Saturday, October 20, 2012

Maaf


29092012
Apakah yang sedang mengisi fikirmu kini?
Tahukah kawan, kadang kita butuh waktu untuk sendiri…
Sendiri dan sepi memberi kita peluang untuk banyak merenung. Merenungkan hari kemarin, hari esok, sejam yang lalu, sejam kemudian. Ya, masa-masa yang lalu dan apa yang kemudian akan terjadi di masa depan.
Dua dimensi waktu itu yang senantiasa muncul memberikan bayang-bayangnya dalam sendiri dan sepiku. Bayang-bayang itu pula yang mendorongku untuk menulis ini…
Tahukah kawan, dalam sendiri dan sepi ini renungku mengantarku kembali pada waktu-waktu yang lalu, di sana kutemukan wajah-wajah yang tengah kuhadapi namun kemudian kutinggalkan kesan yang membekas luka pada dinding rasanya…
Kawanku, dari bawah temaram sendiri dan sepi ini tiba-tiba ku teringat bahwa Allah menciptakan kita dengan akal yang merupakan sebab kemuliaan kita, namun juga Dia melengkapinya dengan hawa nafsu…
Kemudian ku tersadar bahwa kadang akal kita bisa saja terkulai lemah tak berdaya di bawah injakan hawa nafsu itu. Tak selamanya kita bisa menjaganya tetap stabil untuk menyatakan yang haqq melalui tingkah kita…
Karena itu, maafkan atas segala kelemahanku yang terkadang mengalah pada profannya dunia………^^”

Thursday, July 19, 2012

The Marginalized Studies

Sangat banyak ayat al-Quran maupun Hadits yang mengetengahkan persoalan kewajiban Muslim dalam menuntut ilmu. Di antaranya:

عَنْ أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
)رواه ابن ماجه(

Dari Anas ibn Malik r.a ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam”. (HR. Ibn Majah) 

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS.
Hal ini merupakan isyarat bahwa Allah memeberi penekanan lebih terhadap kewajiban berilmu jauh di bawah kewajiban beramal. Artinya kewajiban seorang Muslim sebelum beramal adalah berilmu. Bahkan ‘aqidah yang lurus dan ketaqwaan hanya akan dapat dipertahankan dan diperoleh dengan jalan ilmu.
Al-Quran dan as-Sunnah. Keduanya tak hanya menjadi konstitusi (sumber hukum) Islam, namun juga berfungsi sebagai sumber keilmuan bahkan tolok ukur kebenaran. Dengan fungsi-fungsi itu keduanya menjadi wajib (ain) dipelajari oleh setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan.

Rasulullah saw sudah meramalkan tercerabutnya dasar-dasar ilmu keIslaman ini melalui hadits beliau:
Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. (Shahih Muslim No.4828)
Hingga kini terbukti dasar-dasar ilmu Islam tersebut bahkan menjadi sangat asing di telinga para penyandangnya (Muslim sendiri). Minat Muslim kini lebih condong/dicondongkan kepada studi-studi di luar itu padahal pokok-pokok ilmu keIslaman seperti ‘Ulumul Quran, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushul Fiqh, dll –bagi Muslim—mesti tertanam sejak dini, sebab hal ini (yang) akan membentuk karakter Islami (syakhshiyyah Islaamiyyah) yang menjadi pola perilaku Islami bagi kehidupan mereka secara vertikal, horizontal, maupun diagonal.

Untuk menghidupkan kembali tradisi studi terhadap dasar-dasar keilmuan Islam ini, demi membuminya al-Quran dan as-Sunnah sebagai petunjuk utama yang otoritatif, selain itu agar segala amal yang kita lakukan benar-benar terpimpin dan terhindar dari amalan yang sia-sia oleh karena beramal tanpa ilmu, maka langkah awal untuk memulai mempelajarinya sangat perlu dilakukan.

104. apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab: "Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya". dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (QS. Al-Maidah: 104)
67. dan mereka berkata;:"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab: 67)
157. dan karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah[378]", Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. An-Nisa: 157)
Sesungguhnya Allah mela'nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. Al-Ahzab: 64-68)
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. Al-Kahfi: 103-104)

“Wa maa yadzdzakkaru illaa uluul albaab”
“Wa Innamaa l-‘ilmu bi t-ta’allum”

Thursday, November 10, 2011

Tradisi Ilmiah Islam

Islam sejak dulu memiliki tradisi keilmuan yg sangat tinggi,

Orang Arab memiliki daya memorizing yg tinggi dalam tradisi penyebutan nasab (syajarun nasab) sejak zaman jahiliyyah. Selain itu, kemampuan tersebut semakin bertambah-tambah setelah Islam yang nampak dalam tradisi estafeta penyampaian hadits (yang disebut 'sanad') yang merupakan sumber hukum Islam ke-dua (baca: periwayatan hadits). Para sejarawan di berbagai belahan dunia mengakui bahwa yang demikian merupakan tradisi sejarah lisan yang sangat menakjubkan.

