Sangat banyak ayat
al-Quran maupun Hadits yang mengetengahkan persoalan kewajiban Muslim dalam
menuntut ilmu. Di antaranya:
عَنْ أنس بن مالك
رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم:
طَلَبُ الْعِلْمِ
فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.
)رواه ابن ماجه(
Dari Anas ibn Malik
r.a ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam”. (HR. Ibn Majah)
Dan demikian (pula) di antara manusia,
binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam
warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun. (QS.
Hal ini merupakan
isyarat bahwa Allah memeberi penekanan lebih terhadap kewajiban berilmu jauh di
bawah kewajiban beramal. Artinya kewajiban seorang Muslim sebelum beramal adalah
berilmu. Bahkan ‘aqidah yang lurus dan ketaqwaan hanya akan dapat dipertahankan
dan diperoleh dengan jalan ilmu.
Al-Quran dan
as-Sunnah. Keduanya tak hanya menjadi konstitusi (sumber hukum) Islam, namun
juga berfungsi sebagai sumber keilmuan bahkan tolok ukur kebenaran. Dengan
fungsi-fungsi itu keduanya menjadi wajib (ain) dipelajari oleh setiap Muslim
baik laki-laki maupun perempuan.
Rasulullah saw sudah meramalkan tercerabutnya dasar-dasar ilmu keIslaman ini
melalui hadits beliau:
Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:
Aku pernah mendengar
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara
mencabutnya begitu saja dari manusia, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu
dengan cara mencabut (nyawa) para ulama, sehingga ketika Allah tidak
meninggalkan seorang ulama pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang
bodoh yang apabila ditanya mereka akan memberikan fatwa tanpa didasarkan ilmu
lalu mereka pun sesat serta menyesatkan. (Shahih Muslim No.4828)
Hingga kini terbukti
dasar-dasar ilmu Islam tersebut bahkan menjadi sangat asing di telinga para
penyandangnya (Muslim sendiri). Minat Muslim kini lebih condong/dicondongkan
kepada studi-studi di luar itu padahal pokok-pokok ilmu keIslaman seperti
‘Ulumul Quran, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits, Ushul Fiqh, dll –bagi Muslim—mesti
tertanam sejak dini, sebab hal ini (yang) akan membentuk karakter Islami
(syakhshiyyah Islaamiyyah) yang menjadi pola perilaku Islami bagi kehidupan
mereka secara vertikal, horizontal, maupun diagonal.
Untuk menghidupkan kembali tradisi studi terhadap dasar-dasar keilmuan Islam
ini, demi membuminya al-Quran dan as-Sunnah sebagai petunjuk utama yang
otoritatif, selain itu agar segala amal yang kita lakukan benar-benar terpimpin
dan terhindar dari amalan yang sia-sia oleh karena beramal tanpa ilmu, maka
langkah awal untuk memulai mempelajarinya sangat perlu dilakukan.
104. apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti
apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". mereka menjawab:
"Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya".
dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (QS.
Al-Maidah: 104)
67. dan mereka berkata;:"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami
telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka
menyesatkan Kami dari jalan (yang benar). (QS. Al-Ahzab: 67)
157. dan karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah
membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah[378]", Padahal mereka
tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh
ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang
yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan
tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang
dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin
bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. An-Nisa: 157)
Sesungguhnya
Allah mela'nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang
menyala-nyala (neraka), Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak
memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari
ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah
baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul".
Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya Kami telah mentaati
pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar Kami, lalu mereka menyesatkan Kami dari
jalan (yang benar). Ya Tuhan Kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali
lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar". (QS. Al-Ahzab:
64-68)
Katakanlah:
"Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling
merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya
dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya. (QS. Al-Kahfi: 103-104)
“Wa maa yadzdzakkaru illaa uluul albaab”
“Wa Innamaa l-‘ilmu bi t-ta’allum”