Showing posts with label curcol. Show all posts
Showing posts with label curcol. Show all posts

Thursday, February 13, 2014

Apa Kabar Manhaj dan Uslub Pendidikan Islam?

3 Feb 2014

Ide "jangan mengatakan 'jangan' pada anak" pertama kali saya dapatkan beberapa tahun lalu saat membaca karya Quantum-nya Bobbi DePorter & Mike Hernacki, Quantum Learning. Karya-karya semacam ini sebagaimana (juga) karya Dale Carniege yang menurut sebagian orang memiliki muatan 'humanisme' setidaknya menjadi karya revolusioner sejak pertama kali diterbitkan dan menjadi bestseller yang mampu menginspirasi juga mengubah paradigma banyak orang --termasuk pakar dan praktisi pendidikan-- tentang metode pendidikan.

Di Indonesia, Kak Seto, Arif Rahman & Munif Chatib juga mungkin menjadi salahsatu di antara sekian banyak yang terinspirasi. Mahasiswa UPI dan lainnya yang berlatar pendidikan pasti tak asing dengan buku ini.
Buku ini juga sempat masuk ke dalam list buku 'the most inspiring' saya. Banyak hal terkait pendidikan yang membuka mata saya terhadap kekeliruan cara mendidik yang saat ini banyak dilakukan orang tua, lingkungan, bahkan lembaga pendidikan itu sendiri. Efeknya, selain menginspirasi keseharian saya memperlakukan orang lain, saya juga sempat merasa sangat kecewa pada sekaligus sok merasa lebih tahu dari orangtua saya karena beberapa cara mendidik mereka yang menurut buku tersebut salah << mungkin ini efek buruknya).

Di Indonesia, lihat ada berapa banyak karya yang dihasilkan Munif Chatib berkat inspirasi metode global learning-nya DePorter ini, juga karya-karya serupa yang merupakan pengembangan darinya yang banyak diterbitkan Kaifa Publishing.

Nah, sekarang, ini mengemuka dengan 'wajah yang lain'. Walau saya belum membaca banyak.
'Agak' sayang memang beberapa abad terakhir ini muslim terbelakang --shingga tidak mampu memproduksi ide-ide dan konsep-konsep segar yang dapat memenuhi kebutuhan manusia yang senantiasa berubah-ubah. (tapi tak ada gunanya 'kukulutus')

Semoga saja sesuatu mampu menggenjot stamina Muslim untuk dapat bergerak lebih dari biasa sehingga mampu mengejar ketertinggalan itu >>berkarya tanpa cacat, karya yang Islamii. Aamiin..

wallaahu a'lamu bi shshawaab

Monday, November 11, 2013

Where are we going???

(Saya tulis ketika mengunjungi grup FB Keluarga Akademisi Persis Unpad. Sengaja grup tersebut saya tampangi gambar jalan di tengah hutan)

krik. krik.. krik... krik....
masih,
suara jangkrik yang mendominasi di antara rimbun dedaunan yang bergesekan satu sama lain
di sana gelap
karena ia jarang dijamah manusia
entah kenapa
padahal sebuah jalan sudah dibangun beberapa tahun lalu
untuk membelah hutan tersebut.

maksudnya,
agar ada yang mau membuat peradaban di seberang hutan sana.
tahukah?
di sana,
ada mentari yang jika terbit alangkah indahnya.
ada embun yang masih setia menggelayuti setiap serat tetumbuhan.
ada cekungan yang sedia menampung aliran embun itu jika terjatuh,
agar cinta bisa dibagi ke semesta,
menumbuhkan senarai elok berwarna warni,
penyegar mata
dan kalbu.

tapi hanya
krik.. krik... krik....
dan sesekali suara gagak
yang seram

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (4)

Ini komentar Dina Sulaeman terhadap catatan saya beberapa waktu yang lalu, cek di sini,  Dina menuduh saya memfitnahnya tanpa mau bertabayun kepada saya, bahkan malah saya diblok dari friendlistnya di facebook.

