Rencana menghadiri bedah buku “Prahara Suriah”nya Dina Y. Sulaeman, senin kemarin (7/10/2013) saya malah bertemu Mbah Sudjiwo Tedjo. Berikut apa yang bisa saya catat,
kurang lebih seperti ini,
soalnya rekaman yang saya buat ga jelas.
-------------------
Sudjiwo Tedjo, sama-sama meyakini bahwa unsur budaya terpenting adalah bahasa. Jika bahasa rusak maka rusaklah kebudayaan suatu bangsa. Tema ini mewarnai sebagian besar isi buku yang baru saja ia terbitkan, “Dalang Galau Ngetwit” dan “Ngawur Karena Benar”. Keduanya merujuk pada persoalan yang sama.
كن عالما أو متعلما أو مستمعا أو محبا و لا تكن خامسا فتهلك :: من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة (رواه مسلم) :: العلم صيد و الكتابة قيده، قيد صيودك بالحبال الواثق
Showing posts with label filsafati. Show all posts
Showing posts with label filsafati. Show all posts
Tuesday, October 8, 2013
Kata Sudjiwo Tedjo Soal "Bahasa"
kategori tulisan:
Bahasa,
Budaya,
filsafati,
kontemplasi
Tuesday, September 3, 2013
Benih Nasionalisme, Sebuah Sintesis Sayah :D
Saya tiba-tiba berpikir...
Mungkin, dulunya benih-benih 'nasionalisme' (atau apalah namanya) itu muncul dari sebuah tuntutan untuk act locally (you surely know this phrase "Think Globally Act Locally" which means "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal.")
(Tuntutan untuk act locally ini pun sebenarnya sejalan dengan prinsip mu'amalah yang diajarkan dalam Islam. Prinsip mu'amalah dalam Islam mengutamakan kerabat ketimbang orang jauh. Dalil tentang ini pun sangat banyak kita temui)
Yang membuatnya menjadi sebuah isme (ideologi) --yang oleh sebagian orang ditempatkan dalam posisi sebuah 'keyakinan' yang harus mengorbankan diri karenanya; yang karenanya juga sebagian lainnya menentangnya karena berani-berani berusaha mencoba menyejajari otoritas tuhan dengan ideologi buatan manusia yang mesti dikuduskan-- adalah kecintaan yang 'berlebihan', takberalasan, dan konyol.
Bagaimana tidak disebut takberalasan dan konyol? Adalah na'if bila seseorang dituntut untuk mengorbankan diri demi bangsa, takjelas apa atau siapa yang harus dibela --nama bangsanya kah; pemerintahnya kah; atau rakyatnya --yang tentu dalam memilih mana yang kudu dibela menurut Islam pun harus pilih-pilih.
Karena ketakjelasan itu maka tak jelas pula apa manfaatnya; apa yang bisa kita terima dari pengorbanan itu --apakah kecintaan dan pengorbanan itu dapat menyelamatkan kita di kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang atau tidak? Betapa tidak dikatakan konyol berkorban mati-matian untuk sebuah ketakjelasan. Malah justru berusaha menyejajari otoritas Tuhan dengan sesuatu yang tidak memiliki otoritas adalah kebodohan dan kekonyolan terbesar yang dalam Islam menjadi kesalahan besar dan mampu mengategorikan pelakunya sebagai pelaku dosa teratas.
Kita pun tahu dari sirah bahwa betapa kaum muhajirin (termasuk Rasulullah Saw.) dulu begitu merindukan Makkah alMukarramah tanah kelahiran mereka, dan menangis terharu kegirangan ketika futuh Makkah mengantarkan mereka kembali ke sana.
Namun cinta ini tentu bukan cinta yang mengarahkan para pecintanya untuk memberhalakannya sehingga menomorsatukannya di atas segalanya.
Tentu rasa mencintai sesuatu karena telah lama membersamai kita itu sebuah kodrat. Terlebih Makkah bagi Muhajiriin adalah kenangan paling berkesan yang ditinggalkan para punggawa risalah Allah sejak dulu, sejak Allah mengutus NabiNya Ibrahim As.
Mungkin, dulunya benih-benih 'nasionalisme' (atau apalah namanya) itu muncul dari sebuah tuntutan untuk act locally (you surely know this phrase "Think Globally Act Locally" which means "Berpikirlah secara global, bertindaklah secara lokal.")
