كن عالما أو متعلما أو مستمعا أو محبا و لا تكن خامسا فتهلك :: من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة (رواه مسلم) :: العلم صيد و الكتابة قيده، قيد صيودك بالحبال الواثق
Tuesday, March 25, 2014
Aceng Zakaria
Merhatiin rak,
Tiba2 pndangan st tertuju pada kitab alHidaayah fii Masaa-ila fiqhiyyah muta'aridlah. Lama brgelut dgn aktivitas & buku2 lain mmbuat sy rindu mereguk ilmu dari kitab tersebut, lagipula sy telah lupa dengan bnyak hal yg diajarkn d sana.
kitab ini mgkin mnjadi pegangan & scara intensif dipelajari santri2 pesantren Persis d seluruh Indonesia (eh seluruh pulau jawa). Pengarang kitab ini adalah alUstaadz Aceng Zakaria gelar "alUstaadz" (profesor) memang nampaknya pantas disematkan kepada beliau karena kepakaran dlm berbagai bidang ilmu agama meski secara formal tak ada satupun gelar kesarjanaan yg disandangnya. Ulama asal Garut ini telah menulis lebih dari 50 judul buku baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Bahkan klau tdk salah kitab alHidayah yg sy sebut d atas itu telah mndapat sambutan yg teramat baik dari seorang guru besar ilmu hadits sekaligus rektorJaami'atu lAzhaar Qahirah. Meski secara formal pndidikannya hnya smpai mu'allimin (setingkat aaliyyah), namun kepakaran beliau tak diragukan. Sy sndiri tdk mngetahui ada berapa bnyak ulama di Indonesia -kini- yg produktif mnulis dalam bahasa Arab.
Koleksi kitab beliau yg baru sy punya itu ada alMuyassar fii ilmi nnahwi (sebuah kitab linguistik bahasa Arab yg relatif mudah dicerna dengan sistematika pnulisan yg khas) jilid 1 & 2, kemudian ilmu lmanthiq (logika), hadyu rrasuul, ilmu ttauhiid, alKaafii fii illmi ssharfi dn masih bnyak lainnya yg beliau tulis berkenaan dengan 'aqidah, linguistik, fiqh, bahkan filsafat yg sy lupa judulnya & sebagian besar belum sy punyai --apalagi mngkhatamkannya
Mnurut sebuah riwayat (yg ntah sanadnya bersambung atau tidak), sewaktu masih muda (/kanak2?) beliau senantiasa terbangun di sepertiga malam utk menghafal sambil mrendamkan kakinya di air dingin spaya terhindar dari rasa kntuk. Karena etos belajar yg sedemikian beliaupun kbarnya hfal juga nazham2, seperti alfiyyah Ibn Malik, gramatika bahasa Arab yg tersusun dalam rima irama sebagaimna puisi, dll..
Smoga Allah memanjangkn umur beliau & mmberinya maqam yg layak untuk segala jihad ilmiyyahnya.. Aamiin..
AlMuyassar fii 'Ilmi nNahwi
almujladu tstsaanii
Karya Ulama Asgar (Asli Garut) alUstaadz Aceng Zakaria
atThab'atu lUulaa-nya keluar saat sy baru disapih
meskipun namanya alMuyassar, tp percayalah buku linguistik bahasa Arab ini tak lebih mudah dicerna daripada Matn Jurumiyah.
Ustadz Sulaeman alMarhuum yg pertama kali mngajarkannya pada saya sambil menulis d blackboard sambil terbatuk-batuk tapi sebagian murid takmenghiraukannya.
Tapi menurut beliau dalam pngantarnya terhadap buku Belajar Nahwu Praktis sistem 40 Jam, alMuyassar ini pertama kali terbit pada tahun 1987 M / 1408 H (berarti 5 tahun sebelum sy lahir) (dibuat sekitar 27 tahun yg lalu). Sejak itu sampai tahun 2004 kitab ini telah mengalami cetak ulang sebanyak 25 kali (best seller dong hehe) telah tersebar dan digunakan di pesantren2 di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan. Dosen2 sy sngat mrekomendasikn buku ini pda mhasiswa. I think Arabic linguist around the world should read this. Nanti klau ke Mesir saya ingin tunjukkan ini pada adDuktuur Ayman Amiin penulis kitaab al-Kaafi fii Ilmi nNahwi What so amazing...
Thursday, February 13, 2014
download recording hasil diskusi kami bersama Ust Abdullah Beik,MA dari ABI (Ahlul Bait Indonesia)
Silahkan download recording hasil diskusi kami bersama Ust Abdullah Beik,MA dari ABI (Ahlul Bait Indonesia) di Jakarta, 19 Januari 2014..
File 1:
http://www.4shared.com/file/aEoYFFL2ba/Dialog1_syiah_19_jan_14.html
File ke 2:
http://www.4shared.com/file/fS-KVcIQce/Dialog2_syiah_19_jan_14.html
File ke 3:
http://www.4shared.com/file/Bjx7YOxlba/Dialog3_syiah_19_jan_14.html
File 1:
http://www.4shared.com/file/aEoYFFL2ba/Dialog1_syiah_19_jan_14.html
File ke 2:
http://www.4shared.com/file/fS-KVcIQce/Dialog2_syiah_19_jan_14.html
File ke 3:
http://www.4shared.com/file/Bjx7YOxlba/Dialog3_syiah_19_jan_14.html
diambil dari status facebook Ust. Amin Saefullah Muchtar
Apa Kabar Manhaj dan Uslub Pendidikan Islam?
3 Feb 2014
Ide "jangan mengatakan 'jangan' pada anak" pertama kali saya dapatkan beberapa tahun lalu saat membaca karya Quantum-nya Bobbi DePorter & Mike Hernacki, Quantum Learning. Karya-karya semacam ini sebagaimana (juga) karya Dale Carniege yang menurut sebagian orang memiliki muatan 'humanisme' setidaknya menjadi karya revolusioner sejak pertama kali diterbitkan dan menjadi bestseller yang mampu menginspirasi juga mengubah paradigma banyak orang --termasuk pakar dan praktisi pendidikan-- tentang metode pendidikan.
Di Indonesia, Kak Seto, Arif Rahman & Munif Chatib juga mungkin menjadi salahsatu di antara sekian banyak yang terinspirasi. Mahasiswa UPI dan lainnya yang berlatar pendidikan pasti tak asing dengan buku ini.
Di Indonesia, Kak Seto, Arif Rahman & Munif Chatib juga mungkin menjadi salahsatu di antara sekian banyak yang terinspirasi. Mahasiswa UPI dan lainnya yang berlatar pendidikan pasti tak asing dengan buku ini.
Buku ini juga sempat masuk ke dalam list buku 'the most inspiring' saya. Banyak hal terkait pendidikan yang membuka mata saya terhadap kekeliruan cara mendidik yang saat ini banyak dilakukan orang tua, lingkungan, bahkan lembaga pendidikan itu sendiri. Efeknya, selain menginspirasi keseharian saya memperlakukan orang lain, saya juga sempat merasa sangat kecewa pada sekaligus sok merasa lebih tahu dari orangtua saya karena beberapa cara mendidik mereka yang menurut buku tersebut salah << mungkin ini efek buruknya).
Di Indonesia, lihat ada berapa banyak karya yang dihasilkan Munif Chatib berkat inspirasi metode global learning-nya DePorter ini, juga karya-karya serupa yang merupakan pengembangan darinya yang banyak diterbitkan Kaifa Publishing.
Nah, sekarang, ini mengemuka dengan 'wajah yang lain'. Walau saya belum membaca banyak.
'Agak' sayang memang beberapa abad terakhir ini muslim terbelakang --shingga tidak mampu memproduksi ide-ide dan konsep-konsep segar yang dapat memenuhi kebutuhan manusia yang senantiasa berubah-ubah. (tapi tak ada gunanya 'kukulutus')
Semoga saja sesuatu mampu menggenjot stamina Muslim untuk dapat bergerak lebih dari biasa sehingga mampu mengejar ketertinggalan itu >>berkarya tanpa cacat, karya yang Islamii. Aamiin..
Di Indonesia, lihat ada berapa banyak karya yang dihasilkan Munif Chatib berkat inspirasi metode global learning-nya DePorter ini, juga karya-karya serupa yang merupakan pengembangan darinya yang banyak diterbitkan Kaifa Publishing.
Nah, sekarang, ini mengemuka dengan 'wajah yang lain'. Walau saya belum membaca banyak.