Tapi, usut punya usut, ini ternyata memang kebiasaannya, ia tak segan akan memblokir seseorang dalam friendlistnya di FB jika tak sepaham dengannya (menyatakan ketidaksepahamannya). Sebab ini pun pernah terjadi pada beberapa teman saya lainnya. Seorang di antaranya adalah bu Erma. Saya masih ingat, ketika itu, sebelum saya berteman dengan Dina Y. Sulaeman di facebook (apa setelah berteman sebentar ya? saya lupa, pokoknya gitu deh) Bu Erma pernah mengeluhkan dirinya diblock Dina dari friendlistnya hanya karena tak sepaham pandang soal konflik Suriah. Jika Bu Erma ‘secara kebetulan’ sepandang dengan media mainstream barat (begitu juga media-media Islam Indonesia lainnya), Dina ‘tetap konsisten’ menunjukkan ketakberpihakannya pada Israel, dan tentu sejurus dengan itu Dina mengambil sikap ‘anti barat’ dan ‘anti media barat’. Dina dalam berbagai tulisannya mengampanyekan bahwa (apa yang disebutnya sebagai) konflik antarmadzhab (antarmadzhab yee :P) sengaja secara kompak diblow-up oleh media mainstream Barat ‘didukung’ oleh media mainstream Islam Indonesia itu untuk mengalihkan perhatian dari konflik sebenarnya, yaitu konflik Israel-Palestina. ooyeeaaaahh!!!

____________
Ohya, Dina memang seharusnya tak terusik tak bergeming ketika ada tulisan yang mencoba menyerangnya, Ia seorang publik figur kontroversial, tentu hal biasa baginya. Merasa terusik seperti itu hanya akan menunjukkan kelemahannya. Tapi sepertinya Dina menuruti saran saya itu, sebab ia tak pernah lagi membahasnya. :P

Tapi, btw, untuk apa pula saya masih saja membahas Dina Y. Sulaeman?
Cukupi saja lah, apa anda tak takut dengan ancaman konsekuensi ‘mengghibah’ dan ‘memfitnah’ sebagaimana hadits yang oleh Dina kutip dalam komentarnya terhadap tulisan anda tempo lalu??
Oh no, this is not a part of ‘me’. Saya hanya sekadar merenung tentang beberapa hal yang bertubrukkan dalam otak saya lalu saya curhatkan di sini. Semoga dengan begitu keterpusingan saya bisa terobati. Bukan begitu, saya hanya merasa bersedih karena kecewa didepak olehnya dari friendlistnya, padahal saya ngefans. Tapi, tidak tidak, bukan begitu, saya hanya kecewa karena Dina yang baik hati ternyata bersekongkol dengan mereka untuk mengecewakan saya.

Ya, Dina menelanjangi media Islam mainstream untuk menunjukkan seolah ia seorang jurnalis yang adil. Namun ia adil hanya tatkala menyerang sunni. Di kemanakan fakta-fakta kekejian Bashar al-Asad yang banyak itu? tak pernah ia sebut. Begitukah jurnalis yang adil?

Ssttt…. Sudah lah, jangan bersedih…. Coba simak dulu di bawah ini, lalu kamu bisa melanjutkan kesedihanmu. Hiks hiks..

Di jumlah total pembaca ke-2000an tulisan sederhana saya soal siapa Dina Y. Sulaeman, Ada beberapa perkembangan informasi terkaitnya yang perlu saya catat di sini. Pertama, Otong Sulaeman, suami dari Dina Sulaeman yang sedang menempuh pendidikan doktoralnya di Filologi FIB Unpad yang prodi tersebut diketuai oleh dosen pembimbing skirpsi saya Prof. syarif Hidayat (panjang juga keterangannya, maaf ya kalau gak bisa nafas dulu bacanya) kini sedang melakukan penelitian filologi penting di Iran. Dina ikut dalam penelitian tersebut bersama suaminya ke Iran.

