Terkait kisruh Suriah yang mencuat ke permukaan beberapa bulan lalu –termasuk di antaranya rilis berita beberapa media mainstream Islam Indonesia soal tokoh-tokoh Syi’ah di Indonesia yang mesti diwaspadai--, saya membuat catatan tentang kronologi bagaimana akhirnya saya mengenal salah seorang di antaranya, yaitu Dina Y. Sulaeman, mesti tak secara langsung. Catatan tersebut bisa dibaca di sini.
Visitor blog saya kontan meningkat tajam hanya karena tulisan tersebut --tulisan tersebut hingga bisa menempati halaman pertama di search engine ketika dicari--, maka lantas beberapa waktu lalu saya membuat sebuah tulisan kecil untuk saya bagi di grup komunitas menulis saya di Facebook terkait bagaimana akhirnya blog saya itu dapat memeroleh kunjungan yang fantastis dari para pengguna internet.
Saya pun lalu posting tulisan tersebut di grup komunitas menulis dan kemudian memostingnya kembali di blog pribadi saya ini dengan beberapa perubahan dan tambahan (tulisan tersbut bisa dibaca di sini) Dalam tulisan tersebut saya membuat link ke tulisan soal kronologi mengenal Dina, juga menulis salah satu paragrafnya di antaranya berbunyi sebagai berikut:
كن عالما أو متعلما أو مستمعا أو محبا و لا تكن خامسا فتهلك :: من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة (رواه مسلم) :: العلم صيد و الكتابة قيده، قيد صيودك بالحبال الواثق
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts
Wednesday, September 18, 2013
Siapa Dina Y. Sulaeman?? (3)
kategori tulisan:
ceritaku,
curcol,
Dina Y. Sulaeman,
Konflik Suriah,
opini
Tuesday, September 3, 2013
Benih Nasionalisme, Sebuah Sintesis Sayah :D
Saya tiba-tiba berpikir...
Mungkin, dulunya benih-benih 'nasionalisme' (atau apalah namanya) itu muncul dari sebuah tuntutan untuk act locally (you surely know this phrase "Think Globally Act Locally" which means "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal.")
(Tuntutan untuk act locally ini pun sebenarnya sejalan dengan prinsip mu'amalah yang diajarkan dalam Islam. Prinsip mu'amalah dalam Islam mengutamakan kerabat ketimbang orang jauh. Dalil tentang ini pun sangat banyak kita temui)
Yang membuatnya menjadi sebuah isme (ideologi) --yang oleh sebagian orang ditempatkan dalam posisi sebuah 'keyakinan' yang harus mengorbankan diri karenanya; yang karenanya juga sebagian lainnya menentangnya karena berani-berani berusaha mencoba menyejajari otoritas tuhan dengan ideologi buatan manusia yang mesti dikuduskan-- adalah kecintaan yang 'berlebihan', takberalasan, dan konyol.
Bagaimana tidak disebut takberalasan dan konyol? Adalah na'if bila seseorang dituntut untuk mengorbankan diri demi bangsa, takjelas apa atau siapa yang harus dibela --nama bangsanya kah; pemerintahnya kah; atau rakyatnya --yang tentu dalam memilih mana yang kudu dibela menurut Islam pun harus pilih-pilih.
Karena ketakjelasan itu maka tak jelas pula apa manfaatnya; apa yang bisa kita terima dari pengorbanan itu --apakah kecintaan dan pengorbanan itu dapat menyelamatkan kita di kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang atau tidak? Betapa tidak dikatakan konyol berkorban mati-matian untuk sebuah ketakjelasan. Malah justru berusaha menyejajari otoritas Tuhan dengan sesuatu yang tidak memiliki otoritas adalah kebodohan dan kekonyolan terbesar yang dalam Islam menjadi kesalahan besar dan mampu mengategorikan pelakunya sebagai pelaku dosa teratas.
Kita pun tahu dari sirah bahwa betapa kaum muhajirin (termasuk Rasulullah Saw.) dulu begitu merindukan Makkah alMukarramah tanah kelahiran mereka, dan menangis terharu kegirangan ketika futuh Makkah mengantarkan mereka kembali ke sana.
Namun cinta ini tentu bukan cinta yang mengarahkan para pecintanya untuk memberhalakannya sehingga menomorsatukannya di atas segalanya.
Tentu rasa mencintai sesuatu karena telah lama membersamai kita itu sebuah kodrat. Terlebih Makkah bagi Muhajiriin adalah kenangan paling berkesan yang ditinggalkan para punggawa risalah Allah sejak dulu, sejak Allah mengutus NabiNya Ibrahim As.
