Thursday, June 27, 2013

Muslimdaily.net Siapkan Insan Media Beradab


BANDUNG --Training Jurnalistik gratis Muslimdaily.net dibuka hari ini, Ahad (16/6/2013) di Pondok Tinggi al-Quran Maqdis, kediaman Ust. Syaiful Islam, Jl. Riungpurna II No. 18, Riung Bandung.

Training yang dimulai pukul 10.00 ini dibuka oleh pimred Muslimdaily.net sendiri M. Zulfikri dengan tontonan beberapa film dokumenter terkait penggunaan media sosial beberapa tahun belakangan yang peranannya sangat signifikan.

Beberapa tayangan dalam dokumeter tersebut memperlihatkan beberapa fakta perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan riil secara revolusioner dan dramatis berkat 'peran' media sosial, seperti fenomena "Koin untuk Prita", #IndonesiaTanpaJIL, dan lain-lain.

Saturday, June 15, 2013

Jeneralisasi Ainur Rofiq

Jeneralisasi merupakan salah satu yang menjadi serabut akar konflik. Begitu mudahnya orang menjustifikasi kesalahan individu sebagai kesalahan kelompok. Nila setitik rusak susu sebelanga.

Ini pula akar sering terjadi di Indonesia. Apalagi, selain kaya sumber daya, Indonesia juga kaya kelompok sosial (Agama, ras, suku, budaya, organisasi, dan lain-lain) yang rentan eksploitasi yang mengarah kepada konflik sektarian untuk memenangkan satu ide tertentu pihak-pihak yang "berkepentingan".

Dalam makalah berjudul "Gerakan Transnasional Suriah; Refleksi untuk Indonesia" yang dimuat Dina Y. Sulaeman (seorang pengamat politik timur tengah) dalam blognya http://dinasulaeman.wordpress.com/ , Dr. Ainur Rofiq Al-Amin seorang dosen politik Islam IAIN Surabaya mengungkapkan sebuah analisis yang saya nilai tak berimbang.

Friday, June 14, 2013

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (2)

Belakangan ini ada seseorang yang selalu mengganggu pikiran saya, siapa? bukan lawan jenis, tapi teman sejenis. beliau itu Bu Dina Y. Sulaeman.

Dina??? Siapa? ( baca juga: Siapa Dina Y. Sulaeman (1))
Saya kenal beliau (meskipun tidak secara langsung) sejak dumay ramai berbicara soal konflik Suriah. Diam-diam, meskipun saya bukan seorang pengamat politik terlebih pendidikan saya bukan dari politik, tapi di dumay (facebook) saya banyak berkawan dengan orang-orang politik (PKS<= Ikhwanul Muslimin Indonesia, Hizbut Tahrir, dll), 2 kelompok pertama ini karena memang sejak pertama kali masuk Unpad saya menyadari ada 2 kekuatan politik yang memang cukup kuat peranannya di kampus ini. Mereka punya tempat tersendiri dalam pikiran saya dengan segala bentuk persoalannya.

Diam-diam, meski saya bukan seorang pengamat politik (diulang) tapi newsfeed facebook saya dipenuhi postingan terkait, sebab saya memang punya banyak kawan penyuka/pengkaji politik, saya pun jadi tak bisa menghindar untuk ikut berpikir, berbicara, dan berkomentar soal politik (suggested).

Saya bukan sama sekali antipati terhadap persoalan politik, dan memang pernyataan saya di atas tidak berarti demikian.

Nah, Bu Dina ini (secara latar belakang pendidikan formal) memang bukan dari politik, tapi lebih dari itu beliau berbicara politik sebab beliau seorang pengamat politik internasional. Beliau lulusan magister Hubungan Internasional Unpad setelah sebelumnya meraih gelar sarjana dari Jurusan Sastra Arab Unpad. Jadi pas sekali, beliau ini seorang pengamat dan pengkaji persolan timur tengah, bukan hanya persoalan politik tapi juga aspek-aspek lainnya. Dan kebetulan saat ini politik timur tengah memang sedang ramai-ramainya disoroti karena sedang bergolak.

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (1)

Dina Y. Sulaeman?? Siapa?
Tulisan ini bukan untuk menjawab siapa itu Dina Y. Sulaeman, namun semacam 'curhatan' pencarian. Begitulah.