Dari situ saya tahu, Dina, mahasiswi teladan pertama se-fakultas sastra & teladan kedua se-Universitas pada masanya ini memang sangat berprestasi. Ini saya ketahui dari tulisannya yang berjudul Pentingnya Sejarah yang menceritakan sekelumit pengalamannya dan suaminya saat melakukan penelitian itu di Iran beberapa waktu yang lalu. Dina dan suaminya selain pandai berbahasa Inggris dan Arab, juga bahasa Persia, lisan maupun tulisan.

Dina dalam berbagai tulisannya memang kerap membuat terjemahan dari bahasa Inggris maupun Arab. Terjemahan itu selalu mengikutkan link tulisan aslinya, meski tak yakin juga apa para pembacanya suka mengakses link tersebut atau tidak. Terjemahannya sangat baik, mengalir, enak dibaca, dan mudah dicerna, seolah bukan terjemahan.

Soal bahasa Persia, sejak pertama menerima beasiswa studi di Iran, Dina barang tentu sudah mempelajarinya. Sebab tak mungkin sekolah di luar negeri tanpa menguasai bahasa setempat. Ini juga ditonjolkan Dina dalam beberapa tulisan terakhirnya ketika menceritakan soal penelitian filologi suaminya. Otong berdiskusi dengan seorang Rektor Univ. Ferdowsi terkait naskah-naskah kuno ketika berusaha menjelaskan apa itu arti filologi dalam bahasa Persia. Katanya, orang Iran tak mengerti apa itu filologi karena memang akademisi Iran tak menemukan kesulitan yang berarti ketika membaca naskah-naskah kuno tersebut, jadi tak perlu memelajari ilmu-ilmu khusus seperti itu. Hal ini lain dengan di Indonesia, yang bahkan menurut filolog Titin Nurhayati Makmun pun penelitian terhadap naskah-naskah kuno yang penting ini masih teramat minim, hanya dapat dihitung jari. Huh, apatah lagi kalau semua orang Indonesia bisa mengakses (baca: memahaminya), malahan ia dikeramatkan oleh sebagian orang karena dianggap suci.

Kedua, Dina Suleman yang beberapa bulan yang lalu masih mengurusi administrasi untuk melanjutkan studi doktoralnya di HI Unpad, kini sudah pede memajang namanya dengan embel-embel “Mahasiswa Program Doktor Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Peneliti Global Future Institute” di setiap tulisannya. Nampaknya memang, ia serius, bahkan sangat serius dengan studinya, sangat kompak dengan suaminya.

Saya jadi tambah galau (walau skripsi saya belum kunjung selesai), studi apa ya yang selanjutnya mau saya ambil? Budaya, Linguistik, atau filologi?

Alternatif terakhir ini baru saya tertariki setelah membaca beragam buku terkait hermeneutika dan usaha pengaplikasiannya dalam studi al-Quran, juga buku-buku terkait sejarah melayu-Indonesia, terutama buku Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu Prof al-Attas, juga makalah Titin Nurhayati Makmun terkait studi naskah keagaamaan di nusantara yang ternyata di nusantara (baca: Melayu) ini khazanah budaya dan intelektual keIslaman teramat melimpah, sementara studi terhadapnya sangat minim. Ditambah keseriusan Otong Sulaeman yang bikin saya mendidih, pasalnya, koq saya nggak serius sejak awal????!!!!! Saya baru sadar kalau ternyata kuliah di jurusan sastra Arab itu beeeeerrrrraattt sekali. Maka saya pernah mempertanyakan, mengapa Unpad tak membuka fakultas khusus soal Oriental dan Islamic Studies?? Bahan kajiannya itu luas banget broo!! Nggak kuat!!