'Agak' sayang memang beberapa abad terakhir ini muslim terbelakang --shingga tidak mampu memproduksi ide-ide dan konsep-konsep segar yang dapat memenuhi kebutuhan manusia yang senantiasa berubah-ubah. (tapi tak ada gunanya 'kukulutus')
Semoga saja sesuatu mampu menggenjot stamina Muslim untuk dapat bergerak lebih dari biasa sehingga mampu mengejar ketertinggalan itu >>berkarya tanpa cacat, karya yang Islamii. Aamiin..
wallaahu a'lamu bi shshawaab
Belajar alQuran itu Mudah
Dalam pertemuan kuliah The Worldview of Islam (Pandangan Alam Islam) ke-3 PIMPIN yang entah ke berapa, Dr. Nashruddin Syarief dalam materi terkait Konsep Wahyu dan Kenabian mengingatkan saya tentang ayat ini:
ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر
Ayat ini memang entah kapan lewat dan kemudian singgah di memori saya, yang jelas ketika Ust. Nashruddin membacakannya ayat itu terasa begitu akrab di telinga. Dengan ayat ini beliau ingin menegaskan bahwa al-Quran benar-benar telah Allah subhaanahu wa ta’ala mudahkan utk dipelajari ummat Muhammad.
Setelah ditype di kolom ‘cari’ sebuah aplikasi alQuran bernama Aayah –yang juga memuat translate alQuran berbagai bahasa dan sekitar tujuh buah tafsir virtual yg pernah diinstallkan salah seorang teman saya (baarakallah fiih)–, ternyata ayat ini Allah ulang sebanyak 4 kali dalam 4 tempat pada surat yg sama, yaitu pada ayat ke 17, 22, 32, dan 40 surat alQamar. Sebelum lebih jauh menelusuri tafsirnya juga membaca keseluruhan surat ini yang mengandung peringatan keras, ke-4 ayat yang sama dalam 1 surah ini sudah menunjukkan ‘betapa’ penekanan Allah bahwa ilmu alQuran itu sebenarnya mudah. Hanya memang kita saja yang lebih banyak menyerah sebelum bertanding, menumbuhkan sugesti bahwa bahasa alQuran adalah bahasa yang sulit.
Selain dalam alQamar, penekanan yang sama juga terdapat dalam ayat yang ditunjukkan Ibn Katsier dalam pembukaan tafsirnya terhadap ayat ke-17 alQamar, yaitu pada surat Maryam [19]: 97 dan Shaad [38]: 29. <<check these out)
Ibn Katsier menafsirkan ayat ini sebagai “sahhalnaa lafzhahu wa yassarnaa ma’naaahu liman araadahu liyatadzakkara n-naas” (telah Kami mudahkan alQuran baik lafazh maupun maknanya bagi siapa saja yang menginginkannya agar mereka senantiasa ‘ingat’) dilanjutkan dengan menyebut Shaad: 29 dan Maryam: 97 sebagai dalil atas tafsirannya tersebut. Selanjutnya Beliau mengutip perkataan Mujaahid bahwa kalimat pertama ayat ini berarti ‘Kami mudahkan membacanya’ yang senada dengan asSuddiy. …. (baca sendiri sampai akhir kelanjutannya dalam kitab tafsir yang dimaksud)
Ust. Nashruddin di tengah penyampaiannya pada saat itu mencandai Dr. Wendi Zarman yang juga hadir memantau kuliah ini dengan ungkapan (kurang lebih seperti ini): “Mempelajari al-Quran itu lebih mudah daripada mempelajari fisika, sewaktu masih kuliah (S3) di UIKA, bnyak teman saya yang berlatar belakang sains. Hanya beberapa termasuk saya yang bukan. Karena alQuran itu mudah ‘lidzaatihi’ utk dipelajari, sementara fisika tidak. Teman saya seperti Pak Wendi ini bisa mempelajari sains sekaligus alQuran, sementara saya bisa mempelajari alQuran tetapi tidak sanggup dengan fisika.” (dengan sedikit modifikasi) Katanya dengan dialek Sundanya yang kental.
Terakhir sekali menjelang sesi diskusi beliau memberi penekanan kepada peserta kuliah PAI 3 untuk memiliki kitab tafsir >> SEKURANG-KURANGNYA Tafsir alQuraani l’Azhiim-nya alHaafizh Abul Fida Ibn Katsier dengan tahqiiq yg terbaik oleh Ahmad Syakir atau Syaykh Nashiruddin alAlbaniy* –selain tafsir-tafsir terjemahan atau susunan mufassir Indonesia seperti alAzhaar-nya Buya Hamka dan alMishbaah-nya Quraish Shihab.
*Syaykh Nashiruddin alAlbani –sebagaimana diungkapkan Dr. Nashruddin di lain kesempatan dalam kuliah Ilmu Haditsnya– adalah seorang seorang alHaafizh era kontemporer yang belum ada tandingannya, yang mana alHaafizh dalam istilah ilmu hadits berarti seorang yang hafal sebanyak minimal 100.000 hadits berikut untaian sanadnya, beliau seorang ahli ilmu hadits riwaayah (yg kemampuan ini teramat jarang dimiliki).
ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر
Ayat ini memang entah kapan lewat dan kemudian singgah di memori saya, yang jelas ketika Ust. Nashruddin membacakannya ayat itu terasa begitu akrab di telinga. Dengan ayat ini beliau ingin menegaskan bahwa al-Quran benar-benar telah Allah subhaanahu wa ta’ala mudahkan utk dipelajari ummat Muhammad.
Setelah ditype di kolom ‘cari’ sebuah aplikasi alQuran bernama Aayah –yang juga memuat translate alQuran berbagai bahasa dan sekitar tujuh buah tafsir virtual yg pernah diinstallkan salah seorang teman saya (baarakallah fiih)–, ternyata ayat ini Allah ulang sebanyak 4 kali dalam 4 tempat pada surat yg sama, yaitu pada ayat ke 17, 22, 32, dan 40 surat alQamar. Sebelum lebih jauh menelusuri tafsirnya juga membaca keseluruhan surat ini yang mengandung peringatan keras, ke-4 ayat yang sama dalam 1 surah ini sudah menunjukkan ‘betapa’ penekanan Allah bahwa ilmu alQuran itu sebenarnya mudah. Hanya memang kita saja yang lebih banyak menyerah sebelum bertanding, menumbuhkan sugesti bahwa bahasa alQuran adalah bahasa yang sulit.
Selain dalam alQamar, penekanan yang sama juga terdapat dalam ayat yang ditunjukkan Ibn Katsier dalam pembukaan tafsirnya terhadap ayat ke-17 alQamar, yaitu pada surat Maryam [19]: 97 dan Shaad [38]: 29. <<check these out)
Ibn Katsier menafsirkan ayat ini sebagai “sahhalnaa lafzhahu wa yassarnaa ma’naaahu liman araadahu liyatadzakkara n-naas” (telah Kami mudahkan alQuran baik lafazh maupun maknanya bagi siapa saja yang menginginkannya agar mereka senantiasa ‘ingat’) dilanjutkan dengan menyebut Shaad: 29 dan Maryam: 97 sebagai dalil atas tafsirannya tersebut. Selanjutnya Beliau mengutip perkataan Mujaahid bahwa kalimat pertama ayat ini berarti ‘Kami mudahkan membacanya’ yang senada dengan asSuddiy. …. (baca sendiri sampai akhir kelanjutannya dalam kitab tafsir yang dimaksud)
Ust. Nashruddin di tengah penyampaiannya pada saat itu mencandai Dr. Wendi Zarman yang juga hadir memantau kuliah ini dengan ungkapan (kurang lebih seperti ini): “Mempelajari al-Quran itu lebih mudah daripada mempelajari fisika, sewaktu masih kuliah (S3) di UIKA, bnyak teman saya yang berlatar belakang sains. Hanya beberapa termasuk saya yang bukan. Karena alQuran itu mudah ‘lidzaatihi’ utk dipelajari, sementara fisika tidak. Teman saya seperti Pak Wendi ini bisa mempelajari sains sekaligus alQuran, sementara saya bisa mempelajari alQuran tetapi tidak sanggup dengan fisika.” (dengan sedikit modifikasi) Katanya dengan dialek Sundanya yang kental.
Terakhir sekali menjelang sesi diskusi beliau memberi penekanan kepada peserta kuliah PAI 3 untuk memiliki kitab tafsir >> SEKURANG-KURANGNYA Tafsir alQuraani l’Azhiim-nya alHaafizh Abul Fida Ibn Katsier dengan tahqiiq yg terbaik oleh Ahmad Syakir atau Syaykh Nashiruddin alAlbaniy* –selain tafsir-tafsir terjemahan atau susunan mufassir Indonesia seperti alAzhaar-nya Buya Hamka dan alMishbaah-nya Quraish Shihab.
*Syaykh Nashiruddin alAlbani –sebagaimana diungkapkan Dr. Nashruddin di lain kesempatan dalam kuliah Ilmu Haditsnya– adalah seorang seorang alHaafizh era kontemporer yang belum ada tandingannya, yang mana alHaafizh dalam istilah ilmu hadits berarti seorang yang hafal sebanyak minimal 100.000 hadits berikut untaian sanadnya, beliau seorang ahli ilmu hadits riwaayah (yg kemampuan ini teramat jarang dimiliki).