Mungkin ada di antara pembaca yang tidak mengenal beliau. Tapi beliau ini cukup terkenal di kalangan orang-orang yang concern dengan media, jurnalisme, dan pemikiran. (saya pun sebetulnya belum lama mengenal beliau, he)
_____
Beberapa bulan yang lalu (entah beberapa pekan yang lalu, lupa kapan tepatnya), saya menemukan sebuah status yang beliau tulis dari news feed facebook yang saya lupa itu hasil like atau share-an salah seorang teman saya yang mana.

Saya bisa bedakan mana tulisan yang baik dan tidak walau saya akui saya belum termasuk ke dalam kategori 'lihai'. Singkat kata, Karena saya tertarik dengan tulisan dalam status tersebut, saya add saja empunya status. Syukur,  friendlist beliau saat itu belum full (sebab sekarang sudah full). Tak lama, saat membuka kembali akun facebook beberapa jam setelahnya saya lihat notification ternyata beliau sudah confirm friend request saya, alhamdulillaah. Ini termasuk cepat, sebab umumnya "orang penting" jarang menghiraukan friend request orang yang biasa-biasa saja alias nggak terlalu/ enggak penting.

Selanjutnya, saat saya  scroll mouse sedikit ke bawah, saya temukan status-status 'renyah' beliau. Saya masih ingat saat itu salah satu status beliau soal peluncuran buku terbarunya berjudul "Prahara Suriah" yang diterbitkan oleh Pustaka IIMaN yang di covernya terpampang beberapa wajah yang terlibat termasuk Bashar alAsad yang tepat berada di tengah-tengah covernya.

Saya like status tersebut (karena saya kagum sama orang-orang yang punya karya, hhe). Kemudian saya langsung komentari status tersebut, "Buku ini apa masuk juga ke toko buku Tisera Bu?", seketika beliau langsung balas komentar saya berikut mention nama saya, "Oh, di Tisera Jatos ya, insyaAllah ada.. :)" katanya. Sudah balasnya cepat (banyak juga yang berkomentar dan memang dibalas dengan balasan serupa), mention nama saya, pake emoticon, lhaa tau pula yang saya maksud itu Tisera Jatos… Bu Dina ini ramah sekali, memangnya siapa saya.. :P. kali aja beliau stalking2 saya dan liat kalau "kita itu satu almamater", kalii aja, :D

Finally, karena penasaran saya stalking balik akun facebook beliau. Ternyata beliau ini seorang alumni sastra Arab Unpad juga. Ya, 'kita' memang satu almamater. Beliau juga menyantumkan studi magister di jurusan Hubungan Internasional (HI) Unpad di information-about-nya. Setahu saya juga melaui status-status facebook lainnya, beliau kini juga sedang sibuk mengurusi administrasi mempersiapkan kelanjutan kuliah doktoralnya di jurusan yang sama di Unpad setelah mendapat restu dari suami beliau, katanya.

Saya semakin senang saja, karena jarang-jarang saya menemukan seorang lulusan sastra Arab, perempuan, kritis, intelektual, produktif menulis, dan sudah menerbitkan cukup banyak buku.

Thursday, May 23, 2013

Kisah Mu'allaf Korea, terjemahan



Akan kuceritakan kisah tentang bagaimana akhirnya aku mnjadi seorang muslim.

Aku dilahirkan dalam keluarga kristen, keluargaku menginginkanku menjadi seorang pastor, karena itu aku mempelajari bibel dan kemudian mulai melakukan kristenisasi sehingga aku sekolah di sekolah misionaris.

Namun setelah itu orangtuaku meninggal, hingga aku hidup sendiri.

Kemudian aku diterima di beberapa universitas di Korea untuk mempelajari bahasa Cina. Tapi aku tak bisa memasukinya karena biaya kuliah di Universitas-universitas swasta Korea sangat mahal (membebani).

Karena itu aku mulai bekerja dalam sejumlah jabatan, (selama itu) aku terbiasa mendengarkan musik dan nyanyian karena merasa teramat sedih.

Aku tak dapat menemukan 'hakikat' dalam ajaran kristen, pada masa-masa tersulit dalam kehidupanku sekalipun. Kemudian aku berdoa, "Jika Allah itu benar-benar ada, maka berikanku petunjuk jalan yang benar ya Allah."