Di antara bukti tradisi keilmuan yang sangat tinggi, juga ditemukan sebuah hadits tentang seorang perempuan yang saking tak ingin melakukan kesalahan dalam beribadah. Seorang shahabiyah di zaman Rasululullah menanyakan berbagai hal mengenai kewanitaan kepada Rasulullah walau ia malu.

Banyak hadits yang meriwayatkan tentang keutamaan proses berfikir (mencari ilmu) ketimbang melakukan ibadah sunnah yang paling utama.

sebuah hadits menyatakan bahwa tinta seorang ulama lebih berharga daripada darah para syuhada.

etika ilmiah pun sangat diperhatikan dalam Islam. periwayatan hadits mnjadi salah satu contohnya.

Islam sangat menjunjung tinggi ilmu. bahkan dikatakan dalam sebuah hadits bahwa keutamaan seorang yang berilmu itu seperti bulan, sedangkan ahli ibadah seperti bintang yang berserakan di sekitar bulan yang cahayanya padam-redup terkalahkan oleh cahaya bulan. saya tidak mengatakan bahwa setiap ilmuwan lebih baik dari pada orang yang jidatY hitam karena rajin shalat, namun hadits tersebut secara tak langsung menuntut seorang muslim untuk beribadah sesuai dengan ilmuY, tidak seperti yahudi dan nasrani yang mengatakan: "anaa ma'a nnaas, ahsanuu wa asaa`uu" (aku bersama kebanyakan orang, baik dalam keadaan benar ataupun salah) atau "kamitsli maa jaa`a min aabaa`inaa" (saya ikuti nenek moyang saya)...

Friday, October 7, 2011

bingkisan buat pak rektor

nyatanya institusi pendidikan tinggi negeri Unpad belum mampu memberikan pelayanan terbaik terhadap mahasiswanya,,,

Unpad belum mampu memenuhi kewajibannya sebagai lembaga pendidikan yang menjadi 'green house' bagi tumbuhkembang anak bangsa. yang dalam fase 'rawan' ini seharusnya mereka (mahasiswa.pen_) mendapat berbagai siraman nutrisi yang menunjang potensinya agar dapat tereksplorasi sehingga intelengensinya benar-benar berkembang.

entah sistem apa yang berlaku di institusi pendidikan tinggi seperti Unpad, saya rasa Unpad tak lebih hanya bangunan-bangunan megah dan kokoh yang berdiri di atas tanah 750 Ha, yang tak mampu mengeksplorasi potensi-potensi manusia yang sedang berkembang itu.

dua juta rupiah yang dibayarkan merata di setiap fakultas per-semesternya tidak menghasilkan sarana-prasana dan kualitas tenaga pengajar yang dapat menunjang idealisme dan daya kritis mahasiswa secara merata, ia tidak mampu memberi sajian segar bagi mahasiswa yang sedang berada pada fase peralihan remaja>dewasa (fase ideal dengan perkembangan daya khayal dan intelektual yang tinggi).

fase ini merupakan saat yang tepat bagi manusia untuk mengaktivasi seluruh bagian otaknya, lalu mengoptimalkan neokorteksnya (yaitu bagian dari otak manusia selain dari otak reptilia dan otak amphibi/sistem limbik) yang dengan ini manusia menjadi spesies yang unik.

neokorteks inilah yang dalam bahasa Arab dinamakan 'al-aqlu' menempatkan manusia pada posisi makhluq (ciptaan) Allah swt. yang paling mulia, karena dengan neokorteks ini manusia dapat berfikir dengan tingkat inteligensi tinggi. karena potensi tersebut, maka dalam al-Quran dijelaskan, hanyalah  manusia yang mampu diamanahi sebagai pemangku tugas kekhalifahan di muka bumi.

nah, dengan potensi inilah seorang mahasiswa layaknya mampu berfikir mendalam mengenai dirinya. ia seharusnya mampu memepertimbangkan kemanfaatan atas segala hal yang akan atau sedang ia lakukan.


dilihat dari sudut pandang pendidik

seorang tenaga pendidik seharusnya memahami bahwa fase ini merupakan fase strategis yang mesti dimanfaatkan, karena ada pepatah mengatakan bahwa 'the world depend on the hands of youth'.