Akhir kata, “Belajar alQuran itu mudah.”
Allah telah menetapkan kemudahan itu dan mengabarkannya kepada kita ummat Muhammad shallallaahu 'alayhi wa sallam sebagai berita gembira bahwa petunjuk Allah itu teramat dekat.
wallaahu a'lamu bi shshawaab
Miithaaq dan Kerusakan Othaq
Oleh: Risna Inayah*
Penghujung paruh pertama abad ke-21 ini di mana hasrat industrialisasi umat manusia modern semakin menjadi dan malah menggila, robot-robot dengan program yang semakin canggih mulai diproduksi massal untuk menggantikan peran manusia. Program yang dicanangkan untuk mempermudah kehidupan manusia ini niscaya membuat jasa manusia menjadi tak begitu berarti. Karena jasa manusia berbanding mesin dalam beberapa hal adalah kalah jauh.
Meski dicanang sebagai mempermudah kehidupan manusia, pada kenyataannya industrialisasi hanya mampu mempermudah kehidupan segelintir manusia saja. Sementara itu, di sisi lain, jumlah massa yang jauh lebih banyak justru mengalami kehidupan yang semakin sulit. Tenaga/jasa manusia yang pada mulanya berharga dan mempu menghasilkan nilai untuk pemenuhan kesejahteraan hidupnya, kini dengan seleksi alam (manusia) modern ia pun telah lumpuh atau dilumpuhkan. Maka kualitas hidup kebanyakan manusia malah menjadi semakin mengkhawatirkan –walau sebagian kecilnya merasa mudah hidup karena memeroleh keuntungan yang bukan main besarnya.
Robot-robot yang berkembang semakin canggih yang karenanya mulai diproduksi massal tersebut diprogram sedemikian rupa untuk menjalankan tugas tertentu sesuai kebutuhan manusia dalam bidang-bidang kehidupan tertentu.
Euis E-41, adalah seri/nama bagi robot perawat pertama yang diproduksi massal oleh industri robotika di kawasan Tatarsunda Westjava. Ialah industri yang akhir-akhir ini namanya melambung tinggi di pasaran teknologi global, PT. UjangMencrang Industries. Co. ltd. Ia menjadi salah satu yang begitu banyak diperbincangkan dunia setelah mengeluarkan beberapa seri produk canggih berdaya jual tinggi dan mampu memenuhi pasaran Asia dan Eropa untuk bidang pelayanan masyarakat. Produknya kini menjadi salah satu yang unggul dan paling banyak diminati di kedua benua tersebut. Perlu diketahui PT. UjangMencrang Industries menjadi industri kebanggaan Westjava setelah mampu mengalahkan pesaingnya dalam beberapa tender yang dicanangkan akan didanai penuh oleh Worldbank sekitar 5 tahun yang lalu di Kanada. Dalam waktu yang relatif singkat bagi berkembangnya perusahaan yang dinilai masih muda tersebut, PT. UjangMencrang telah menjadi industri yang taringnya ditakuti beberapa nama yang mewakili industri teknologi yang telah berpengalaman ber-puluh tahun di percaturan global, mendampingi manusia dalam menjalankan berbagai aktivitasnya.
Untuk industri bertaraf global, tentu proses produksi sebuah produk dilakukan sedemikian cermat dengan mekanisme yang dinilai ‘cukup rigid’ bagi kalangan industri menengah ke bawah. Dalam hal ini, meski robot merupakan produk canggih yang dalam hal-hal tertentu mengalahkan keterampilan manusia, ia pada hakikatnya tetaplah benda yang sejak tahap awal hingga akhir proses produksi memerlukan pengawasan manusia. Dalam prosedur produksinya tetap tak bisa lepas dari keterlibatan manusia sebagai pengasas ide penciptaannya.
Euis, setelah melalui proses finishing sebelum dikemas, kemudian harus melalui serangkaian proses quality control, yakni pengecekan tahap akhir untuk memastikan kualitasnya. Yang harus dilalui Euis pada proses ini di antaranya adalah pengecekan daya intelejensia.
Robot yang diprogram sebagai jelmaan perawat itu ditanyai seorang insinyur (penciptanya) tentang siapa dirinya dan siapa penciptanya, tentulah berikut tugas/tanggung jawabnya. Dengan sigap dan lantang ala robot Euis memperkenalkan siapa dirinya, perusahaan apa yang telah memproduksinya berikut siapa insinyur yang menciptakannya (sebagai pernyataan hak cipta), juga tentu tugasnya sebagai perawat. Gestur yang ia tampilkan dalam perkenalannya di hadapan insinyur itu tak kalah santun dengan apa yang bisa dilakukan perawat manusia yang santun. Ketika diinstruksikan untuk melakukan beberapa tindakan medis, ia pun melakukannya dengan cekatan, dan, penuh dedikasi (ajhiiaaa…)
Quality control usai, robot itu pun sudah dinilai pantas menjalankan tugas. Ia lalu dikemas. Secara pantas. Di kemasannya tercantum petunjuk agar jangan sampai terkena terik matahari yang panas. Supaya kualitas tetap terjaga untuk selanjutnya ia lekas bergegas untuk menjalankan tugas.
Beberapa lama berlalu Euis menjalankan tugasnya sebagai perawat di rumah sakit di berbagai belahan dunia. Meski telah melalui berbagai level uji coba sebelum diputuskan untuk diproduksi massal, dalam perjalanan waktu Euis, robot perawat tersebut mengalami beberapa hal tak terduga ketika menjalankan tugasnya. Singkat cerita, rumah sakit yang merupakan konsumen robot tersebut di beberapa negara mengadukan keluhannya. Beberapa complain pasien atas pelayanan medis yang tidak sesuai harapan hingga perlakuan yang betul-betul tidak menyenangkan yang dilakukan robot-robot perawat tersebut beritanya sudah beredar luas menjadi konsumsi publik dunia, hingga menjadi bahan diskusi WHO yang melibatkan berbagai pihak otoritatif. Beberapa hal tak terduga bahkan sempat terjadi sebelum akhirnya diketahui ia mengalami kerusakan program (otak), salah satu di antaranya adalah apa yang dirilis sebuah surat kabar kenamaan di Amerika, BNN (Badan Narkotika Nasional (oops, salah, bukan, lupa, apa yah singkatannya??)) tertanggal 24 Juni 2042 yakni sebuah laporan terkait adanya satu unit robot produksi PT. UjangMencrang yang tiba-tiba mengamuk dan melakukan perusakan fasilitas kesehatan di sebuah rumah sakit di Seoul-Korea, nampaknya kerusakan program yang terjadi pada unit robot tersebut telah mencapai taraf fatal.
____________________
Demikianlah, pula, keadaan manusia yang lupa akan miithaaq. Ruhnya-pemikirannya, jua sedang mengalami kerusakan. Manusia, dengan intelejensia tinggi dan kemampuan nalar di luar kemampuan makhluk lainnya (apalagi robot, yang cuma ciptaan manusia sekelas Ujang) sebetulnya mampu menghurai kerusakan tersebut, oleh dirinya sendiri, dengan membuka pintu jiwanya agar hidayah dapat masuk dan secara perlahan memperbaiki kerusakan sistem berpikir tengah rusak tersebut.
Wallaahu a’lam bi sh-shawaab.
_____________________
Terinspirasi oleh:
________________
*Mahasiswi (pasca)sarjana yang tengah menjalankan studi di dua jurusan sekaligus, jurusan Buahbatu-DayeuhKolot, dan Cijerah-Ciwastra.
Penghujung paruh pertama abad ke-21 ini di mana hasrat industrialisasi umat manusia modern semakin menjadi dan malah menggila, robot-robot dengan program yang semakin canggih mulai diproduksi massal untuk menggantikan peran manusia. Program yang dicanangkan untuk mempermudah kehidupan manusia ini niscaya membuat jasa manusia menjadi tak begitu berarti. Karena jasa manusia berbanding mesin dalam beberapa hal adalah kalah jauh.
Meski dicanang sebagai mempermudah kehidupan manusia, pada kenyataannya industrialisasi hanya mampu mempermudah kehidupan segelintir manusia saja. Sementara itu, di sisi lain, jumlah massa yang jauh lebih banyak justru mengalami kehidupan yang semakin sulit. Tenaga/jasa manusia yang pada mulanya berharga dan mempu menghasilkan nilai untuk pemenuhan kesejahteraan hidupnya, kini dengan seleksi alam (manusia) modern ia pun telah lumpuh atau dilumpuhkan. Maka kualitas hidup kebanyakan manusia malah menjadi semakin mengkhawatirkan –walau sebagian kecilnya merasa mudah hidup karena memeroleh keuntungan yang bukan main besarnya.
Robot-robot yang berkembang semakin canggih yang karenanya mulai diproduksi massal tersebut diprogram sedemikian rupa untuk menjalankan tugas tertentu sesuai kebutuhan manusia dalam bidang-bidang kehidupan tertentu.