Mungkin, dulunya benih-benih 'nasionalisme' (atau apalah namanya) itu muncul dari sebuah tuntutan untuk act locally (you surely know this phrase "Think Globally Act Locally" which means "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal.")
(Tuntutan untuk act locally ini pun sebenarnya sejalan dengan prinsip mu'amalah yang diajarkan dalam Islam. Prinsip mu'amalah dalam Islam mengutamakan kerabat ketimbang orang jauh. Dalil tentang ini pun sangat banyak kita temui)
Yang membuatnya menjadi sebuah isme (ideologi) --yang oleh sebagian orang ditempatkan dalam posisi sebuah 'keyakinan' yang harus mengorbankan diri karenanya; yang karenanya juga sebagian lainnya menentangnya karena berani-berani berusaha mencoba menyejajari otoritas tuhan dengan ideologi buatan manusia yang mesti dikuduskan-- adalah kecintaan yang 'berlebihan', takberalasan, dan konyol.
Bagaimana tidak disebut takberalasan dan konyol? Adalah na'if bila seseorang dituntut untuk mengorbankan diri demi bangsa, takjelas apa atau siapa yang harus dibela --nama bangsanya kah; pemerintahnya kah; atau rakyatnya --yang tentu dalam memilih mana yang kudu dibela menurut Islam pun harus pilih-pilih.
Karena ketakjelasan itu maka tak jelas pula apa manfaatnya; apa yang bisa kita terima dari pengorbanan itu --apakah kecintaan dan pengorbanan itu dapat menyelamatkan kita di kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang atau tidak? Betapa tidak dikatakan konyol berkorban mati-matian untuk sebuah ketakjelasan. Malah justru berusaha menyejajari otoritas Tuhan dengan sesuatu yang tidak memiliki otoritas adalah kebodohan dan kekonyolan terbesar yang dalam Islam menjadi kesalahan besar dan mampu mengategorikan pelakunya sebagai pelaku dosa teratas.
Kita pun tahu dari sirah bahwa betapa kaum muhajirin (termasuk Rasulullah Saw.) dulu begitu merindukan Makkah alMukarramah tanah kelahiran mereka, dan menangis terharu kegirangan ketika futuh Makkah mengantarkan mereka kembali ke sana.
Namun cinta ini tentu bukan cinta yang mengarahkan para pecintanya untuk memberhalakannya sehingga menomorsatukannya di atas segalanya.
Tentu rasa mencintai sesuatu karena telah lama membersamai kita itu sebuah kodrat. Terlebih Makkah bagi Muhajiriin adalah kenangan paling berkesan yang ditinggalkan para punggawa risalah Allah sejak dulu, sejak Allah mengutus NabiNya Ibrahim As.
'alaa kulli haal, itulah mengapa sifat ghuluw/ishraf (berlebihan) itu dicela dalam Islam. Karena ia dapat seketika mendekatkan para pelakunya kepada dosa teratas yang dapat membuat Empunya otoritas tertinggi -Allah Swt. murka.
wallaahu a'lamu bish-shawaab_
kategori tulisan:
'Aqidah Crisis,
filsafati,
kontemplasi,
nasionalisme,
on my mind,
opini
Saturday, June 15, 2013
Jeneralisasi Ainur Rofiq
Jeneralisasi merupakan salah satu yang menjadi serabut akar konflik. Begitu mudahnya orang menjustifikasi kesalahan individu sebagai kesalahan kelompok. Nila setitik rusak susu sebelanga.
Ini pula akar sering terjadi di Indonesia. Apalagi, selain kaya sumber daya, Indonesia juga kaya kelompok sosial (Agama, ras, suku, budaya, organisasi, dan lain-lain) yang rentan eksploitasi yang mengarah kepada konflik sektarian untuk memenangkan satu ide tertentu pihak-pihak yang "berkepentingan".
Ini pula akar sering terjadi di Indonesia. Apalagi, selain kaya sumber daya, Indonesia juga kaya kelompok sosial (Agama, ras, suku, budaya, organisasi, dan lain-lain) yang rentan eksploitasi yang mengarah kepada konflik sektarian untuk memenangkan satu ide tertentu pihak-pihak yang "berkepentingan".
Dalam makalah berjudul "Gerakan Transnasional Suriah; Refleksi untuk Indonesia" yang dimuat Dina Y. Sulaeman (seorang pengamat politik timur tengah) dalam blognya http://dinasulaeman.wordpress.com/ , Dr. Ainur Rofiq Al-Amin seorang dosen politik Islam IAIN Surabaya mengungkapkan sebuah analisis yang saya nilai tak berimbang.
kategori tulisan:
'Aqidah Crisis,
Dina Y. Sulaeman,
Media,
on my mind,
opini,
Sepilis,
Syi'ah,
Wahabi
Friday, June 14, 2013
Siapa Dina Y. Sulaeman?? (2)
Belakangan ini ada
seseorang yang selalu mengganggu pikiran saya, siapa? bukan lawan jenis, tapi teman sejenis. beliau itu Bu Dina Y. Sulaeman.