(Tuntutan untuk act locally ini pun sebenarnya sejalan dengan prinsip mu'amalah yang diajarkan dalam Islam. Prinsip mu'amalah dalam Islam mengutamakan kerabat ketimbang orang jauh. Dalil tentang ini pun sangat banyak kita temui)
Yang membuatnya menjadi sebuah isme (ideologi) --yang oleh sebagian orang ditempatkan dalam posisi sebuah 'keyakinan' yang harus mengorbankan diri karenanya; yang karenanya juga sebagian lainnya menentangnya karena berani-berani berusaha mencoba menyejajari otoritas tuhan dengan ideologi buatan manusia yang mesti dikuduskan-- adalah kecintaan yang 'berlebihan', takberalasan, dan konyol.
Bagaimana tidak disebut takberalasan dan konyol? Adalah na'if bila seseorang dituntut untuk mengorbankan diri demi bangsa, takjelas apa atau siapa yang harus dibela --nama bangsanya kah; pemerintahnya kah; atau rakyatnya --yang tentu dalam memilih mana yang kudu dibela menurut Islam pun harus pilih-pilih.
Karena ketakjelasan itu maka tak jelas pula apa manfaatnya; apa yang bisa kita terima dari pengorbanan itu --apakah kecintaan dan pengorbanan itu dapat menyelamatkan kita di kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang atau tidak? Betapa tidak dikatakan konyol berkorban mati-matian untuk sebuah ketakjelasan. Malah justru berusaha menyejajari otoritas Tuhan dengan sesuatu yang tidak memiliki otoritas adalah kebodohan dan kekonyolan terbesar yang dalam Islam menjadi kesalahan besar dan mampu mengategorikan pelakunya sebagai pelaku dosa teratas.
Kita pun tahu dari sirah bahwa betapa kaum muhajirin (termasuk Rasulullah Saw.) dulu begitu merindukan Makkah alMukarramah tanah kelahiran mereka, dan menangis terharu kegirangan ketika futuh Makkah mengantarkan mereka kembali ke sana.
Namun cinta ini tentu bukan cinta yang mengarahkan para pecintanya untuk memberhalakannya sehingga menomorsatukannya di atas segalanya.
Tentu rasa mencintai sesuatu karena telah lama membersamai kita itu sebuah kodrat. Terlebih Makkah bagi Muhajiriin adalah kenangan paling berkesan yang ditinggalkan para punggawa risalah Allah sejak dulu, sejak Allah mengutus NabiNya Ibrahim As.
'alaa kulli haal, itulah mengapa sifat ghuluw/ishraf (berlebihan) itu dicela dalam Islam. Karena ia dapat seketika mendekatkan para pelakunya kepada dosa teratas yang dapat membuat Empunya otoritas tertinggi -Allah Swt. murka.
wallaahu a'lamu bish-shawaab_
kategori tulisan:
'Aqidah Crisis,
filsafati,
kontemplasi,
nasionalisme,
on my mind,
opini
Monday, September 2, 2013
Teori Menulis Efektif Temuan Pemula (hohoho... :D)*
Meski ini (Siapa Dina Y. Sulaeman?? (1)) tulisan sederhana yang sekedar curhatan (bukan tulisan ilmiah), --saya heran- ternyata mampu menyedot perhatian lebih dari 1100 pembaca dan beberapa komentar, lain dengan tulisan-tulisan di blog saya lainnya yang umumnya baru hanya dikunjungi oleh kurang dari 20 pembaca. Karena tulisan yang dimuat kurang dari tiga bulan yang lalu ini kontan visitor blog saya meningkat tajam hampir 100 persen, dari hanya 3000an sejak tahun 2011, kini jadi 5600an hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Disusul oleh lanjutan tulisan ini (Siapa Dina Y. Sulaeman?? (2)) yang memeroleh lebih dari 500an pembaca. Bagi saya yang masih pemula di dunia kepenulisan, ini capaian yg luar biasa. Padahal saya takpernah share tulisan ini di facebook yang memungkinkan dapat dibaca oleh banyak teman-teman saya.
Jadi, semoga menulis menjadi passion semua muslim (baca: QS al-Qalam dan tafsirnya), sebab semakin sini semakin teknologi informasi menjadi gaya hidup orang semakin rajin membaca. Bisa kita bayangkan betapa sebuah tulisan yang inspiratif pahalanya akan berlipat-lipat sampai kita mati, multi level pahala. Yok, terus berlatih! Wallaahu a'lam_
*saya tahu judul ini tak cocok :D
Respon pembaca terhadap tulisan ini umumnya baik. Ada di antaranya yang mendapat pencerahan dan bersyukur karena menemukan tulisan ini, ada juga yang memberi apresiasi karena kejujuran dan ketidak-buru-buruan saya dalam menilai seseorang. Walau saya sadar pada beberapa bagian masih ada yang kurang enak dibaca karena diksi yang taktepat.