Euis E-41, adalah seri/nama bagi robot perawat pertama yang diproduksi massal oleh industri robotika di kawasan Tatarsunda Westjava. Ialah industri yang akhir-akhir ini namanya melambung tinggi di pasaran teknologi global, PT. UjangMencrang Industries. Co. ltd. Ia menjadi salah satu yang begitu banyak diperbincangkan dunia setelah mengeluarkan beberapa seri produk canggih berdaya jual tinggi dan mampu memenuhi pasaran Asia dan Eropa untuk bidang pelayanan masyarakat. Produknya kini menjadi salah satu yang unggul dan paling banyak diminati di kedua benua tersebut. Perlu diketahui PT. UjangMencrang Industries menjadi industri kebanggaan Westjava setelah mampu mengalahkan pesaingnya dalam beberapa tender yang dicanangkan akan didanai penuh oleh Worldbank sekitar 5 tahun yang lalu di Kanada. Dalam waktu yang relatif singkat bagi berkembangnya perusahaan yang dinilai masih muda tersebut, PT. UjangMencrang telah menjadi industri yang taringnya ditakuti beberapa nama yang mewakili industri teknologi yang telah berpengalaman ber-puluh tahun di percaturan global, mendampingi manusia dalam menjalankan berbagai aktivitasnya.
Untuk industri bertaraf global, tentu proses produksi sebuah produk dilakukan sedemikian cermat dengan mekanisme yang dinilai ‘cukup rigid’ bagi kalangan industri menengah ke bawah. Dalam hal ini, meski robot merupakan produk canggih yang dalam hal-hal tertentu mengalahkan keterampilan manusia, ia pada hakikatnya tetaplah benda yang sejak tahap awal hingga akhir proses produksi memerlukan pengawasan manusia. Dalam prosedur produksinya tetap tak bisa lepas dari keterlibatan manusia sebagai pengasas ide penciptaannya.
Euis, setelah melalui proses finishing sebelum dikemas, kemudian harus melalui serangkaian proses quality control, yakni pengecekan tahap akhir untuk memastikan kualitasnya. Yang harus dilalui Euis pada proses ini di antaranya adalah pengecekan daya intelejensia.
Robot yang diprogram sebagai jelmaan perawat itu ditanyai seorang insinyur (penciptanya) tentang siapa dirinya dan siapa penciptanya, tentulah berikut tugas/tanggung jawabnya. Dengan sigap dan lantang ala robot Euis memperkenalkan siapa dirinya, perusahaan apa yang telah memproduksinya berikut siapa insinyur yang menciptakannya (sebagai pernyataan hak cipta), juga tentu tugasnya sebagai perawat. Gestur yang ia tampilkan dalam perkenalannya di hadapan insinyur itu tak kalah santun dengan apa yang bisa dilakukan perawat manusia yang santun. Ketika diinstruksikan untuk melakukan beberapa tindakan medis, ia pun melakukannya dengan cekatan, dan, penuh dedikasi (ajhiiaaa…)
Quality control usai, robot itu pun sudah dinilai pantas menjalankan tugas. Ia lalu dikemas. Secara pantas. Di kemasannya tercantum petunjuk agar jangan sampai terkena terik matahari yang panas. Supaya kualitas tetap terjaga untuk selanjutnya ia lekas bergegas untuk menjalankan tugas.
Beberapa lama berlalu Euis menjalankan tugasnya sebagai perawat di rumah sakit di berbagai belahan dunia. Meski telah melalui berbagai level uji coba sebelum diputuskan untuk diproduksi massal, dalam perjalanan waktu Euis, robot perawat tersebut mengalami beberapa hal tak terduga ketika menjalankan tugasnya. Singkat cerita, rumah sakit yang merupakan konsumen robot tersebut di beberapa negara mengadukan keluhannya. Beberapa complain pasien atas pelayanan medis yang tidak sesuai harapan hingga perlakuan yang betul-betul tidak menyenangkan yang dilakukan robot-robot perawat tersebut beritanya sudah beredar luas menjadi konsumsi publik dunia, hingga menjadi bahan diskusi WHO yang melibatkan berbagai pihak otoritatif. Beberapa hal tak terduga bahkan sempat terjadi sebelum akhirnya diketahui ia mengalami kerusakan program (otak), salah satu di antaranya adalah apa yang dirilis sebuah surat kabar kenamaan di Amerika, BNN (Badan Narkotika Nasional (oops, salah, bukan, lupa, apa yah singkatannya??)) tertanggal 24 Juni 2042 yakni sebuah laporan terkait adanya satu unit robot produksi PT. UjangMencrang yang tiba-tiba mengamuk dan melakukan perusakan fasilitas kesehatan di sebuah rumah sakit di Seoul-Korea, nampaknya kerusakan program yang terjadi pada unit robot tersebut telah mencapai taraf fatal.
____________________
Demikianlah, pula, keadaan manusia yang lupa akan miithaaq. Ruhnya-pemikirannya, jua sedang mengalami kerusakan. Manusia, dengan intelejensia tinggi dan kemampuan nalar di luar kemampuan makhluk lainnya (apalagi robot, yang cuma ciptaan manusia sekelas Ujang) sebetulnya mampu menghurai kerusakan tersebut, oleh dirinya sendiri, dengan membuka pintu jiwanya agar hidayah dapat masuk dan secara perlahan memperbaiki kerusakan sistem berpikir tengah rusak tersebut.
Wallaahu a’lam bi sh-shawaab.
_____________________
Terinspirasi oleh:
- Mohd Farid Mohd Shahran berjudul “Miithaaq Sebagai Landasan Agama dan Akhlak” dalam Adab dan Peradaban: Karya Pengi’tirafan untuk Syed Muhammad Naquib al-Attas (Kuala Lumpur: MPH Publishing, cet. II, 2012), hlm. 115-131.<(disarankan untuk dibaca)
- Al-Attas, Islam dan Sekularisme (Bandung: Pimpin, 2010) <(disarankan untuk dibaca)
- Filem berjudul Battle of The Damned <(cuma inspirasi sekunder, tidak disarankan)
________________
*Mahasiswi (pasca)sarjana yang tengah menjalankan studi di dua jurusan sekaligus, jurusan Buahbatu-DayeuhKolot, dan Cijerah-Ciwastra.
Wednesday, December 4, 2013
Memahami Diinul Islam: al-Attas's Concept of Religion of Islam[1]
Oleh: Risna Inayah[2]
Agama dan teologi menjadi problem yang begitu rumit sekarang ini. Tuhan kini bisa dipahami dengan beragam macam cara dan pandangan, yang dapat menyebabkan pandangan yang beragam pula terhadap memahami agama. Jika pemahaman akan Tuhan keliru maka keliru pula pemahaman terhadap agama. Problem ini terjadi seiring dengan intensitas interaksi manusia yang semakin masif. Informasi dengan mudah dapat diakses sehingga berbagai kekeliruan akan semakin takterelakkan. Begitu kira-kira Dr. Wendi Zarman –direktur PIMPIN—membuka kuliahnya dalam pertemuan ke-3 Kuliah Pandangan Alam Islam III yang diselenggarakan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) pada sabtu, 19 Muharram 1435 (23/11/13) di ruang Lab Fisika lantai 2 Kampus Unikom Jl. Dipatiukur 112-114 Bandung.
Sebagai pengantar kepada inti materi, kepada lebih dari 30 mahasiswa perwakilan berbagai institusi itu Wendi menerangkan akan pentingnya memberi perhatian terhadap “bahasa” dan penggunaannya. “Sangat banyak persoalan kekacauan disebabkan oleh kekeliruan dalam penggunaan bahasa.” tuturnya. Bahasa adalah identitas. Ia merefleksikan pikiran manusia terhadap suatu objek. Mengutip ide Prof. Al-Attas,[3] Wendi menjelaskan bahwa bahasa mencerminkan bagaimana kita memahami realitas atau objek pengetahuan. Jika suatu nama disalahpahami maka akan terjadi kesalahan pula dalam memahami realitas, sehingga sesuatu akan dipahami tidak sebagaimana mestinya.
"Materi ini kuliah ini penting agar kita memahami apa dan bagaimana sesungguhnya Islam. Jangan sampai ia dipahami dengan konsep yang dikelirukan oleh pandangan dari luar Islam yang sering membawa efek merusak terhadap konsep yang sudah mapan." Tutur Wendi.
Memperjelas pendapatnya Wendi mencoba memberikan beberapa contoh kekeliruan penggunaan bahasa (baca: terminologi) yang banyak terjadi yang menyebabkan timbulnya beragam masalah pelik lainnya.
Kata "Allah" adalah salah satu yang belakangan hangat mencuat di alam Melayu. Konsep "Allah" yang selama ini kita ketahui sebagai milik Islam menjadi persoalan ketika digunakan penganut Kristen untuk menyebut Tuhan mereka. Bagaimana tidak, konsep Tuhan yang dimiliki keduanya jelas sangat lain. Jika hal ini dibiarkan maka kerancuan dan kekeliruan berpikir akan terjadi dalam masyarakat.
