala lingkungan tak mampu memberikannya jawaban yang memuaskan.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar dalam hidup inilah hal utama yang sesungguhnya perlu dijawab para penyeru aqidah haniif.

Terhadap mereka ini baiknya dilakukan persuasi. Lebih banyak mendengar untuk membantu memecahkan problem mereka, termasuk di antaranya menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar soal agama. Mengapa begini, mengapa begitu.

Setelah melewati masa-masa kritis itu mereka yang tak mendapatkan jawaban memuaskan ada yang teralihkan perhatiannya oleh aktivitas-aktivitas kebanyakan muda-mudi lainnya, menguapkan pertanyaan-pertanyaan tersebut begitu saja, namun ada juga yang malah balik mnyerang apa yang semula tidak mampu memberinya jawaban memuaskan. Yang terakhir ini akan menjadi ancaman yang berarti terhadap Islam karena bisa merusak dari dalam. Maka tak jarang kita temukan banyak pemuda muslim yang sudah pandai mencaci agamanya sendiri, yang jika terus dibiarkan akan mengkristal hingga dewasa. Hasilnya? lihat produk-produk galau itu pada organisasi yang menamakan diri mereka Jaringan Islam Liberal.

Tapi sayangnya cara persuasi ini sering diabaikan orang yang menamakan dirinya sebagai ummatan yaduuna ilal khayr wa ya`muruuna bi l-ma'ruuf wa yanhauna 'ani l-munkar. Akibatnya mereka ini masih dan akan selalu sendirian di lingkungannya, tak mampu memberikan perubahan berarti, karena jualan mereka tak disukai konsumen. Ia melulu hanya berteman dengan sesamanya, tapi lingkungannya tak pernah berubah. Wujuduhu ka'adamihi kalau kata pepatah Arab. Atau bahkan mereka yang menjadi seperti bangkai ikan di lautan yang rasanya berubah asin?

Wallaahu A'lam bi sh-Shawaab_

#refleksi

Tuesday, September 3, 2013

Benih Nasionalisme, Sebuah Sintesis Sayah :D

Saya tiba-tiba berpikir...

Mungkin, dulunya benih-benih 'nasionalisme' (atau apalah namanya) itu muncul dari sebuah tuntutan untuk act locally (you surely know this phrase "Think Globally Act Locally" which means "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal.")

(Tuntutan untuk act locally ini pun sebenarnya sejalan dengan prinsip mu'amalah yang diajarkan dalam Islam. Prinsip mu'amalah dalam Islam mengutamakan kerabat ketimbang orang jauh. Dalil tentang ini pun sangat banyak kita temui)

Yang membuatnya menjadi sebuah isme (ideologi) --yang oleh sebagian orang ditempatkan dalam posisi sebuah 'keyakinan' yang harus mengorbankan diri karenanya; yang karenanya juga sebagian lainnya menentangnya karena berani-berani berusaha mencoba menyejajari otoritas tuhan dengan ideologi buatan manusia yang mesti dikuduskan-- adalah kecintaan yang 'berlebihan', takberalasan, dan konyol.

Bagaimana tidak disebut takberalasan dan konyol? Adalah na'if bila seseorang dituntut untuk mengorbankan diri demi bangsa, takjelas apa atau siapa yang harus dibela --nama bangsanya kah; pemerintahnya kah; atau rakyatnya --yang tentu dalam memilih mana yang kudu dibela menurut Islam pun harus pilih-pilih.

Karena ketakjelasan itu maka tak jelas pula apa manfaatnya; apa yang bisa kita terima dari pengorbanan itu --apakah kecintaan dan pengorbanan itu dapat menyelamatkan kita di kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang atau tidak? Betapa tidak dikatakan konyol berkorban mati-matian untuk sebuah ketakjelasan. Malah justru berusaha menyejajari otoritas Tuhan dengan sesuatu yang tidak memiliki otoritas adalah kebodohan dan kekonyolan terbesar yang dalam Islam menjadi kesalahan besar dan mampu mengategorikan pelakunya sebagai pelaku dosa teratas.