Dina??? Siapa? ( baca juga: Siapa Dina Y. Sulaeman (1))
Saya kenal beliau
(meskipun tidak secara langsung) sejak dumay ramai berbicara soal konflik
Suriah. Diam-diam, meskipun saya bukan seorang pengamat politik terlebih
pendidikan saya bukan dari politik, tapi di dumay (facebook) saya banyak
berkawan dengan orang-orang politik (PKS<= Ikhwanul Muslimin Indonesia, Hizbut Tahrir, dll), 2 kelompok pertama ini karena memang sejak pertama kali masuk
Unpad saya menyadari ada 2 kekuatan politik yang memang cukup kuat peranannya di
kampus ini. Mereka punya tempat tersendiri dalam pikiran saya dengan segala bentuk persoalannya.
Diam-diam, meski saya bukan seorang pengamat politik (diulang) tapi newsfeed facebook saya
dipenuhi postingan terkait, sebab saya memang punya banyak kawan
penyuka/pengkaji politik, saya pun jadi tak bisa menghindar untuk ikut
berpikir, berbicara, dan berkomentar soal politik (suggested).
Saya bukan sama
sekali antipati terhadap persoalan politik, dan memang pernyataan saya di atas
tidak berarti demikian.
Nah, Bu Dina ini
(secara latar belakang pendidikan formal) memang bukan dari politik, tapi lebih
dari itu beliau berbicara politik sebab beliau seorang pengamat politik
internasional. Beliau lulusan magister Hubungan Internasional Unpad setelah
sebelumnya meraih gelar sarjana dari Jurusan Sastra Arab Unpad. Jadi pas
sekali, beliau ini seorang pengamat dan pengkaji persolan timur tengah, bukan
hanya persoalan politik tapi juga aspek-aspek lainnya. Dan kebetulan saat ini
politik timur tengah memang sedang ramai-ramainya disoroti karena sedang
bergolak.
kategori tulisan:
Dina Y. Sulaeman,
Konflik Suriah,
Media,
on my mind,
opini,
perempuan,
Syi'ah,
tokoh
Siapa Dina Y. Sulaeman?? (1)
Dina Y. Sulaeman?? Siapa?
Tulisan ini bukan untuk menjawab siapa itu Dina Y. Sulaeman, namun semacam 'curhatan' pencarian. Begitulah.
Mungkin ada di antara pembaca yang tidak mengenal beliau. Tapi beliau ini cukup terkenal di kalangan orang-orang yang concern dengan media, jurnalisme, dan pemikiran. (saya pun sebetulnya belum lama mengenal beliau, he)
_____
Beberapa bulan yang lalu (entah beberapa pekan yang lalu, lupa kapan tepatnya), saya menemukan sebuah status yang beliau tulis dari news feed facebook yang saya lupa itu hasil like atau share-an salah seorang teman saya yang mana.
Saya bisa bedakan mana tulisan yang baik dan tidak walau saya akui saya belum termasuk ke dalam kategori 'lihai'. Singkat kata, Karena saya tertarik dengan tulisan dalam status tersebut, saya add saja empunya status. Syukur, friendlist beliau saat itu belum full (sebab sekarang sudah full). Tak lama, saat membuka kembali akun facebook beberapa jam setelahnya saya lihat notification ternyata beliau sudah confirm friend request saya, alhamdulillaah. Ini termasuk cepat, sebab umumnya "orang penting" jarang menghiraukan friend request orang yang biasa-biasa saja alias nggak terlalu/ enggak penting.
Selanjutnya, saat saya scroll mouse sedikit ke bawah, saya temukan status-status 'renyah' beliau. Saya masih ingat saat itu salah satu status beliau soal peluncuran buku terbarunya berjudul "Prahara Suriah" yang diterbitkan oleh Pustaka IIMaN yang di covernya terpampang beberapa wajah yang terlibat termasuk Bashar alAsad yang tepat berada di tengah-tengah covernya.