“Pluralisme” adalah contoh lainnya. Pluralisme diketahui luas sebagai pengakuan terhadap keberagaman, bahwa tak hanya agama tertentu yang eksis namun juga agama yang lain. Ia disamakan dengan toleransi, padahal tak sesederhana itu. Ia merupakan istilah filosofis yang mewakili keyakinan bahwa agama-agama memiliki kebenaran yang sama. Tidak ada yang lebih benar. Maka tak ada yang boleh dicela. Istilah ini tidak menghendaki adanya truth claim. Ia pun takkan pernah mengizinkan pernyataan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Padahal, lanjut Wendi, tidak ada gunanya beragama tanpa truth claim. "Jangankan dalam agama, dalam berorganisasi atau berpartai pun truth claim selalu ada," tegasnya.
Selanjutnya, suara-suara yang ramai bergema saat ini adalah “humanisme”. Ia umumnya hanya dipahami sebagai kepedulian terhadap nasib-nasib orang yang tertidas. Padahal lebih dari itu, secara konseptual “humanisme” menyimpan paham bahwa standar kebenaran ada pada manusia. Tentu sangat bertolak belakang dengan Islam yang menjadikan wahyu tanzil sebagai standar. Maka kemudian istilah “Islam humanis” menjadi istilah yang takbisa diterima karena rancu. Keduanya memliki konsep tersendiri. Muslim adalah muslim, dan humanis adalah humanis, tegas Wendi.
Setelah memaparkan beberapa contoh kekeliruan penggunaan bahasa (baca: istilah) Wendi lalu menerangkan bahwa kekeliruan ini pun terjadi pada istilah “Islam”. Islam yang kita pahami sebagai agama yang Allah turunkan melalui Muhammad saw. kini coba direduksi maknanya menjadi “penyerahan diri” semata. Padahal tak setiap yang menyerahkan diri itu Islam.
Spiritualisme dan Pengalaman Traumatik Barat[4]
Pemikiran keagamaan Barat masa kini oleh Wendi dibagi menjadi dua. Pertama, keyakinan bahwa suatu saat akan terjadi di mana akibat intensitas interaksi antar manusia yang begitu masif akan membuat pemahaman manusia akan keagamaan sama. Inilah yang disebut dengan Kesatuan Transendens Agama-agama (Global Theology) yang diusung salah satunya oleh John Hick.[5] Sementara yang ke-dua, intensitas interaksi manusia yang semakin masif justru akan membuat manusia berkesimpulan bahwa agama tidak lagi diperlukan sebab semua rahasia sains sudah terungkap. Hal ini diungkapkan oleh Auguste Comte. Meski lain, kedua pemikiran ini lahir dari rahim yang sama, yaitu perjalanan sejarah Kristen yang traumatik.
Doktrin Kristen pada masa lalu sangat membatasi peranan akal. Dalam teologi kristen hidup adalah hukuman. Adam telah bersalah, dan diturunkannya ia ke bumi adalah hukuman. Bagi mereka dunia adalah kelam. Tidak ada gunanya bagi mereka mengetahui apa itu dunia. Maka Kristen pernah melarikan diri dari kehidupan dunia. Maka pada masa yang disebut sebagai "the dark age" itu pengetahuan tentang alam samasekali tidak berkembang di Barat.
Wendi lalu menggambarkan bagaimana tindakan mahkamah inquisi Spanyol sebagai tangan Tuhan mengebiri kerja akal manusia dengan memberi penyiksaan yang luar biasa terhadap apapun yang berpotensi menggugat otoritas Gereja. Penyiksaan yang Wendi sebut ‘kreatif’ ini pun tejadi pada para beberapa ilmuwan yang mencoba mengungkap teori hasil penelitiannya namun bertentangan dengan otoritas gereja. Hal ini juga tak lepas dari persoalan teologi dalam Kristen memang tidak jelas (problematik). Maka pengalaman traumatik ini membuat Barat menyingkirkan agamanya dari kehidupan.
Sementara di Barat demikian, di belahan dunia bagian Timur pengetahuan tentang alam sedang berkembang begitu pesatnya. Hal yang tiada lain berangkat dari konsepsi Islam dalam memandang alam (kawn). Ayat-ayat al-Quran sendiri banyak memerintahkan untuk mencari tahu apa itu alam.
Ada sebuah ungkapan bahwa ilmu pengetahuan Islam maju karena agama, sementara ilmu pengetahuan Kristen maju karena menjauhi agama. Ini memang benar, kata Wendi. Kemajuan sains Barat berlatar belakang pengalaman traumatik tersebut kemudian membuat revolusi pada alam pikir Barat yang mengalihkan perhatiannya dari akhirat menuju dunia. Agama adalah perhatian kepada akhirat . Agama adalah dongengan dan takhayul. Maka ia pada akhirnya tersingkir atau disingkirkan dari kehidupan karena dianggap sebagai problem yang menghalangi kemajuan. Inilah yang dikenal dengan sekularisme.
Namun demikian keterpisahan Barat dari agama menimbulkan kekeringan spiritual yang mendalam. Mereka kemudian mencoba meraih kembali agama namun didekatkan dengan sains untuk menghilangkan takhayulnya, dicari-cari kejelasan rasionalnya untuk menjadi masuk akal.
Ia bernama spiritualisme. Spiritualisme adalah cara beragama yang tak menghiraukan Tuhan. Spiritualisme dan agama tentu berbeda. Malas dengan "Organized Religion" karena dianggap sebagai terlalu banyak mengatur, maka ia diganti dengan spiritualisme. Para penganutnya meyakini bahwa secara fisik dalam otak manusia terdapat yang disebut sebagai "godspot". Inilah perangkat tempat di mana keyakinan akan ketuhanan bekerja. Titik ini yang membuat manusia merasa relijius. Dengan inilah mereka mengklaim sebagai sudah berserah diri (Islam).
Padahal, menyinggung pertemuan sebelumnya terkait Konsep Tuhan yang disampaikan oleh Irfan Habibi Martanegara, kata Wendi, kita tak bisa berbicara agama tanpa berbicara tentang tuhan. Mengutip al-Attas seorang filsuf sekaligus mujaddid masa kini Wendi menjelaskan "Bagaimana mungkin kita berbicara agama tapi tidak berbicara tentang Tuhan?" Ini sama halnya dengan pernyataan "Bagaimana mungkin seseorang mengelusnya rambutnya sementara ia botak?" lanjutnya.
Intensitas interaksi manusia yang semakin masif yang meniscayakan pemikiran tertentu berlalulalang secara bebas ini pada akhirnya singgah dan mengendap juga dalam pemikiran sebagian muslim. Mereka umumnya adalah yang kecewa dengan pengalaman keagamaannya. Mereka pun menjadi penentang paling keras terhadap Islam walau secara formal mengaku beragama Islam.
Maka sejalan dengan yang terjadi di Barat, di Indonesia pun paham spiritualisme ini mengemuka. Ia disajikan dalam berbagai seminar bertema kecerdasan spiritual. Spiritualisme menjadi dagangan yang laku sebab mampu menarik simpati berbagai kalangan dengan berbagai latarbelakang agama dan keyakinan. Maka tak heran seminar ESQ bisa menjadi begitu laku dan Quantum Ikhlas Erbe Sentanu bisa menjadi sebuah buku bestseller. Mencampuradukkan berbagai keyakinan keagamaan sebagai materinya, spiritualisme juga menjadi akar dari penyamaan semua agama (pluralisme), sebuah persoalan akidah masa kini.
Agama dalam Pandangan Islam
Kekeliruan pemaknaan Islam yang sedemikian genting tentu perlu diakomodasi, tutur Wendi. Tradisi keilmuan Islam yang mengagumkan –atas dasar agama ini—menghendaki perkembangan pengetahuan yang juga begitu mengagumkan dalam hal bahasa, selain sains dan teknologi. Para Ulama ilmuwan muslim sejak dulu telah mengodifikasi konsep-konsep kunci Islam dalam berjilid-jilid kitab untuk menjaga keutuhan maknanya. Maka dalam hal ini sangat perlu merujuk kepada literatur otoritatif tersebut untuk mengembalikan kemurnian makna-makna pada tempatnya, termasuk dalam memaknai Islam.
Konsep diin Islam yang akan coba menjawab persoalan ini merujuk kepada konsep yang diterangkan Prof. Al-Attas dalam bukunya Islam dan Sekularisme –sebuah karya yang Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud sebut sebagai bersifat kulli. Ia merupakan konsep yang dinilai baru sebab pemaparan konsep yang seperti ini memang ‘lain’–walau sesungguhnya jika dilihat pada literatur ulama muktabar lainnya akan dapat ditemukan benang merah konsep tersebut. Konsep diin yang tegas akan mampu menghalau kekeliruan yang coba mencampuri konsepsi Islam yang sesungguhnya, bahwa tidaklah benar Islam berarti berserah diri dan berserah diri adalah Islam sehingga siapapun yang berserah diri menjadi layak dikatakan Muslim.