Kita pun tahu dari sirah bahwa betapa kaum muhajirin (termasuk Rasulullah Saw.) dulu begitu merindukan Makkah alMukarramah tanah kelahiran mereka, dan menangis terharu kegirangan ketika futuh Makkah mengantarkan mereka kembali ke sana.

Namun cinta ini tentu bukan cinta yang mengarahkan para pecintanya untuk memberhalakannya sehingga menomorsatukannya di atas segalanya.

Tentu rasa mencintai sesuatu karena telah lama membersamai kita itu sebuah kodrat. Terlebih Makkah bagi Muhajiriin adalah kenangan paling berkesan yang ditinggalkan para punggawa risalah Allah sejak dulu, sejak Allah mengutus NabiNya Ibrahim As.


'alaa kulli haal, itulah mengapa sifat ghuluw/ishraf (berlebihan) itu dicela dalam Islam. Karena ia dapat seketika mendekatkan para pelakunya kepada dosa teratas yang dapat membuat Empunya otoritas tertinggi -Allah Swt. murka.

wallaahu a'lamu bish-shawaab_

Monday, September 2, 2013

Teori Menulis Efektif Temuan Pemula (hohoho... :D)*

Meski ini (Siapa Dina Y. Sulaeman?? (1)) tulisan sederhana yang sekedar curhatan (bukan tulisan ilmiah), --saya heran- ternyata mampu menyedot perhatian lebih dari 1100 pembaca dan beberapa komentar, lain dengan tulisan-tulisan di blog saya lainnya yang umumnya baru hanya dikunjungi oleh kurang dari 20 pembaca. Karena tulisan yang dimuat kurang dari tiga bulan yang lalu ini kontan visitor blog saya meningkat tajam hampir 100 persen, dari hanya 3000an sejak tahun 2011, kini jadi 5600an hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Disusul oleh lanjutan tulisan ini (Siapa Dina Y. Sulaeman?? (2))  yang memeroleh lebih dari 500an pembaca. Bagi saya yang masih pemula di dunia kepenulisan, ini capaian yg luar biasa. Padahal saya takpernah share tulisan ini di facebook yang memungkinkan dapat dibaca oleh banyak teman-teman saya.

Respon pembaca terhadap tulisan ini umumnya baik. Ada di antaranya yang mendapat pencerahan dan bersyukur karena menemukan tulisan ini, ada juga yang memberi apresiasi karena kejujuran dan ketidak-buru-buruan saya dalam menilai seseorang. Walau saya sadar pada beberapa bagian masih ada yang kurang enak dibaca karena diksi yang taktepat.

Awalnya saya sempat kuatir Dina jadi unfriend atau block saya di FB, sampai sekarang pun masih kuatir sebetulnya, kuatir kalau takbisa pantau aktivitasnya lagi. Sebab kecil kemungkinan beliau yang pemerhati media (jurnalis) tak menemukan tulisan yang muncul di temuan teratas di search engine ini :| ), tapi tak apalah, ini era demokrasi yang siapapun bebas berpendapat. Dina pun menulis pendapatnya dengan bebas (seenaknya), maka tak apa saya utarakan opini saya.

Dari capaian yang bagi saya luar biasa ini (seratus persen dalam kurang dari tiga bulan), saya menemukan bahwa ternyata popularitas sebuah tulisan ditentukan oleh: Pertama, judul apa yang kira-kira banyak dicari orang di search engine. Ini penting, mengingat sebuah tulisan yang 'visioner' bertujuan memengaruhi orang. Semakin banyak orang yang terpengaruh dengan tulisan tersebut, maka semakin baik. Cover buku yang baik akan menarik pelanggan. Judul tulisan yang baik pun sama. 

Biasanya, ketika suatu isu sedang jadi trending topic --misal terkait tokoh Syiah satu ini yg saya tulis saat media merilis nama tokoh-tokoh syi'ah Indonesia, yang banyak dicari dan diketik orang di sebuah search engine adalah kata "siapa" dilanjut dengan nama orang yg dicari informasi tentangnya (ini untuk subjek manusia, kalau subjeknya benda bisa menggunakan "apa itu (bla-bla-bla...)" dan komponen 5W-1H lainnya yang merupakan representasi tuntutan kepenasaranan seseorang).