dan kini, di sekitar 16an fakultas, memang tak sedikit tenaga pendidik bergelar magister, doktor, bahkan profesor, namun di antara ratusan bahkan ribuan tenaga pendidik tersebut hanya segelintir orang mampu menjadi tenaga pendidik sebagaimana mestinya. ada yang memiliki keterampilan mendidik dan memraktekkannya, ada pula yang yang mungkin ia memiliki keterampilan itu, namun ia tidak punya 'misi' untuk mencerdaskan anak bangsa, sehingga apa yang ia lakukan tak lebih hanya sekedar memeberikan ceramah yang membuat mahasiswa mengantuk, setelah itu keluar dari kelas, mahasiswa pun keluar dengan sel otak yang tak bertambah, lalu, di awal bulan dosen itupun menerima gajinya. heheh...

kita bisa bedakan antara mengajar dan mendidik. tenaga pendidik jauh lebih memiliki tanggungjawab yang besar. mendidik adalah suatu proses transformasi nilai, suatu usaha memanusiakan manusia, artinya seorang pendidik harus memiliki tanggung jawab dalam hal pendewasaan seorang individu hingga ia menjadi seorang yang mapan, yang mampu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. seorang pendidik seyoginya memahami karakteristik tiap individu (anak didiknya), karena tiap individu itu unik dengan latar belakang kehidupan mereka yang beragam. pemahaman tenaga pendidik akan hal ini tentu akan membantu proses transformasi nilai tersebut, sehingga setiap peserta didik dengan mudah dapat menerima nilai-nilai yang ditransformasikan si pendidik. ini kemudian berimplikasi pada perubahan taraf emosi dan inteligensi anak didik tersebut. ini sudah barang tentu akan menggenjot kedewasaan perserta didik sehingga ia mampu menjadi manusia yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya bahkan sekitarnya.


kenyataan yang ada sebagai bukti kecil, di institusi pendidikian TINGGI, tradisi contek-menyontek masih terjadi pada peserta didik setingkat MAHAsiswa, yang pada fase ini seharusnya mereka telah mampu mengoptimalkan seluruh bagian otaknya, sehingga kecerdasan yang ia miliki ia tempatkan sesuai dengan porsinya. pada fase ini orang-orang yang digelari mahasiswa tersebut layaknya memahami dan benar-benar berfikir tentang hakikat hidupnya. dalam hal kehidupan mahasiswa, ia seharusnya memahami hakikat perginya ia ke sebuah institusi pendidikan. dan pemahaman ini diejawantahkan ke dalam proses belajar yang didasari dengan penuh rasa tanggungjawab, baik terhadap dirinya sendiri, orang tuanya, institusi pendidikan tempat ia menuntut ilmu, terlebih kepada masyarakat dan dunia.

terhadap dirinya, ia fahami bahwa dirinya mampu memberikan kebermanfaatan yang berarti bagi lingkungannya sebagai manusia yang mulai tumbuh dewasa dengan  permasalahan yang setiap saatnya terus berkembang mewarnai hidupnya, dan ini tidak dapat ia atasi kecuali dengan wawasan yang luas, karena itu ia akan senantiasa siap sedia mengikuti  proses belajar dengan penuh tanggung jawab.

terhadap orang tuanya, ia seyogianya faham bahwa orangtuanya senantiasa menginginkan yang terbaik untuk buah hatinya, ia ingin anaknya menjadi sosok yang bertanggung jawab dan memberikan kebermanfaatan, karena hal inilah yang akan membuat mereka (orang tua) meneteskan air mata bahagianya.


_____________________________________________

sekedar curcol

dua juta rupiah, dibayarkan tiap semesternya merata di setiap fakultas, nyatanya, fasilitas (sarana-prasarana) yang bisa menunjang kegiatan pendidikan tidak tersebar secara merata, sistem pembayaran yang terkesan tidak adil. saya, sebagai anak sastra seolah seperti tulang punggung bagi fakultas lain yang siap menyubsidi mereka (subsidi silang), akhirnya, Fasa tetap dengan bangunannyanya yang masih original dan student center yang 'mendrakula', papan nama fakultas pun tak ada, uang praktikum yang dulu hanya dibayarkn hingga semester tertentu, kini dari semester awal hingga akhir jumlahnya stagnan atau bahkan mungkin suatu saat naik, dengan fasilitas praktikum yang tak seberapa dibandingkan dengan fakultas lain, kondisi yang  mengkhawatirkan, tak terawat, banyak kerusakan headset sana-sini, membuat proses belajar terganggu.

tenaga pendidik yang selayaknya di sebuah institusi pendidikan, para tenaga pendidik dibekali pendidikan mendidik, sehingga mahasiswa dapat merasakan bahwa dirinya sedang duduk di kursi di ruangan itu dalam keadaan fokus belajar, dengan aktif dan responsif, sehingga mahasiswa akan  benar2 memahami ilmu yang disampaikan, dan tentu ini akan membuahkan nilai-nilai tersendiri bagi peserta didik, sehingga diharapkan kedepannya ia akan mampu menggenggam dunia dengan tangannya.