Saking pentingnya materi tentang konsep Diin ini, kata Wendi, "The Religion of Islam" menjadi mata kuliah tersendiri di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization)[6] yang wajib diikuti mahasiswa dari berbagai konsentrasi studi.
Prof. Al-Attas dalam menuangkan konsepnya ini merujuk pada definisi yang diberikan Ibnul Manzhur dalam Lisaanu l-'Arab –sebuah kamus leksikon bahasa Arab klasik yang disusun sekitar abad ke 7-8 H.[7] Lebih lanjut Wendi memaparkan bahwa Diin secara etimologis berasal dari kata daana (dyn).[8] Daana ini memiliki berbagai makna. Salah satu di antara maknanya adalah keberhutangan. Hutang ini sebagai modal perniagaan yang dipinjamkan Allah swt. kepada manusia. إن الإنسان لفي خسر (Q.S. al-‘Ashr [103]: 2). Modal yang dipinjamkan itu adalah kehidupan manusia sendiri. Maka segala yang dimiliki manusia bukanlah miliknya.
Modal ini semakin lama akan semakin menyusut nilainya dan tentu semuaya akan berujung pada kemusnahan. Maka, agar manusia tidak merugi keberhutangan ini harus disadari sebagai tidak mungkin terbayar kecuali dengan kewujudannya sendiri di bumi, yakni dengan beribadah dan beramal shaleh. Pengembalian (pembayaran hutang) ini lanjut Wendi ibarat hujan yang dikembalikan ke langit. Hal ini merujuk pada firman Allah: و السماء ذات الرجع (ar-raj') (Q.S. ath-Thariq [86]: 11). Ar-raj' dimaknai para ulama sebagai hujan, sebab air hujan itu senantiasa akan kembali naik ke atas. Air hujan yang naik kemudian akan turun sebagai berkah. Siklus yang sama terjadi pada manusia jika mereka mengembalikan hutangnya. Ia pun akan mendapat berkah.
Dalam setiap pengembalian hutang atau modal pinjaman biasanya seseorang akan mendapat laba. Maka diin adalah perniagaan dengan Allah. Laba dalam perniagaan dengan Allah berarti pahala/balasan sebagaimana firmanNya dalam Q.S. as-Shaf [61]: 10: "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?" dan Q.S. Fathir [35]: 29: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,"
Diin yang kedua bermakna kekuasaan Hukum. "Permberi hutang akan dapat menguasai orang lain dengan memberinya hutang." kata Wendi. Maka ketika seseroang dihutangi, ia akan melakukan apapun untuk yang memberinya hutang. Artinya karunia Allah swt. terhadap manusia memberiNya kekuasaan hukum atas manusia sehingga manusia menghamba kepadaNya. Di sini ada pengakuan manusia atas otoritas Allah. Otoritas yang menyebabkan kekuasaan, penghakiman, dan pengadilan oleh Allah swt. atas manusia sebagaimana bunyi Q.S. al-A’raf [7]: 172 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",”
Makna lain Diin yang ketiga adalah penyerahan diri. Ini dari sisi manusia. Manusia telah dibebani/memiliki kewajiban (dayn) karena diberi kehidupan sebagai hutang, maka ia berserah diri dan taat terhadap pemberi hutang (Allah). Namun penyerahan diri ini dilakukan secara sadar bukan terpaksa (bukan takluk/pemaksaan diri), ia melibatkan komponen hati, lisan, dan perbuatan. Hal ini sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. an-Nisa [4]: 125 bahwa berislam yang terbaik adalah berserah diri secara sukarela, "Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya."
Terakhir, Diin berarti kecenderungan alamiah (fitrah). Ketaatan manusia pada Allah swt. adalah suatu kecenderungan alamiah, sebab memang itulah tujuan penciptaannya (eksistensinya). “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” terang Allah swt. dalam Q.S. adz-Dzariyat [51]: 56. Maka kezhaliman/kekacauan berarti sesuatu yang telah bergeser dari tempat yang semestinya. Ini keadaan yang melenceng dari fitrah. Maka jika fitrah/kecenderungan ini ditaati sebaliknya akan timbul keadilan, keharmonisan, keselarasan, kesejahteraan, dan keselamatan dalam kehidupan manusia.
Keempat makna ini (Keberhutangan => kekuasaan hukum => penyerahan diri => kecenderungan alamiah) berada dalam satu medan semantik yang membentuk konsep yang ajeg dalam "Diinul Islam". Dengan demikan makna ini tak lagi dapat diubah dan dimaknai dengan pelbagai makna yang sembarang. Begitulah kesimpulan Wendi menutup kuliahnya.
Bandung, 27 November 2013_
=========================
[1] Tulisan ini berdasarkan catatan kuliah Pandangan Alam Islam #3 pertemuan ke-3 PIMPIN pada sabtu, 19 Muharram 1435 H (23/11/13) di ruang Lab Fisika lantai 2 Kampus Unikom Jl. Dipatiukur 112-114 Bandung.
[2] Mahasiswi Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, aktif di Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Islam (PIMPIN) Bandung.
[3] Gagasan Prof. Al-Attas terkait bahasa salah satunya dapat dibaca dalam karya beliau berjudul “The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education” atau terjemahan dalam Bahasa Indonesia berjudul: “Konsep Pendidikan dalam Islam: Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam” oleh Haidar Bagir, diterbitkan Mizan pada Sya’ban 1407 H/April 1987 EB.
[4] Lebih lanjut tentang pengalaman traumatik keagamaan di Barat ini dapat ditemukan dalam karya Prof. Al-Attas berjudul “Islam and Secularism” atau terjemahan dalam bahasa Indonesia berjudul “Islam dan Sekularisme” yang diterjemah dan diterbitkan PIMPIN Bandung pada tahun 2010 M. Atau juga dapat dibaca dalam “Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal” karya Dr. Adian Husaini, (Jakarta: Gema Insani, 2005 EB).
[5] Kajian terhadap konsep ini dapat juga dibaca dalam buku yang baru saja diterbitkan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) berjudul “Pluralisme Agama: Telaah Kritis Cendekiawan Muslim”.
[6] Sebuah fakultas pemikiran dan peradaban Islam di International Islamic University of Malaysia (IIUM) yang direkabangun oleh Al-Attas sendiri untuk mewujudkan gagasan Islamisasi-nya.
[7] Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1407 H/1987 EB), hlm. 18.
[8] Konsep Diin ini secara khusus dan komprehensif dapat dibaca pada sub judul III "Islam: Faham Agama dan Asas Akhlaq" dalam Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, (Bandung: PIMPIN, 2010 EB), hlm. 65-120.
Agama dan teologi menjadi problem yang begitu rumit sekarang ini. Tuhan kini bisa dipahami dengan beragam macam cara dan pandangan, yang dapat menyebabkan pandangan yang beragam pula terhadap memahami agama. Jika pemahaman akan Tuhan keliru maka keliru pula pemahaman terhadap agama. Problem ini terjadi seiring dengan intensitas interaksi manusia yang semakin masif. Informasi dengan mudah dapat diakses sehingga berbagai kekeliruan akan semakin takterelakkan. Begitu kira-kira Dr. Wendi Zarman –direktur PIMPIN—membuka kuliahnya dalam pertemuan ke-3 Kuliah Pandangan Alam Islam III yang diselenggarakan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) pada sabtu, 19 Muharram 1435 (23/11/13) di ruang Lab Fisika lantai 2 Kampus Unikom Jl. Dipatiukur 112-114 Bandung.
Sebagai pengantar kepada inti materi, kepada lebih dari 30 mahasiswa perwakilan berbagai institusi itu Wendi menerangkan akan pentingnya memberi perhatian terhadap “bahasa” dan penggunaannya. “Sangat banyak persoalan kekacauan disebabkan oleh kekeliruan dalam penggunaan bahasa.” tuturnya. Bahasa adalah identitas. Ia merefleksikan pikiran manusia terhadap suatu objek. Mengutip ide Prof. Al-Attas,[3] Wendi menjelaskan bahwa bahasa mencerminkan bagaimana kita memahami realitas atau objek pengetahuan. Jika suatu nama disalahpahami maka akan terjadi kesalahan pula dalam memahami realitas, sehingga sesuatu akan dipahami tidak sebagaimana mestinya.
"Materi ini kuliah ini penting agar kita memahami apa dan bagaimana sesungguhnya Islam. Jangan sampai ia dipahami dengan konsep yang dikelirukan oleh pandangan dari luar Islam yang sering membawa efek merusak terhadap konsep yang sudah mapan." Tutur Wendi.