Awalnya saya sempat kuatir Dina jadi unfriend atau block saya di FB, sampai sekarang pun masih kuatir sebetulnya, kuatir kalau takbisa pantau aktivitasnya lagi. Sebab kecil kemungkinan beliau yang pemerhati media (jurnalis) tak menemukan tulisan yang muncul di temuan teratas di search engine ini :| ), tapi tak apalah, ini era demokrasi yang siapapun bebas berpendapat. Dina pun menulis pendapatnya dengan bebas (seenaknya), maka tak apa saya utarakan opini saya.
Dari capaian yang bagi saya luar biasa ini (seratus persen dalam kurang dari tiga bulan), saya menemukan bahwa ternyata popularitas sebuah tulisan ditentukan oleh: Pertama, judul apa yang kira-kira banyak dicari orang di search engine. Ini penting, mengingat sebuah tulisan yang 'visioner' bertujuan memengaruhi orang. Semakin banyak orang yang terpengaruh dengan tulisan tersebut, maka semakin baik. Cover buku yang baik akan menarik pelanggan. Judul tulisan yang baik pun sama.
Awalnya saya sempat kuatir Dina jadi unfriend atau block saya di FB, sampai sekarang pun masih kuatir sebetulnya, kuatir kalau takbisa pantau aktivitasnya lagi. Sebab kecil kemungkinan beliau yang pemerhati media (jurnalis) tak menemukan tulisan yang muncul di temuan teratas di search engine ini :| ), tapi tak apalah, ini era demokrasi yang siapapun bebas berpendapat. Dina pun menulis pendapatnya dengan bebas (seenaknya), maka tak apa saya utarakan opini saya.
Dari capaian yang bagi saya luar biasa ini (seratus persen dalam kurang dari tiga bulan), saya menemukan bahwa ternyata popularitas sebuah tulisan ditentukan oleh: Pertama, judul apa yang kira-kira banyak dicari orang di search engine. Ini penting, mengingat sebuah tulisan yang 'visioner' bertujuan memengaruhi orang. Semakin banyak orang yang terpengaruh dengan tulisan tersebut, maka semakin baik. Cover buku yang baik akan menarik pelanggan. Judul tulisan yang baik pun sama.
Biasanya, ketika suatu isu sedang jadi trending topic --misal terkait tokoh Syiah satu ini yg saya tulis saat media merilis nama tokoh-tokoh syi'ah Indonesia, yang banyak dicari dan diketik orang di sebuah search engine adalah kata "siapa" dilanjut dengan nama orang yg dicari informasi tentangnya (ini untuk subjek manusia, kalau subjeknya benda bisa menggunakan "apa itu (bla-bla-bla...)" dan komponen 5W-1H lainnya yang merupakan representasi tuntutan kepenasaranan seseorang).
Kalau boleh jujur, sebetulnya judul yang termasuk tampilan teratas di gugel ketika dicari ini (coba ketik: "siapa Dina Y. Sulaeman" atau "Dina Y. Sulaeman" atau yang terkait di gugel) saya buat tanpa sengaja. Ini memang benar-benar tulisan yang berusaha mencari tahu siapa itu Dina Y. Sulaeman, bukan sebaliknya --menjawab pertanyaan siapa beliau itu. Kedua, tulisan tersebut membahas topik yang sedang hangat. Ketiga, gaya menulis. Keempat, baru gagasan.
Jadi, semoga menulis menjadi passion semua muslim (baca: QS al-Qalam dan tafsirnya), sebab semakin sini semakin teknologi informasi menjadi gaya hidup orang semakin rajin membaca. Bisa kita bayangkan betapa sebuah tulisan yang inspiratif pahalanya akan berlipat-lipat sampai kita mati, multi level pahala. Yok, terus berlatih! Wallaahu a'lam_
"Aku, sebutir biji baru matang yang berusaha menggeliat mengeluarkan tunasnya di tengah-tengah hiruk pikuk penguasaan wacana oleh 'Barat' yang hegemonik. Meski begitu kecil, harapanku begitu besar."
*saya tahu judul ini tak cocok :D
kategori tulisan:
belajar ngagas,
filsafati,
menulis efektif,
on my mind
Subscribe to:
Posts (Atom)
biarkan terbang
Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,