Kalau boleh jujur, sebetulnya judul yang termasuk tampilan teratas di gugel ketika dicari ini (coba ketik: "siapa Dina Y. Sulaeman" atau "Dina Y. Sulaeman" atau yang terkait di gugel) saya buat tanpa sengaja. Ini memang benar-benar tulisan yang berusaha mencari tahu siapa itu Dina Y. Sulaeman, bukan sebaliknya --menjawab pertanyaan siapa beliau itu. Kedua, tulisan tersebut membahas topik yang sedang hangat. Ketiga, gaya menulis. Keempat, baru gagasan.

Jadi, semoga menulis menjadi passion semua muslim (baca: QS al-Qalam dan tafsirnya), sebab semakin sini semakin teknologi informasi menjadi gaya hidup orang semakin rajin membaca. Bisa kita bayangkan betapa sebuah tulisan yang inspiratif pahalanya akan berlipat-lipat sampai kita mati, multi level pahala. Yok, terus berlatih! Wallaahu a'lam_

"Aku, sebutir biji baru matang yang berusaha menggeliat mengeluarkan tunasnya di tengah-tengah hiruk pikuk penguasaan wacana oleh 'Barat' yang hegemonik. Meski begitu kecil, harapanku begitu besar."

*saya tahu judul ini tak cocok :D 

Saturday, June 15, 2013

Jeneralisasi Ainur Rofiq

Jeneralisasi merupakan salah satu yang menjadi serabut akar konflik. Begitu mudahnya orang menjustifikasi kesalahan individu sebagai kesalahan kelompok. Nila setitik rusak susu sebelanga.

Ini pula akar sering terjadi di Indonesia. Apalagi, selain kaya sumber daya, Indonesia juga kaya kelompok sosial (Agama, ras, suku, budaya, organisasi, dan lain-lain) yang rentan eksploitasi yang mengarah kepada konflik sektarian untuk memenangkan satu ide tertentu pihak-pihak yang "berkepentingan".

Dalam makalah berjudul "Gerakan Transnasional Suriah; Refleksi untuk Indonesia" yang dimuat Dina Y. Sulaeman (seorang pengamat politik timur tengah) dalam blognya http://dinasulaeman.wordpress.com/ , Dr. Ainur Rofiq Al-Amin seorang dosen politik Islam IAIN Surabaya mengungkapkan sebuah analisis yang saya nilai tak berimbang.

Friday, June 14, 2013

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (2)

Belakangan ini ada seseorang yang selalu mengganggu pikiran saya, siapa? bukan lawan jenis, tapi teman sejenis. beliau itu Bu Dina Y. Sulaeman.

Dina??? Siapa? ( baca juga: Siapa Dina Y. Sulaeman (1))
Saya kenal beliau (meskipun tidak secara langsung) sejak dumay ramai berbicara soal konflik Suriah. Diam-diam, meskipun saya bukan seorang pengamat politik terlebih pendidikan saya bukan dari politik, tapi di dumay (facebook) saya banyak berkawan dengan orang-orang politik (PKS<= Ikhwanul Muslimin Indonesia, Hizbut Tahrir, dll), 2 kelompok pertama ini karena memang sejak pertama kali masuk Unpad saya menyadari ada 2 kekuatan politik yang memang cukup kuat peranannya di kampus ini. Mereka punya tempat tersendiri dalam pikiran saya dengan segala bentuk persoalannya.

Diam-diam, meski saya bukan seorang pengamat politik (diulang) tapi newsfeed facebook saya dipenuhi postingan terkait, sebab saya memang punya banyak kawan penyuka/pengkaji politik, saya pun jadi tak bisa menghindar untuk ikut berpikir, berbicara, dan berkomentar soal politik (suggested).

Saya bukan sama sekali antipati terhadap persoalan politik, dan memang pernyataan saya di atas tidak berarti demikian.

Nah, Bu Dina ini (secara latar belakang pendidikan formal) memang bukan dari politik, tapi lebih dari itu beliau berbicara politik sebab beliau seorang pengamat politik internasional. Beliau lulusan magister Hubungan Internasional Unpad setelah sebelumnya meraih gelar sarjana dari Jurusan Sastra Arab Unpad. Jadi pas sekali, beliau ini seorang pengamat dan pengkaji persolan timur tengah, bukan hanya persoalan politik tapi juga aspek-aspek lainnya. Dan kebetulan saat ini politik timur tengah memang sedang ramai-ramainya disoroti karena sedang bergolak.