Saya like status tersebut (karena saya kagum sama orang-orang yang punya karya, hhe). Kemudian saya langsung komentari status tersebut, "Buku ini apa masuk juga ke toko buku Tisera Bu?", seketika beliau langsung balas komentar saya berikut mention nama saya, "Oh, di Tisera Jatos ya, insyaAllah ada.. :)" katanya. Sudah balasnya cepat (banyak juga yang berkomentar dan memang dibalas dengan balasan serupa), mention nama saya, pake emoticon, lhaa tau pula yang saya maksud itu Tisera Jatos… Bu Dina ini ramah sekali, memangnya siapa saya.. :P. kali aja beliau stalking2 saya dan liat kalau "kita itu satu almamater", kalii aja, :D
Finally, karena penasaran saya stalking balik akun facebook beliau. Ternyata beliau ini seorang alumni sastra Arab Unpad juga. Ya, 'kita' memang satu almamater. Beliau juga menyantumkan studi magister di jurusan Hubungan Internasional (HI) Unpad di information-about-nya. Setahu saya juga melaui status-status facebook lainnya, beliau kini juga sedang sibuk mengurusi administrasi mempersiapkan kelanjutan kuliah doktoralnya di jurusan yang sama di Unpad setelah mendapat restu dari suami beliau, katanya.
Saya semakin senang saja, karena jarang-jarang saya menemukan seorang lulusan sastra Arab, perempuan, kritis, intelektual, produktif menulis, dan sudah menerbitkan cukup banyak buku.
Tulisan ini bukan untuk menjawab siapa itu Dina Y. Sulaeman, namun semacam 'curhatan' pencarian. Begitulah.
Mungkin ada di antara pembaca yang tidak mengenal beliau. Tapi beliau ini cukup terkenal di kalangan orang-orang yang concern dengan media, jurnalisme, dan pemikiran. (saya pun sebetulnya belum lama mengenal beliau, he)
_____
Beberapa bulan yang lalu (entah beberapa pekan yang lalu, lupa kapan tepatnya), saya menemukan sebuah status yang beliau tulis dari news feed facebook yang saya lupa itu hasil like atau share-an salah seorang teman saya yang mana.
Saya bisa bedakan mana tulisan yang baik dan tidak walau saya akui saya belum termasuk ke dalam kategori 'lihai'. Singkat kata, Karena saya tertarik dengan tulisan dalam status tersebut, saya add saja empunya status. Syukur, friendlist beliau saat itu belum full (sebab sekarang sudah full). Tak lama, saat membuka kembali akun facebook beberapa jam setelahnya saya lihat notification ternyata beliau sudah confirm friend request saya, alhamdulillaah. Ini termasuk cepat, sebab umumnya "orang penting" jarang menghiraukan friend request orang yang biasa-biasa saja alias nggak terlalu/ enggak penting.
Selanjutnya, saat saya scroll mouse sedikit ke bawah, saya temukan status-status 'renyah' beliau. Saya masih ingat saat itu salah satu status beliau soal peluncuran buku terbarunya berjudul "Prahara Suriah" yang diterbitkan oleh Pustaka IIMaN yang di covernya terpampang beberapa wajah yang terlibat termasuk Bashar alAsad yang tepat berada di tengah-tengah covernya.
Saya like status tersebut (karena saya kagum sama orang-orang yang punya karya, hhe). Kemudian saya langsung komentari status tersebut, "Buku ini apa masuk juga ke toko buku Tisera Bu?", seketika beliau langsung balas komentar saya berikut mention nama saya, "Oh, di Tisera Jatos ya, insyaAllah ada.. :)" katanya. Sudah balasnya cepat (banyak juga yang berkomentar dan memang dibalas dengan balasan serupa), mention nama saya, pake emoticon, lhaa tau pula yang saya maksud itu Tisera Jatos… Bu Dina ini ramah sekali, memangnya siapa saya.. :P. kali aja beliau stalking2 saya dan liat kalau "kita itu satu almamater", kalii aja, :D
Finally, karena penasaran saya stalking balik akun facebook beliau. Ternyata beliau ini seorang alumni sastra Arab Unpad juga. Ya, 'kita' memang satu almamater. Beliau juga menyantumkan studi magister di jurusan Hubungan Internasional (HI) Unpad di information-about-nya. Setahu saya juga melaui status-status facebook lainnya, beliau kini juga sedang sibuk mengurusi administrasi mempersiapkan kelanjutan kuliah doktoralnya di jurusan yang sama di Unpad setelah mendapat restu dari suami beliau, katanya.
Saya semakin senang saja, karena jarang-jarang saya menemukan seorang lulusan sastra Arab, perempuan, kritis, intelektual, produktif menulis, dan sudah menerbitkan cukup banyak buku.
kategori tulisan:
curcol,
Dina Y. Sulaeman,
Konflik Suriah,
Media,
opini,
perempuan,
Syi'ah,
tokoh
Subscribe to:
Posts (Atom)
biarkan terbang
Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,