alih-alih tenaga pendidik profesional, selain lebih dari 50% orang-orang yang digelari 'mahasiswa' itu masih gemar menyontek dan tidak memahami orientasi belajarnya, ternyata masih banyak tenaga pengajar (bukn pendidik. pen_) yang aneh. masih banyak yang memberi penilaian secara subyektif, tanpa melihat kualitas dan kapasitas pemahaman anak didik. ada pula yang memberikan nilai secara 'tembak' karena malas mengukur kualitas pemahaman mereka.
"nilai" tidak lagi menjadi suatu hal yang abstrak, yang menjadi tolok ukur tingkat pemahaman seorang anak didik, tapi sudah menjadi angka yang mudah dibeli dengan murah hanya untuk mewarnai transkrip nilai. ke sananya, orientasinya ya.. palingan masalah duniawi, masalah pekerjaan, dan lupa atau bahkan tidak pernah mengingat sama sekali bahwa ia belajar untuk hidup yang lebih berkualitas,  sebagaimana firman Allah:
"yarfa'illahulladziina aamanuu minkum walladziina utuul'ilma darajaat"
"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan beriman di antara kamu beberapa derajat"




wallahu a'lamu bishshawab...

Thursday, July 7, 2011

sambutlah cintaku..............................


oooo Allah.............................
pantaskah ku meminta
sementara ku belum sempurna 
          memenuhi tuntutan kewajibanMu, 
sementara wajibMu atasku
tak kupendam dalam kalbu penuh seluruh
sementara lalai itu masih bersemayam
dalam segenap titahMu
ku masih izinkan yang lain memasuki pintu hatiku selainMu,
dan membiarkannya bebas memengaruhi segenap unsur dari ragaku
tanpa kecuali,
ku tahu Engkau Maha Kaya yaa Rabb,,
ku tahu KayaMu sejagat raya,
bahkan yang tak terindra, 


Monday, July 4, 2011

"Persis" Jam'iyyah atau Firqah?????

Salahkah??? (Ketika menentukan pilihan terhadap satu model "Kendaraan" untuk  mengantarkan ke "Tujuan")


Jam'iyyah atau Firqah????


Saya senantiasa berusaha untuk memandang segala hal secara objektif, jika saya mengagumi sesuatu, maka kekaguman itu akan berubah menjadi obat peningkat motivasi dan itu jadi inspirasi bagi saya, hal apapun itu dan siapapun itu.


Persis atau Persatuan Islam hanyalah sebuah nama bagi sebuah konsep yang diusung atas dasar kesamaan pola pikir dan tujuan sebagaimana halnya jam'iyyah-jam'iyyah (organisasi) lain. Persis adalah sebuah nama yang mewakili organisasi masa yang mewadahi sekelompok orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran. Persis adalah sebuah ormas Islam seperti halnya NU, Muhammadiyyah, PUI, dan lain-lain yang banyak berkembang di Indonesia tak terkecuali kelompok-kelompok ideologis lainnya baik berskala global maupun nasional. Saya sangat mengagumi cara mereka berjihad, sebab di sini saya menemukan bagaimana agar seseorang tidak mengamalkan ibadah yang sia-sia oleh karena tak mengenal nash-nash shahih sebagai rujukan untuk menjalani kehidupan. Saya tak pernah menemukan pisau analisis setajam orang-orang yang tergabung dalam jam'iyyah ini yang begitu selektif menyoal permasalahan keIslaman baik secara ushuliyyah yang menjadi dasar bagi persoalan furu'iyyah. Seluruhnya diusahakan agar mendekati cara-cara para salafus shalih (generasi terbaik ummat) dalam menghambakan diri kepada Allah.

Sunday, July 3, 2011

Budaya dan Fenomena Religi



Adat istiadat sebagai salah satu produk budaya menjadi salah satu aspek yang mempengaruhi identitas sosial. Namun hasil kebudayaan tersebut di berbagai wilayah di dunia sudah tidak banyak mendapat perhatian, apalagi d kota-kota besar. Pesatnya arus globalisasi sedikit demi sedikit telah menggerus keetnisan yang ada dalam tiap individu/masyarakat.


Saat sekelompok orang mendiami sebuah tempat baik yang berasal dari suku yang sama ataupun tidak, maka seiring dengan berjalannya waktu manusia sebagai makhluk sosial mulai melakukan komunikasi satu sama lain. Dalam komunikasi itulah terjadi proses pemindahan gagasan atau ide dari seseorang ke orang lain melalui bahasa baik bahasa verbal maupun nonverbal. Dengan bahasa manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, diantaranya apa yang dibutuhkan oleh fisik maupun mentalnya. Semua itu mesti dipenuhi agar manusia dapat melanjutkan kehidupannya.

biarkan terbang

Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,