Setelah itu aku menemukan sejumlah buku dan materi-materi terkait Islam dan Muslimin, aku juga mengetahui isu-isu seputar Palestina. Sejak itulah aku mulai mempelajari Islam, dan ketika aku membaca surah al-Ikhlash, aku baru tahu bahwa Allah itu esa, Dia Tuhan Yang Esa, Yang mengurus alam semesta. Aku merasa Islam telah memelukku, kemudian aku menyatakan keIslamanku setelah sebulan mempelajarinya, alhamdulillah..

Sekarang aku sudah tidak mendengarkan musik, yang aku dengarkan hanyalah lantunan al-Quran.. "tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah", tidak ada jalan yang benar kecuali jalan Islam, sementara aku sangat bahagia menjalankan sunnah. Alhamdulillah atas segala ni'mat Islam dan Sunnah (Rasulullah, pent.). Segala puji bagi Allah Rabb semesta..

Friday, May 3, 2013

The Amazing "Idea"


Orang perlu menulis untuk mendeskripsikan idenya. Motif dari "menulis" ini tentu bisa beragam, bisa karena keinginan agar idenya menginspirasi orang lain (kemanfaatan), bisa juga agar idenya dikritisi orang lain sebab merasa idenya masih belum mapan, dan mungkin bisa juga untuk "mengurung" ide tersebut agar tidak "kabur", atau mencari perhatian (sepertipuisi-puisi cinta seseorang kepada kekasihnya), atau hanya agar puas saja. Salah satu, sebagian, atau seluruh motif ini bisa ada pada siapapun yang menulis. Yang jelas, menulis adalah satu usaha agar ide kita diketahui orang lain.

Terciptalah buku-buku yang menjadi hasil dokumentasi dari ide-ide tersebut. ketebalan buku yang variatif menjadi bukti sedemikian kompleksnya ide yang ada di dalam otak penulis. Memaparkan satu objek memerlukan pemaparan objek turunan lainnya yang berkaitan, menjelaskannya, sehingga menjadi jelas bagi siapapun yang mempelajari ide tersebut. Begitu seterusnya hingga tergambarlah satu konsepsi yang bulat (dirasa mapan). Namun tebalnya buku yang mendokumentasikan gagasan kompleks seseorang tentang suatu objek tak lantas menjadikan pembacanya paham dengan gagasan si penulis secara utuh. Begitulah rumit dan kompleksnya sistem pengolahan informasi yang dimiliki akal manusia, beratus-ratus jilid buku yang ia hasilkan takkan mampu mendokumentasikan seluruh gagasannya secara utuh. Maha Suci Allah…. ^^"

Itulah sebabnya sangat banyak saran, kritik, atau bahkan penafsiran ulang yang dilakukan oleh pembaca gagasan terhadap dokumentasi tertuang ke dalam lembaran-lembaran kertas yang dijilid tersebut, dan kita tahu apresiasi yang diberikan sangat banyak, bahkan bisa melebihi karya awal yang dibuat. Lihatlah ilmuwan-ilmuwan muslim berapa ratus jilid buku yang mereka hasilkan, namun tulisan-tulisan lain yang menuliskan apresiasi terhadap karya-karya tersebut terus-menerus bermunculan dan berlanjut hingga kini, sejak berabad-abad yang lalu…

Subhaanallaah...

Wednesday, May 1, 2013

Perjuangan Jilbab Kami


Baca artikel tetang sejarah hijab nusantara yang ditulis Kak Sarah Mantovani (http://thisisgender.com/hijab-indonesia-sejarah-yang-terlupakan/), jadi ingat barang 16 tahunan yang lalu, saat Ibu mulai memakaikan kerudung di atas kepala saya di hari pertama masuk sekolah dasar.

Oya, zamannya Ibu-Ibu kita kuliah, barangkali zamannya revolusi jilbab yang Kak Sarah bilang di paragraf-paragraf terakhir artikelnya itu. Dulu, katanya Ibu pernah ikutan Usrah (Usrah itu satu akronim yang entah apa singkatannya saya lupa), yang jelas itu satu kelompok kajian Islam yang dari penuturan beliau saya kira masih mirip-mirip sama gerakan tarbiyyah yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin. Kalau ia, saya terka mungkin ini gerakan awal-awal mereka memasuki ranah akademisi (baca: mahasiswa) meski perkembangannya pada saat itu belum sesignifikan sekarang secara kuantitas.

biarkan terbang

Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,