Memperjelas pendapatnya Wendi mencoba memberikan beberapa contoh kekeliruan penggunaan bahasa (baca: terminologi) yang banyak terjadi yang menyebabkan timbulnya beragam masalah pelik lainnya.
Kata "Allah" adalah salah satu yang belakangan hangat mencuat di alam Melayu. Konsep "Allah" yang selama ini kita ketahui sebagai milik Islam menjadi persoalan ketika digunakan penganut Kristen untuk menyebut Tuhan mereka. Bagaimana tidak, konsep Tuhan yang dimiliki keduanya jelas sangat lain. Jika hal ini dibiarkan maka kerancuan dan kekeliruan berpikir akan terjadi dalam masyarakat.
“Pluralisme” adalah contoh lainnya. Pluralisme diketahui luas sebagai pengakuan terhadap keberagaman, bahwa tak hanya agama tertentu yang eksis namun juga agama yang lain. Ia disamakan dengan toleransi, padahal tak sesederhana itu. Ia merupakan istilah filosofis yang mewakili keyakinan bahwa agama-agama memiliki kebenaran yang sama. Tidak ada yang lebih benar. Maka tak ada yang boleh dicela. Istilah ini tidak menghendaki adanya truth claim. Ia pun takkan pernah mengizinkan pernyataan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Padahal, lanjut Wendi, tidak ada gunanya beragama tanpa truth claim. "Jangankan dalam agama, dalam berorganisasi atau berpartai pun truth claim selalu ada," tegasnya.
Selanjutnya, suara-suara yang ramai bergema saat ini adalah “humanisme”. Ia umumnya hanya dipahami sebagai kepedulian terhadap nasib-nasib orang yang tertidas. Padahal lebih dari itu, secara konseptual “humanisme” menyimpan paham bahwa standar kebenaran ada pada manusia. Tentu sangat bertolak belakang dengan Islam yang menjadikan wahyu tanzil sebagai standar. Maka kemudian istilah “Islam humanis” menjadi istilah yang takbisa diterima karena rancu. Keduanya memliki konsep tersendiri. Muslim adalah muslim, dan humanis adalah humanis, tegas Wendi.
Setelah memaparkan beberapa contoh kekeliruan penggunaan bahasa (baca: istilah) Wendi lalu menerangkan bahwa kekeliruan ini pun terjadi pada istilah “Islam”. Islam yang kita pahami sebagai agama yang Allah turunkan melalui Muhammad saw. kini coba direduksi maknanya menjadi “penyerahan diri” semata. Padahal tak setiap yang menyerahkan diri itu Islam.
Spiritualisme dan Pengalaman Traumatik Barat[4]
Pemikiran keagamaan Barat masa kini oleh Wendi dibagi menjadi dua. Pertama, keyakinan bahwa suatu saat akan terjadi di mana akibat intensitas interaksi antar manusia yang begitu masif akan membuat pemahaman manusia akan keagamaan sama. Inilah yang disebut dengan Kesatuan Transendens Agama-agama (Global Theology) yang diusung salah satunya oleh John Hick.[5] Sementara yang ke-dua, intensitas interaksi manusia yang semakin masif justru akan membuat manusia berkesimpulan bahwa agama tidak lagi diperlukan sebab semua rahasia sains sudah terungkap. Hal ini diungkapkan oleh Auguste Comte. Meski lain, kedua pemikiran ini lahir dari rahim yang sama, yaitu perjalanan sejarah Kristen yang traumatik.
Doktrin Kristen pada masa lalu sangat membatasi peranan akal. Dalam teologi kristen hidup adalah hukuman. Adam telah bersalah, dan diturunkannya ia ke bumi adalah hukuman. Bagi mereka dunia adalah kelam. Tidak ada gunanya bagi mereka mengetahui apa itu dunia. Maka Kristen pernah melarikan diri dari kehidupan dunia. Maka pada masa yang disebut sebagai "the dark age" itu pengetahuan tentang alam samasekali tidak berkembang di Barat.
Wendi lalu menggambarkan bagaimana tindakan mahkamah inquisi Spanyol sebagai tangan Tuhan mengebiri kerja akal manusia dengan memberi penyiksaan yang luar biasa terhadap apapun yang berpotensi menggugat otoritas Gereja. Penyiksaan yang Wendi sebut ‘kreatif’ ini pun tejadi pada para beberapa ilmuwan yang mencoba mengungkap teori hasil penelitiannya namun bertentangan dengan otoritas gereja. Hal ini juga tak lepas dari persoalan teologi dalam Kristen memang tidak jelas (problematik). Maka pengalaman traumatik ini membuat Barat menyingkirkan agamanya dari kehidupan.
Sementara di Barat demikian, di belahan dunia bagian Timur pengetahuan tentang alam sedang berkembang begitu pesatnya. Hal yang tiada lain berangkat dari konsepsi Islam dalam memandang alam (kawn). Ayat-ayat al-Quran sendiri banyak memerintahkan untuk mencari tahu apa itu alam.
Ada sebuah ungkapan bahwa ilmu pengetahuan Islam maju karena agama, sementara ilmu pengetahuan Kristen maju karena menjauhi agama. Ini memang benar, kata Wendi. Kemajuan sains Barat berlatar belakang pengalaman traumatik tersebut kemudian membuat revolusi pada alam pikir Barat yang mengalihkan perhatiannya dari akhirat menuju dunia. Agama adalah perhatian kepada akhirat . Agama adalah dongengan dan takhayul. Maka ia pada akhirnya tersingkir atau disingkirkan dari kehidupan karena dianggap sebagai problem yang menghalangi kemajuan. Inilah yang dikenal dengan sekularisme.
Namun demikian keterpisahan Barat dari agama menimbulkan kekeringan spiritual yang mendalam. Mereka kemudian mencoba meraih kembali agama namun didekatkan dengan sains untuk menghilangkan takhayulnya, dicari-cari kejelasan rasionalnya untuk menjadi masuk akal.
Ia bernama spiritualisme. Spiritualisme adalah cara beragama yang tak menghiraukan Tuhan. Spiritualisme dan agama tentu berbeda. Malas dengan "Organized Religion" karena dianggap sebagai terlalu banyak mengatur, maka ia diganti dengan spiritualisme. Para penganutnya meyakini bahwa secara fisik dalam otak manusia terdapat yang disebut sebagai "godspot". Inilah perangkat tempat di mana keyakinan akan ketuhanan bekerja. Titik ini yang membuat manusia merasa relijius. Dengan inilah mereka mengklaim sebagai sudah berserah diri (Islam).
Padahal, menyinggung pertemuan sebelumnya terkait Konsep Tuhan yang disampaikan oleh Irfan Habibi Martanegara, kata Wendi, kita tak bisa berbicara agama tanpa berbicara tentang tuhan. Mengutip al-Attas seorang filsuf sekaligus mujaddid masa kini Wendi menjelaskan "Bagaimana mungkin kita berbicara agama tapi tidak berbicara tentang Tuhan?" Ini sama halnya dengan pernyataan "Bagaimana mungkin seseorang mengelusnya rambutnya sementara ia botak?" lanjutnya.
Intensitas interaksi manusia yang semakin masif yang meniscayakan pemikiran tertentu berlalulalang secara bebas ini pada akhirnya singgah dan mengendap juga dalam pemikiran sebagian muslim. Mereka umumnya adalah yang kecewa dengan pengalaman keagamaannya. Mereka pun menjadi penentang paling keras terhadap Islam walau secara formal mengaku beragama Islam.
Maka sejalan dengan yang terjadi di Barat, di Indonesia pun paham spiritualisme ini mengemuka. Ia disajikan dalam berbagai seminar bertema kecerdasan spiritual. Spiritualisme menjadi dagangan yang laku sebab mampu menarik simpati berbagai kalangan dengan berbagai latarbelakang agama dan keyakinan. Maka tak heran seminar ESQ bisa menjadi begitu laku dan Quantum Ikhlas Erbe Sentanu bisa menjadi sebuah buku bestseller. Mencampuradukkan berbagai keyakinan keagamaan sebagai materinya, spiritualisme juga menjadi akar dari penyamaan semua agama (pluralisme), sebuah persoalan akidah masa kini.
Agama dalam Pandangan Islam
Kekeliruan pemaknaan Islam yang sedemikian genting tentu perlu diakomodasi, tutur Wendi. Tradisi keilmuan Islam yang mengagumkan –atas dasar agama ini—menghendaki perkembangan pengetahuan yang juga begitu mengagumkan dalam hal bahasa, selain sains dan teknologi. Para Ulama ilmuwan muslim sejak dulu telah mengodifikasi konsep-konsep kunci Islam dalam berjilid-jilid kitab untuk menjaga keutuhan maknanya. Maka dalam hal ini sangat perlu merujuk kepada literatur otoritatif tersebut untuk mengembalikan kemurnian makna-makna pada tempatnya, termasuk dalam memaknai Islam.
