Wednesday, May 1, 2013

Perjuangan Jilbab Kami


Baca artikel tetang sejarah hijab nusantara yang ditulis Kak Sarah Mantovani (http://thisisgender.com/hijab-indonesia-sejarah-yang-terlupakan/), jadi ingat barang 16 tahunan yang lalu, saat Ibu mulai memakaikan kerudung di atas kepala saya di hari pertama masuk sekolah dasar.

Oya, zamannya Ibu-Ibu kita kuliah, barangkali zamannya revolusi jilbab yang Kak Sarah bilang di paragraf-paragraf terakhir artikelnya itu. Dulu, katanya Ibu pernah ikutan Usrah (Usrah itu satu akronim yang entah apa singkatannya saya lupa), yang jelas itu satu kelompok kajian Islam yang dari penuturan beliau saya kira masih mirip-mirip sama gerakan tarbiyyah yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin. Kalau ia, saya terka mungkin ini gerakan awal-awal mereka memasuki ranah akademisi (baca: mahasiswa) meski perkembangannya pada saat itu belum sesignifikan sekarang secara kuantitas.

For You, for a Revolutionary Movement


بسم الله الرحمن الرحيم

catatan ini agak lama saya simpan dalam folder "my notes", kemudian saya copy ke folder "Hima-Himi" saat Farhan menyerahkan flashdisknya untuk diisi berbagai file yang mungkin bisa bermanfaat. folder "Hima-Himi" pun saya ikut copykan bersama folder-folder berisi e-book, file-file kuliah, dan lain-lain* yang sebanyak hampir 2 Gb dari folder "e-library". Entah folder "Hima-Himi" ini sudah dibuka dan dilihat isinya atau belum. Mungkin perlu 'waktu' untuk bisa memahami keseluruhan isi folder yang saya kumpulkan sejak 2009 tersebut untuk memahami perkembangan organisasi ini dari waktu ke waktu, apalagi e-book-e-book berbahasa Arab yang mendominasi ruang file itu sepertinya lebih menarik hati dan menggelitik minat antum untuk memelajarinya.

Akhirnya terinspirasi dari kuliah luar biasa bersama Ust. Atip Latifulhayat, SH, LLM, Ph.D kemarin, saya posting juga catatan ini ke facebook dengan sedikit perubahan. Mudah-mudahan bermanfaat dan menginspirasi 'ke mana kaki menuju' bagi organisasi ini ke depannya...^^"

Organisasi dan Strategi Da’wah
Hima-I Persis komisariat Universitas Padjadjaran

Muqaddimah

Pada dasarnya organisasi dibutuhkan dalam rangka memanage usaha-usaha dan perangkat-perangkat yang ada demi tercapai suatu tujuan bersama. Karenanya, sebuah organisasi sejatinya akan memanfaatkan berapa pun jumlah subjek yang tergabung di dalamnya dengan memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki setiap subjek tersebut secara maksimal.

Saturday, April 27, 2013

Against Feminism, Against Masculinity means Against Egoism


bagaimana menghilangkan perasaan ketertindasan dari kaum perempuan oleh rezim yang bernama laki-laki???? (Oops!!)

sikap kaum laki-laki yang merasa diri "lebih" dari pada perempuan memang menjadi awalmula penyebab dari berjamurnya gerakan feminisme di dunia, terlebih saat mendapat legitimasi dari teks suci (baca: Bibel). Jika begitu, yang mesti dilakukan kaum laki-laki adalah menghilangkan egonya. ego yang menyebabkan kebanggaan diri atas kelebihan beberapa potensi kodrati yang dimilikinya, bahwa ia bukanlah alat untuk menghendaki kemunculan superioritasnya serta menganggap kaum perempuan inferior, namun menjadikannya sebagai anugerah untuk melengkapi yang tidak lengkap pada perempuan dalam kaitannya dengan kelanjutan hidup di dunia.

Pergerakan-pergerakan yang mengatasnamakan pembelaan terhadap perempuan ini signifikasi penyebarannya bisa karena kesamaan nasib perempuan di berbagai tempat atas perlakuan diskriminatif oleh kaum laki-laki, atau bisa juga hanya karena mengikuti tren, karena imperialisme pada saat itu menjadi super power yang menghendaki objek jajahan melihat mereka sebagai sesuatu yang "indah menakjubkan" dan mesti diikuti. sisi baik sekaligus sisi buruknya. Ibarat mawar, harum baunya,indah susunan kelopak dan warnanya sekaligus tajam durinya.