Alaa kulli haal, ini barangkali patut kita jadikan renungan dan pelajaran, bahwa dalam kompetisi antara haqq dan bathil ini kita tak semestinya membuang-buang waktu untuk hal-hal tak berfaidah. Dina dan keluarganya ini tentunya cukup untuk dijadikan inspirasi, bahwa kita harus semakin keras berusaha. Peluh harus semakin banyak tercucur, mata harus semakin sedikit terlelap,
semoga Allah memberkahi siapapun yang berjuang di jalanNya.. aamiin..

Selain itu, ketiga, hal lain yang ingin saya ungkapkan di sini. Pasca dua seri memoir saya tentang Dina saya terbitkan (memang kedua tulisan tersebut belum agak cukup untuk menunjukkan siapa Dina), seorang aktivis Muslimah Hizbut tahrir Indonesia yang juga ngefrend di FB tiba-tiba mengirim message/chat ke saya
"hei
Risna saya baca postingan blog kamu tentang bu Dina
Masalah kamu sepertinya kerangka berfikir
Kamu harus melepaskan label, gerenalisasi, dan menilai orang dari fakta yang zhahir saja.
kenapa kamu gak nanya langsung ke bu Dina saja tentang beliau.
Bu dina itu orangnya terbuka. Beliau pernah main ke DPP Muslimah HT untuk penelitian
dia ngoblol banyak dan secara pandangan politik banyak kesamaan walaupun dalam banyak hal lain dia gak setuju.
Syi'ah di Indonesia lebih banyak prasangkanya daripada faktanya.
Ada banyak aliran syi'ah dan kita gak bisa generalisasi."
Barangkali si Teteh itu tak membaca tuntas tulisan saya, apatah lagi membaca tulisan-tulisan Dina di blognya (???). Bahwa Dina tak pernah sedikitpun menaruh simpati pada Hizbut Tahrir. Untuk membuktikannya, silakan saja baca tulisan-tulisannya, tak pernah ada pujian untuk HT, apalagi untuk usaha-usahanya ideologisnya, bahkan justru secara tidak langsung mencacinya, membongkar aib-aibnya, lihat saja pada tulisannya yg memuat gambar MHT sedang berdemonstrasi di ….. soal gambar yang MHT muat di situsnya. Atau baca tulisan Ainur Rofiq yang secara sukarela dimuat Dina dalam Blognya yang menunjukkan bahwa Dina mendukung benar-benar gagasan Ainur Rofiq itu, bahwa HT bagi Dina termasuk dalam kategori takfiri (selain salafi wahabi) yang kekuatannya jika tidak dibendung akan mengancam keutuhan NKRI, tidakkah itu saja sudah jelas?

Then,

Allaahu a’lam bi sh-shawaab_

Monday, October 28, 2013

"Capruk" Soal Musik

Mendengar Love Storynya Richard Clayderman, Simphonynya Bethoven, saya jadi ingat berbulan-bulan ke belakang, ada seorang mahasiswa FIB memainkan piano klasik yang dipajang begitu saja di lobi dekanat FIB Unpad (sekarang piano itu entah dipindah ke mana).

Saya pernah mencoba memencet-mencet tutsnya saat lobi dekanat itu sepi. Karena ungkin terlihat aneh, saya pun menghentikan usaha saya itu, sebab ada orang melihat saya (seperti baru memegang benda semacam itu :D )

Wednesday, September 18, 2013

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (3)

Terkait kisruh Suriah yang mencuat ke permukaan beberapa bulan lalu –termasuk di antaranya rilis berita beberapa media mainstream Islam Indonesia soal tokoh-tokoh Syi’ah di Indonesia yang mesti diwaspadai--, saya membuat catatan tentang kronologi bagaimana akhirnya saya mengenal salah seorang di antaranya, yaitu Dina Y. Sulaeman, mesti tak secara langsung. Catatan tersebut bisa dibaca di sini.

Visitor blog saya kontan meningkat tajam hanya karena tulisan tersebut --tulisan tersebut hingga bisa menempati halaman pertama di search engine ketika dicari--, maka lantas beberapa waktu lalu saya membuat sebuah tulisan kecil untuk saya bagi di grup komunitas menulis saya di Facebook terkait bagaimana akhirnya blog saya itu dapat memeroleh kunjungan yang fantastis dari para pengguna internet.