Friday, May 3, 2013

The Amazing "Idea"


Orang perlu menulis untuk mendeskripsikan idenya. Motif dari "menulis" ini tentu bisa beragam, bisa karena keinginan agar idenya menginspirasi orang lain (kemanfaatan), bisa juga agar idenya dikritisi orang lain sebab merasa idenya masih belum mapan, dan mungkin bisa juga untuk "mengurung" ide tersebut agar tidak "kabur", atau mencari perhatian (sepertipuisi-puisi cinta seseorang kepada kekasihnya), atau hanya agar puas saja. Salah satu, sebagian, atau seluruh motif ini bisa ada pada siapapun yang menulis. Yang jelas, menulis adalah satu usaha agar ide kita diketahui orang lain.

Terciptalah buku-buku yang menjadi hasil dokumentasi dari ide-ide tersebut. ketebalan buku yang variatif menjadi bukti sedemikian kompleksnya ide yang ada di dalam otak penulis. Memaparkan satu objek memerlukan pemaparan objek turunan lainnya yang berkaitan, menjelaskannya, sehingga menjadi jelas bagi siapapun yang mempelajari ide tersebut. Begitu seterusnya hingga tergambarlah satu konsepsi yang bulat (dirasa mapan). Namun tebalnya buku yang mendokumentasikan gagasan kompleks seseorang tentang suatu objek tak lantas menjadikan pembacanya paham dengan gagasan si penulis secara utuh. Begitulah rumit dan kompleksnya sistem pengolahan informasi yang dimiliki akal manusia, beratus-ratus jilid buku yang ia hasilkan takkan mampu mendokumentasikan seluruh gagasannya secara utuh. Maha Suci Allah…. ^^"

Itulah sebabnya sangat banyak saran, kritik, atau bahkan penafsiran ulang yang dilakukan oleh pembaca gagasan terhadap dokumentasi tertuang ke dalam lembaran-lembaran kertas yang dijilid tersebut, dan kita tahu apresiasi yang diberikan sangat banyak, bahkan bisa melebihi karya awal yang dibuat. Lihatlah ilmuwan-ilmuwan muslim berapa ratus jilid buku yang mereka hasilkan, namun tulisan-tulisan lain yang menuliskan apresiasi terhadap karya-karya tersebut terus-menerus bermunculan dan berlanjut hingga kini, sejak berabad-abad yang lalu…

Subhaanallaah...

Wednesday, May 1, 2013

For You, for a Revolutionary Movement


بسم الله الرحمن الرحيم

catatan ini agak lama saya simpan dalam folder "my notes", kemudian saya copy ke folder "Hima-Himi" saat Farhan menyerahkan flashdisknya untuk diisi berbagai file yang mungkin bisa bermanfaat. folder "Hima-Himi" pun saya ikut copykan bersama folder-folder berisi e-book, file-file kuliah, dan lain-lain* yang sebanyak hampir 2 Gb dari folder "e-library". Entah folder "Hima-Himi" ini sudah dibuka dan dilihat isinya atau belum. Mungkin perlu 'waktu' untuk bisa memahami keseluruhan isi folder yang saya kumpulkan sejak 2009 tersebut untuk memahami perkembangan organisasi ini dari waktu ke waktu, apalagi e-book-e-book berbahasa Arab yang mendominasi ruang file itu sepertinya lebih menarik hati dan menggelitik minat antum untuk memelajarinya.

Akhirnya terinspirasi dari kuliah luar biasa bersama Ust. Atip Latifulhayat, SH, LLM, Ph.D kemarin, saya posting juga catatan ini ke facebook dengan sedikit perubahan. Mudah-mudahan bermanfaat dan menginspirasi 'ke mana kaki menuju' bagi organisasi ini ke depannya...^^"

Organisasi dan Strategi Da’wah
Hima-I Persis komisariat Universitas Padjadjaran

Muqaddimah

Pada dasarnya organisasi dibutuhkan dalam rangka memanage usaha-usaha dan perangkat-perangkat yang ada demi tercapai suatu tujuan bersama. Karenanya, sebuah organisasi sejatinya akan memanfaatkan berapa pun jumlah subjek yang tergabung di dalamnya dengan memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki setiap subjek tersebut secara maksimal.