Sunday, April 14, 2013

Ujian Nasional Ujian 'Aqidah


Dalam Ujian Nasional (UN), hal yang paling dipertaruhkan oleh seorang muslim sesungguhnya adalah 'aqidah.

mengapa??
Wali kelas, kepala sekolah, orang tua, lembaga pendidikan informal, dan anak didik pada tahapan proses pendidikan ini sama-sama kuatir menanggung malu jika ternyata ada anak didik yang tidak lulus.

Akhirnya, salah satu, beberapa, atau bahkan kelima kemponen tersebut melakukan kecurangan demi mempertahankan gengsinya. "keberanian" ini lama kelamaan menjadi hal yang lumrah, tidak tabu, biasa saja, bahkan dianggap sah.

Selanjutnya, "keberanian" ini berkembang dan diterapkan di setiap kesempatan untuk menjadi pembuka "pintu-pintu" lainnya, demi yang dipertuan agung bernama "gengsi" itu.

#UN jadi momen final yang paling  mengesankan dalam proses pendidikan anak-anak bangsa yang berbasis kompetensi korupsi

Pelajaran Hari Ini


Kasihan sekali adik saya,

hari ini kebetulan hari ahad, dia diajakin temennya ikut car free day di Dago (bayangin, anak kelas 4 SD, pake sepeda dari komp. GBA, kabupaten Bandung, sampe ke Dago, kota Bandung, weeewW nekat sekali kamuuh..!! pake motor aja udah jauh banget). Saya dan Ibu pagi tadi memang sengaja mengunjungi nenek di Ciwastra dan agak lama disana. Jadi kami tidak mengetahui kepergiannya. Katanya mendadak dia diajakin temennya dan nggak enak nolak. Mungkin dia pikir ini akan sangat menyenangkan, sebab teman sebayanya banyak yang ikut, dia pun akhirnya ikut.

Sepulang dari Ciwastra, kami pun sejanak melepas lelah, karena tumben pagi menjelang siang tadi tu panas banget, kalo kata Nin (sebutan kami ke Nenek) tadi "meni ngelekeb ngelekeb teuing ieu teh, rek hujan gede kitu nya?" (bahasa khas Sunda-Bantennya keluar). Jadi perjalanan pulang pun terasa melelahkan.

Di kursi sebelah saya duduk, di ruang tamu, koq tumben saya liat adik bungsu saya itu tergolek lemah, biasanya jam segituan kalo hari libur gini dia lagi maen, dan baru pulang ntar sore.

Tuesday, April 2, 2013

Inspiring me --the most


saat sedang futur, putus asa, dan kecewa, banyak yang menyarankan untuk bersabar, bersyukur, ikhlash, tawakkal.

"banyak-banyaklah mengingatNya...", "sabar ya...", "ikhlashkan saja...", "setelah berikhtiar dan berdoa, manusia hanya bisa bertawakkal, maka bertawakkal-lah...", “hamasah.. kamu pasti bisa!”

saya pun hanya manut-manut tanpa keadaan berubah sedikitpun. bibir saya terpaksa tersenyum --agar mereka tak merasa gagal menyemangati saya--, walau hati saya masih manyun. Bahkan karena itu kegalauan-pun semakin bertambah-tambah. Ya, kecewa, karena berharap keadaan menjadi lebih baik namun pada kenyataannya tidak.

bagi saya saat itu, ucapan-ucapan tersebut hanya basa basi atau ‘peribahasa populer’ yang siapapun bisa mengucapkannya, diiringi kepalan tangan yang begitu bertenaga untuk memberi efek dramatis. Tapi ‘bertenaga’nya tak samasekali mengalirkan energi dan memberi efek!

itu dulu, mungkin saya terlalu bebal, hatipun terlalu keras membatu untuk enggan menerima ucapan-ucapan seperti itu. terlalu sederhana? exactly yes!!!