Saya pun lalu posting tulisan tersebut di grup komunitas menulis dan kemudian memostingnya kembali di blog pribadi saya ini dengan beberapa perubahan dan tambahan (tulisan tersbut bisa dibaca di sini) Dalam tulisan tersebut saya membuat link ke tulisan soal kronologi mengenal Dina, juga menulis salah satu paragrafnya di antaranya berbunyi sebagai berikut:

Friday, June 14, 2013

Siapa Dina Y. Sulaeman?? (1)

Dina Y. Sulaeman?? Siapa?
Tulisan ini bukan untuk menjawab siapa itu Dina Y. Sulaeman, namun semacam 'curhatan' pencarian. Begitulah.

Mungkin ada di antara pembaca yang tidak mengenal beliau. Tapi beliau ini cukup terkenal di kalangan orang-orang yang concern dengan media, jurnalisme, dan pemikiran. (saya pun sebetulnya belum lama mengenal beliau, he)
_____
Beberapa bulan yang lalu (entah beberapa pekan yang lalu, lupa kapan tepatnya), saya menemukan sebuah status yang beliau tulis dari news feed facebook yang saya lupa itu hasil like atau share-an salah seorang teman saya yang mana.

Saya bisa bedakan mana tulisan yang baik dan tidak walau saya akui saya belum termasuk ke dalam kategori 'lihai'. Singkat kata, Karena saya tertarik dengan tulisan dalam status tersebut, saya add saja empunya status. Syukur,  friendlist beliau saat itu belum full (sebab sekarang sudah full). Tak lama, saat membuka kembali akun facebook beberapa jam setelahnya saya lihat notification ternyata beliau sudah confirm friend request saya, alhamdulillaah. Ini termasuk cepat, sebab umumnya "orang penting" jarang menghiraukan friend request orang yang biasa-biasa saja alias nggak terlalu/ enggak penting.

Selanjutnya, saat saya  scroll mouse sedikit ke bawah, saya temukan status-status 'renyah' beliau. Saya masih ingat saat itu salah satu status beliau soal peluncuran buku terbarunya berjudul "Prahara Suriah" yang diterbitkan oleh Pustaka IIMaN yang di covernya terpampang beberapa wajah yang terlibat termasuk Bashar alAsad yang tepat berada di tengah-tengah covernya.

Saya like status tersebut (karena saya kagum sama orang-orang yang punya karya, hhe). Kemudian saya langsung komentari status tersebut, "Buku ini apa masuk juga ke toko buku Tisera Bu?", seketika beliau langsung balas komentar saya berikut mention nama saya, "Oh, di Tisera Jatos ya, insyaAllah ada.. :)" katanya. Sudah balasnya cepat (banyak juga yang berkomentar dan memang dibalas dengan balasan serupa), mention nama saya, pake emoticon, lhaa tau pula yang saya maksud itu Tisera Jatos… Bu Dina ini ramah sekali, memangnya siapa saya.. :P. kali aja beliau stalking2 saya dan liat kalau "kita itu satu almamater", kalii aja, :D

Finally, karena penasaran saya stalking balik akun facebook beliau. Ternyata beliau ini seorang alumni sastra Arab Unpad juga. Ya, 'kita' memang satu almamater. Beliau juga menyantumkan studi magister di jurusan Hubungan Internasional (HI) Unpad di information-about-nya. Setahu saya juga melaui status-status facebook lainnya, beliau kini juga sedang sibuk mengurusi administrasi mempersiapkan kelanjutan kuliah doktoralnya di jurusan yang sama di Unpad setelah mendapat restu dari suami beliau, katanya.

Saya semakin senang saja, karena jarang-jarang saya menemukan seorang lulusan sastra Arab, perempuan, kritis, intelektual, produktif menulis, dan sudah menerbitkan cukup banyak buku.

biarkan terbang

Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,