Friday, December 28, 2012

Allah, Energi

Realitas ini...
terdiri dari partikel-partikel dengan sifat-sifat khas yang Allah beri. Partikel-partikel berlainan sifat tersebut kemudian Allah satukan dengan komposisi dan takaran tertentu, hingga jadilah kita bisa mengindera realitas ini dengan bentuk, tekstur, dan warna yang berbeda.

air, udara, tanah...
makhluk hidup ataupun mati...
Energi itulah Allah, atau yang asalnya dari Allah. DariNya segala sesuatu berhulu, bahkan 'sesuatu' itu sendiri. PadaNya segala sesuatu bermuara.

Energi-energi dan kekuatan lain hanyalah semu, atau hanya setitik debu titipan dari Yang Maha memiliki energi, yang dengan mudah dapat Dia ambil kembali...

manusia tak patut berbangga diri...

Thursday, December 27, 2012

siapa yang benar? saya atau mereka?

ada pertanyaan dari seseorang yang mungkin sedang kebingungan berkat kontemplasi agak serius setelah mengalami sesuatu di kampusnya. tanyanya, "teh sebenarnya pandangan orang lain ke kita atau pandangan kita ke diri sendiri ,, mana yang lebih mendekati benar?"
jawabku:
"kalau ditanya: orang lain-kah atau diri kita sendiri? jawabannya tentu diri kita sendiri, sebab 'maqaashidullafzhi alaa niyyati llaafizhi', kita yang paling tahu maksud diri kita berbuat sesuatu. Walau orang pun akan menilai kita sebab penilaian orang itu akan menjadi ukuran amal kita dalam kehidupan sosial. yang jelas kritikan yang orang lain alamatkan kepada kita tidak lain adalah karena kepedulian akan perubahan menuju keadaan yang lebih baik.

kadang ku juga berfikir 'justru saya bingung dengan diri sendiri', tak mengenali diri sendiri. Saat itu kita menyadari bahwa yang paling tahu tentang diri kita adalah Allah. Sebab memang pada hakikatnya seperti itu.
yang jelas, tugas kita sekarang adalah berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan kualitas diri di hadapanNya, itulah sebaik2 manusia di hadapan Allah, tak peduli apa kata manusia.
sebab lagi-lagi ukuran kebenaran itu adalah kitabullah dan sunnah Rasulullah, bukan manusia. sangat picik bila manusia yang lemah dan serba terbatas dijadikan ukuran kebenaran..."

Thursday, July 7, 2011

sambutlah cintaku..............................


oooo Allah.............................
pantaskah ku meminta
sementara ku belum sempurna 
          memenuhi tuntutan kewajibanMu, 
sementara wajibMu atasku
tak kupendam dalam kalbu penuh seluruh
sementara lalai itu masih bersemayam
dalam segenap titahMu
ku masih izinkan yang lain memasuki pintu hatiku selainMu,
dan membiarkannya bebas memengaruhi segenap unsur dari ragaku
tanpa kecuali,
ku tahu Engkau Maha Kaya yaa Rabb,,
ku tahu KayaMu sejagat raya,
bahkan yang tak terindra, 


Wednesday, June 29, 2011

في الحبّ و المحبّة

في الحبّ و المحبّة

محبّة الأولى و الأخيرة كتبت في لوح المحفوظ ........

قال صديقي في الحبّ بأن معرفته فرق عند كل شخص. و ما شعرته أي شعرت بشعر غريب الذي يقال ب"الحبّ"، ما شعرته حتى الآن. ليس في أمام عينيني شخصا يعجبني و يبهر النظر قلبي.

لا بأس، قضى الله لي بحبّ الحقيقي الذي سأوقد نار الحبّ بيني و بين إلهي، هو محبّتي الأولى و الأخيرة

biarkan terbang

Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,