Alhamdulillaah, Dia memiliki hamba sebaik Buya Hamka yang menyusun sebuah buku pembimbing aqidah berjudul "Pelajaran Agama Islam". Judul yang terlalu sederhana memang, untuk substansi yang terlalu tak sederhana (bagi saya). gaya tulisannya yang khas filosofis begitu ber’energi’ hingga mampu membimbing akal kepada hakikat-hakikat tentang bagaimana (dan mengapa harus) mengingatNya, sesuatu yang (jelas-jelas) tak berujud/terindera. hingga dari pemahaman dan kesadaran itu manusia akan mampu memahami konsep ikhlas, sabar, syukur (yang menjadi komponen-komponen utama dalam menjalani kehidupan sebagai ujian). Begini cara jitu Hamka rahimahullaah memberi semangat….

buat saya, buku ini yang pertama kali memberi penerangan pada lorong 'aqidah saya. buku yang ke-dua yaitu Petunjuk Jalan (Ma'aalim fith Thariiq)-nya Syed Quthb sebagai petunjuk bagi konsekuensi dari kesadaran yang pertama. kemudian Quantum Ikhlash-nya Erbe Sentanu.Buku-buku ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang masih sering ‘galau’.

karena bagaimanapun juga, akal manusia memerlukan cahaya yang menjadi penerang jalan menuju hakikat fungsinya. (treatment akal melalui 'membaca', menulis, berdialog)


#أولو الالباب و صفاتهم


Thursday, February 14, 2013

“Ibu” Profesi Paling Prestisius dan Penuh Gengsi

‘tek...kretek. . . kretek. . . . . kretek . . . .’ sebuah benda bulat lonjong semakin berurat retakannya. Tiba-tiba menyembul dari dalamnya sesosok wajah yang lugu, matanya yang kuyu memandangi sekelilingnya sambil berusaha keluar dari telur yang telah berapa lama membungkus tubuh lemahnya. Kemudian…
“mama… mama…” katanya pada sosok yang pertama kali ia lihat…

Di atas itu merupakan salah satu adegan mengharukan yang barangkali sering kita saksikan dalam film-film animasi.

ya,
ibarat makhluk yang keluar dari telur tersebut dan “mama” yang pertama kali ia lihat, “mama” yang senantiasa menjaga telur tersebut dan membawanya ke manapun pergi hingga suatu saat telur itu pun harus menetas, kedekatan anak dan ibunya yang istimewa akan membekas dan menentukan bangunan karakter anak, menjadi pola perilaku yang menentukan nasib dunia di masa depan dan ‘nilai’ manusia di hadapan Sang Pencipta.

Dalam Islam, wanita menempati tempat yang sangat mulia. Dalam sebuah hadits yang sangat populer, Ibu adalah sosok yang sangat dielu-elukan melebihi siapapun termasuk ayah, Ibu disebut sebanyak 3 kali sementara ayah hanya satu kali. Memunculkan sebuah asumsi (bahwa) Ibu-lah yang berperan paling penting dalam menopang tegaknya sebuah peradaban.

Sementara Ibu dalam pandangan non-Islami:
di belahan dunia timur, sebelum datangnya risalah Allah melalui para rasul, wanita ditempatkan pada posisi yang sangat rendah. pada waktu itu kehadiran anak perempuan bagi suatu kabilah bahkan dianggap fenomena paling memalukan, hingga al-Quran menggambarkan terlahirnya mereka ke dunia membuat wajah ayahnya menjadi merah padam karena akan memarjinalkannya dari kabilahnya saking malunya (koq banyak nyanya?).

di belahan dunia barat, tak jauh berbeda, bahkan di sana perempuan diperlakukan lebih buruk. perempuan mereka sebut sebagai ‘female’/'feminus’ yang berarti ‘faith-minus’ (makhluk yang kurang imannya), bahkan disebut sebagai setan. Ia dimarjinalkan dari kehidupan masyarakat, dianggap kotor, makhluk pengganggu dan budak yang layak mendapat perlakuan sebagaimana hewan, pemuas hasrat seksual yang menghambat peran laki-laki dalam memajukan suatu peradaban. Sehingga oleh sebab perlakuan-perlakuan tidak manusiawi tersebut kemudian muncul gerakan-gerakan mengatasnamakan "feminisme" yang mencoba berontak dari keadaan dan mencoba mengubahnya dengan cara menuntut kemunculan peran mereka di ranah publik. Namun gerakan-gerakan ini pun pada hakikatnya sekaligus mencoba ‘memerkosa’ naluri perempuan, yang tak menempatkan perempuan pada tempat yang semestinya.