Konsep diin Islam yang akan coba menjawab persoalan ini merujuk kepada konsep yang diterangkan Prof. Al-Attas dalam bukunya Islam dan Sekularisme –sebuah karya yang Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud sebut sebagai bersifat kulli. Ia merupakan konsep yang dinilai baru sebab pemaparan konsep yang seperti ini memang ‘lain’–walau sesungguhnya jika dilihat pada literatur ulama muktabar lainnya akan dapat ditemukan benang merah konsep tersebut. Konsep diin yang tegas akan mampu menghalau kekeliruan yang coba mencampuri konsepsi Islam yang sesungguhnya, bahwa tidaklah benar Islam berarti berserah diri dan berserah diri adalah Islam sehingga siapapun yang berserah diri menjadi layak dikatakan Muslim.
Saking pentingnya materi tentang konsep Diin ini, kata Wendi, "The Religion of Islam" menjadi mata kuliah tersendiri di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization)[6] yang wajib diikuti mahasiswa dari berbagai konsentrasi studi.
Prof. Al-Attas dalam menuangkan konsepnya ini merujuk pada definisi yang diberikan Ibnul Manzhur dalam Lisaanu l-'Arab –sebuah kamus leksikon bahasa Arab klasik yang disusun sekitar abad ke 7-8 H.[7] Lebih lanjut Wendi memaparkan bahwa Diin secara etimologis berasal dari kata daana (dyn).[8] Daana ini memiliki berbagai makna. Salah satu di antara maknanya adalah keberhutangan. Hutang ini sebagai modal perniagaan yang dipinjamkan Allah swt. kepada manusia. إن الإنسان لفي خسر (Q.S. al-‘Ashr [103]: 2). Modal yang dipinjamkan itu adalah kehidupan manusia sendiri. Maka segala yang dimiliki manusia bukanlah miliknya.
Modal ini semakin lama akan semakin menyusut nilainya dan tentu semuaya akan berujung pada kemusnahan. Maka, agar manusia tidak merugi keberhutangan ini harus disadari sebagai tidak mungkin terbayar kecuali dengan kewujudannya sendiri di bumi, yakni dengan beribadah dan beramal shaleh. Pengembalian (pembayaran hutang) ini lanjut Wendi ibarat hujan yang dikembalikan ke langit. Hal ini merujuk pada firman Allah: و السماء ذات الرجع (ar-raj') (Q.S. ath-Thariq [86]: 11). Ar-raj' dimaknai para ulama sebagai hujan, sebab air hujan itu senantiasa akan kembali naik ke atas. Air hujan yang naik kemudian akan turun sebagai berkah. Siklus yang sama terjadi pada manusia jika mereka mengembalikan hutangnya. Ia pun akan mendapat berkah.
Dalam setiap pengembalian hutang atau modal pinjaman biasanya seseorang akan mendapat laba. Maka diin adalah perniagaan dengan Allah. Laba dalam perniagaan dengan Allah berarti pahala/balasan sebagaimana firmanNya dalam Q.S. as-Shaf [61]: 10: "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?" dan Q.S. Fathir [35]: 29: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,"
Diin yang kedua bermakna kekuasaan Hukum. "Permberi hutang akan dapat menguasai orang lain dengan memberinya hutang." kata Wendi. Maka ketika seseroang dihutangi, ia akan melakukan apapun untuk yang memberinya hutang. Artinya karunia Allah swt. terhadap manusia memberiNya kekuasaan hukum atas manusia sehingga manusia menghamba kepadaNya. Di sini ada pengakuan manusia atas otoritas Allah. Otoritas yang menyebabkan kekuasaan, penghakiman, dan pengadilan oleh Allah swt. atas manusia sebagaimana bunyi Q.S. al-A’raf [7]: 172 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",”
Makna lain Diin yang ketiga adalah penyerahan diri. Ini dari sisi manusia. Manusia telah dibebani/memiliki kewajiban (dayn) karena diberi kehidupan sebagai hutang, maka ia berserah diri dan taat terhadap pemberi hutang (Allah). Namun penyerahan diri ini dilakukan secara sadar bukan terpaksa (bukan takluk/pemaksaan diri), ia melibatkan komponen hati, lisan, dan perbuatan. Hal ini sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. an-Nisa [4]: 125 bahwa berislam yang terbaik adalah berserah diri secara sukarela, "Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya."
Terakhir, Diin berarti kecenderungan alamiah (fitrah). Ketaatan manusia pada Allah swt. adalah suatu kecenderungan alamiah, sebab memang itulah tujuan penciptaannya (eksistensinya). “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” terang Allah swt. dalam Q.S. adz-Dzariyat [51]: 56. Maka kezhaliman/kekacauan berarti sesuatu yang telah bergeser dari tempat yang semestinya. Ini keadaan yang melenceng dari fitrah. Maka jika fitrah/kecenderungan ini ditaati sebaliknya akan timbul keadilan, keharmonisan, keselarasan, kesejahteraan, dan keselamatan dalam kehidupan manusia.
Keempat makna ini (Keberhutangan => kekuasaan hukum => penyerahan diri => kecenderungan alamiah) berada dalam satu medan semantik yang membentuk konsep yang ajeg dalam "Diinul Islam". Dengan demikan makna ini tak lagi dapat diubah dan dimaknai dengan pelbagai makna yang sembarang. Begitulah kesimpulan Wendi menutup kuliahnya.
Bandung, 27 November 2013_
=========================
[1] Tulisan ini berdasarkan catatan kuliah Pandangan Alam Islam #3 pertemuan ke-3 PIMPIN pada sabtu, 19 Muharram 1435 H (23/11/13) di ruang Lab Fisika lantai 2 Kampus Unikom Jl. Dipatiukur 112-114 Bandung.
[2] Mahasiswi Jurusan Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, aktif di Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Islam (PIMPIN) Bandung.
[3] Gagasan Prof. Al-Attas terkait bahasa salah satunya dapat dibaca dalam karya beliau berjudul “The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education” atau terjemahan dalam Bahasa Indonesia berjudul: “Konsep Pendidikan dalam Islam: Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam” oleh Haidar Bagir, diterbitkan Mizan pada Sya’ban 1407 H/April 1987 EB.
[4] Lebih lanjut tentang pengalaman traumatik keagamaan di Barat ini dapat ditemukan dalam karya Prof. Al-Attas berjudul “Islam and Secularism” atau terjemahan dalam bahasa Indonesia berjudul “Islam dan Sekularisme” yang diterjemah dan diterbitkan PIMPIN Bandung pada tahun 2010 M. Atau juga dapat dibaca dalam “Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal” karya Dr. Adian Husaini, (Jakarta: Gema Insani, 2005 EB).
[5] Kajian terhadap konsep ini dapat juga dibaca dalam buku yang baru saja diterbitkan Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) berjudul “Pluralisme Agama: Telaah Kritis Cendekiawan Muslim”.
[6] Sebuah fakultas pemikiran dan peradaban Islam di International Islamic University of Malaysia (IIUM) yang direkabangun oleh Al-Attas sendiri untuk mewujudkan gagasan Islamisasi-nya.
[7] Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan dalam Islam, (Bandung: Mizan, 1407 H/1987 EB), hlm. 18.
[8] Konsep Diin ini secara khusus dan komprehensif dapat dibaca pada sub judul III "Islam: Faham Agama dan Asas Akhlaq" dalam Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, Islam dan Sekularisme, (Bandung: PIMPIN, 2010 EB), hlm. 65-120.
kategori tulisan:
'Aqidah Crisis,
Bahasa,
esai,
Indepth reporting,
Islamisasi,
laporan,
linguistic,
PIMPIN
Sunday, December 1, 2013
Media Krabby
Beberapa hari yang lalu tak sengaja saya nonton Spongebob Squarepants. Tayangan ini walau konyol, saya akui tiap episodenya seru. Tetap menarik walau udah nonton berkali-kali.
Sebagaimana biasa, Mr. Crab matanya beruang-uang yang berbinar kalau melihat peluang bisnis yang menjanjikan keuntungan berlipat-lipat. Imajinasinya tentang keuntungan tersebut selalu susunan uang yang rapi memenuhi ruangannya. Ia lalu duduk di atas singgasana yang terbuat dari susunan uang hijau berlogo kerang itu.
Sebagaimana biasa, Mr. Crab matanya beruang-uang yang berbinar kalau melihat peluang bisnis yang menjanjikan keuntungan berlipat-lipat. Imajinasinya tentang keuntungan tersebut selalu susunan uang yang rapi memenuhi ruangannya. Ia lalu duduk di atas singgasana yang terbuat dari susunan uang hijau berlogo kerang itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
biarkan terbang
Rabbiy, izinkanlah energi positifMu senantiasa mengalir bersama tiap-tiap sel darah merah dalam tubuhku, melewati setiap milinya sehingga energi itu akan senantiasa mengiringi setiap hela nafas serta serat-serat otot kakiku untuk berlari kencang kemudian terbang mencari cintaMu,,,,