Sementara dalam Islam, Ibu adalah ‘lingkungan utama’ yang berkewajiban menanamkan nilai-nilai dasar Islam pada anak-anaknya sejak dini. –Islam, sebagai arus utama dalam hidup–. Ibu yang menyusun sendiri batu-batu kali dan merekatkan setiap bagiannya sehingga menjadi fondasi yang kokoh yang mampu menopang peri kehidupan yang bernilai yang dari padanya dan oleh karenanya terlahir manusia-manusia yang beradab yang mampu membangun sebuah peradaban yang gemilang, yang menginspirasi banyak penjuru negeri.

Kira-kira beginilah Ibu ideal yang saya rumuskan. menjadi “Ibu” adalah profesi paling prestisius dan penuh gengsi yakni sebagai PEMBANGUN PONDASI PERADABAN…

tahu mengapa?
Islam pernah berhasil membuat peradaban termegah di dunia yang mampu bertahan paling lama. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam yang diterapkan dalam kehidupan sangat sesuai dengan fitrah manusia, ia merupakan implementasi "tangan" Allah yang paling mampu memanusiakan manusia. Bahkan ‘Human rights’ yang dideklarasikan di Inggris untuk membatasi kekuasaan mutlak seorang raja adalah wacana yang ketinggalan zaman. Islam sudah memulai ini sejak berabad-abad sebelumnya. bahkan seorang penasihat politik terkemuka Amerika dalam bukunya “The Clash of Civilization”, Samuel P Huntington mengungkapkan:

“Islam is the only civilization which has put the survival of the West in doubt, and has done at least twice”

karenanya Ibulah yang mesti membangun kembali kapal peradaban Islam yang sempat karam itu. Secara eksplisit barangkali begini nanti tugas seorang Ibu yang ideal:

Ibu, akan lebih dahulu memperdengarkan lantunan ayat suci al-Quran kepada anak dalam kandungannya daripada musik-musik klasik, sehingga baginya al-Quran menjadi sarana entertain utama dalam hidup yang paling menentramkan hati - memanjakan jiwa. karena musik kini menjadi instrumen paling canggih untuk melumat semangat pemuda, musik itu efeknya seperti candu.

Ibu, adalah seorang chef andal yang paling tahu bagaimana cara menjaga gizi anak-anaknya dengan masakan yang halal, thayyib, menghindarkan keluarganya dari makanan yang “membuat kotor” perut namun memanjakan lidah, sehingga tak ada restoran2 dan rumah makan terbaik selain ruang makan di rumah.

Ibu, membacakan kisah-kisah heroik para pahlawan muslim (mujahid) yang berjuang atas nama Islam, juga capaian-capaian diin Islam sebagai pondasi untuk membangun peradaban termegah di dunia sebelum cerita2 tentang snow white, tarzan, batman, superman, spiderman, dan nilai2 tentang peradaban semu dunia barat mampir di memori anak-anaknya dan menjadi pola sikapnya.

Ibu, mampu berbicara bahasa Arab sebagai salah satu bahasa pengantar pendidikan di rumah, memperdengarkannya saat anak mulai mampu memahami konsep berbahasa, agar memori anak menyimpan cukup banyak kosakata bahasa Arab, untuk memahami al-Quran dan as-Sunnah sejak dini, untuk shalat yang khusyu’ sejak dini karena shalat adalah tiang agama.

Ibu, akan berusaha menjadi childist pada anaknya saat masih kecil untuk mendengarkan apa kata anak-anaknya, untuk mencoba menjadi sahabatnya yang paling setia, penyimpan segala rahasianya, hal ini akan membuat anak senantiasa terpantau perilakunya, mudah diarahkan Ibunya kepada nilai-nilai kebenaran, dan senantiasa terikat silaturahim dengan ibunya hingga ia dewasa.

lihat, Ibu itu seorang produser handal..!!!

#untuk ummahaat (para Ibu) dan ummahaatu l-ghad (calon Ibu).
tak ada lagi celah untuk bermain2 dan bersantai



let’s prepare ourselves to build the world by the Hand of Allah…

biarkan terbang

Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,